
Geriatri.id—Di tengah pandemi COVID19, muncul berbagai gerakan postitif dan inspiratif.
Di Inggris, sebuah panti wreda meluncurkan program adopsi warga lanjut usia secara daring alias online.
Gerakan yang sama digagas sejumlah pemuda di Bolivia yang mengangkat lansia menjadi oma-opanya.
Program adopsi mulai digagas Oktober 2019, sebelum pandemi COVID19 oleh panti wreda di Inggris CHD Living.
Program ini digagas agar masyarakat, khususnya yang masih muda, dapat berkunjung ke panti wreda dan bersosialisasi dengan oma dan opa.
CHD Living mengelola 13 panti wreda di Inggris. Awalnya hanya 130 orang muda yang mendaftar sebagai relawan.
"Saya ingin orang lain belajar dari orang tua karena mereka memiliki banyak hal untuk dibagikan dan begitu banyak pengalaman hidup," kata Shaleeza Hasham, kepala komunikasi CHD Living dilansir goodmorningamerica.
Ketika pandemi COVID19, CHD Living mengembangkan program adposi lansia ke seluruh dunia melalui daring. Semua orang di seluruh dunia dapat menjadi “orang tua” lansia dengan mendaftarkan program Adopt a Grandparent. (Bagi yang berminat bisa KLIK di sini).
Program adopsi lansia online itu diserbu sampai 67 ribu relawan di seluruh dunia. Relawan pun harus melalui daftar tunggu untuk menjadi pengadopsi.
Relawan yang terdaftar dapat berkomunikasi melalui berbagai perangkat seperti facebook, zoom atau panggilan video Whatsapp.
CHD Living tetap memberikan pendampingan ketika pengadopsi berkomunikasi dengan lansia.
Tak hanya itu, relawan pun dapat mengirimi lansia kartu, surat, atau bunga.
Hasham mendorong semua orang di seluruh dunia untuk memperhatikan orang yang lebih tua yang mungkin terisolasi di fasilitas perawatan karena COVID-19.
“Program ini menggambarkan bagaimana masyarakat dunia lintas generasi memberikan dukungan, persahabatan, dan membangun hubungan,” kata Hasham.
Program adopsi lansia itu juga digagas sejumlah anak muda di Bolivia.
Sergio Royela dan 20 pemuda di Bolivia membuat program adopsi, Adopt a Grandparent.
"Jadi, saya mencari tetangga untuk membantu saya dan saya melakukan hal yang sama di kondominium saya dan mengadopsi kakek lain," kata Royuela dikutip AP.
Ide awal pembentukannya berasal dari kondisi lansia yang kesulitan untuk berbelanja kebutuhan dasar dan tidak memiliki anggota keluarga yang berada di dekat mereka.
Padahal, lansia merupakan kelompok rentan terhadap penularan virus korona yang telah menemukan 3.826 infeksi positf dan 165 kematian di negara itu.
Royuela mengadopsi Oscar Gemio yang berusia 97 tahun dan Inés Urrelo yang berusia 62 tahun.
Ia mengantarkan makanan dan mencoba menghibur kedua lansia yang tinggal di tenda darurat di daerah hutan kecil La Paz setelah kehilangan rumah karena tanah longsor tahun lalu.
Royuela memberikan pemahaman mengenai pandemi, tindakan pencegahan, termasuk menjaga jarak yang aman dari orang lain.
Gerakan itu pun menyebar semakin luas. Bagi sebagian orang, pekerjaan sukarela tak hanya memberikan makanan untuk lansia, tetapi membantu mereka menghadapi birokrasi.
Sekitar satu juta orang Bolivia atau hampir 10 persen dari populasi, adalah lansia.
Pemerintah telah mengatur paket bantuan untuk para lansia, tetapi banyak orang miskin Bolivia tidak dapat mengambilnya karena berbagai alasan, misalnya kartu indentitas.
Kesulitan mendapat kartu identitas itu dialami seorang lansia Dominga Aduviri.
Ia kemudian dibantu Wilmer Gutiérrez, 31 tahun, seorang arsitek, yang bergabung dengan gerakan Adopt a Grandparent.***(ymr)
*Foto Instagram CHD Linving
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri