
Geriatri.id - Masa pandemi Covid-19 dimana masyarakat harus melakukan pembatasan fisik dan sosial, akan menjadi hal berat, khususnya bagi para lansia.
Kondisi ini diperkirakan akan masih terus berlangsung hingga masa pasca pandemi, dimana kehidupan tidak akan berjalan 100 persen normal seperti sebelumnya.
"New Normal". Begitu orang menyebut kehidupan pasca pandemi.
Hal yang sama juga akan terjadi pada diri seseorang di masa-masa "New Normal" tersebut.
Coach Rully Mujahid, praktisi life coach dan talents mapping, mengatakan, orang-orang yang hidup dan beradaptasi dengan "New Normal" juga akan mengembangkan diri yang baru "New Me".
"New Me itu apa? Saya yang baru, perilaku, gaya, penampilan," ujarnya dalam webinar 'Self Talk Ramadhan' yang dihelat komunitas Coaching Secangkir Kopi, Jumat (15/5).
Masyarakat umum, atau lansia, akan 'dipaksa' untuk menjalani cara hidup yang baru, menetapkan tujuan-tujuan baru dalam hidup yang sama sekali berubah selama masa dan sesudah masa pandemi.
"New Me ini terbentuk karena adanya wabah pandemi. Mau nggak mau kita dipaksa untuk berubah. Sebenarnya sudah jalurnya untuk kita lebih baik lagi. Tetapi masa ini adalah masa pemaksaan untuk kita lebih kreatif lagi, lebih sehat, lebih hebat," jelasnya.
Dalam new normal, kehidupan akan berjalan biasa namun dengan tetap menjalankan protokol kesehatan mencegah pandemi berlanjut.
Penggunaan teknologi akan semakin masif, dan manusia semakin dituntut kreatif memenuhi kebutuhan hidup tanpa mengorbankan kesehatan.
Dalam kondisi ini, kata Rully, masyarakat, termasuk para lansia, akan dipaksa berpikir ulang dengan hidupnya.
Banyak yang akan berubah, seperti misalnya, bagi seorang pelatih, bagaimana tetap bisa menjalankan profesinya dengan tetap menjaga jarak fisik.
Demikian pula jika lansia yang ingin berobat tanpa harus ke rumah sakit sehingga tidak rentan terpapar penyakit.
Hal-hal semacam ini rentan menimbulkan stres bagi mereka yang tidak mampu beradaptasi dengan kehidupan "New Normal".
Di sini, kita butuh self awareness atau kesadaran diri.
"Bagaimana kita mau berubah kalau kita nggak tahu mana yang diubah?" ujarnya. Bagaimana untuk bisa beradaptasi dengan "New Normal" dengan menjadi diri yang baru atau "New Me"? Rully mengatakan, kuncinya ada pada kesimbangan mind, body and soul. "Ketika menyadari kita ada di fase apa sekarang, kita bisa menyeimbangkan mind, body dan soul-nya kita," tegas coach yang dapat dihubungi di IG-nya @rullymujahid itu.
"Dengan latihan yang kita lakukan sedikit demi sedikit, itu akhirnya akan menjadi habit akhirnya kan. Dan habit ini yang akhirnya akan dilihat orang lain untuk dinilai. Entah perilaku, cara berpikir, itu yang membuat kita jadi 'New Me," tambah Rully.
Yang perlu kita perhatikan, pada 'kita yang baru', adalah kita perlu tahu kekuatan kita ada dimana, keterbatasan kita dimana.
"Kita harus tahu apalagi sih yang masih bisa kita kembangkan dari dalam diri kita. Ini terkait bagaimana kita melatih skill dan knowledge kita," ujarnya.
Dalam masa "New Normal", pribadi yang baru atau "New Me" harus mampu memaksimalkan kekuatan dan menyiasati keterbatasan.
"Kita menggali kekuatan kita, kita mensiasati keterbatasan kita. Ketika kita bisa me-manage kekuatan kita, untuk mensiasati keterbatasan, dan juga untuk menguatkan diri kita lebih hebat lagi, itu akan menjadi 'New Me' yang sebenarnya," ujarnya.
Cara paling sederhana mengetahui kekuatan diri adalah mendeteksi bakat.
"Kita bisa menggunakan talents mapping. Dari ribuan bakat, di talents mapping diklasifikasi jadi 34 bakat. Sederhana sekali, tapi sangat powerful. Intinya kita memetakan kekuatan kita dimana, karena saat kita mengisi, kita melakukan self awareness terhadap diri kita," tegasnya.***(mag)
Ilustrasi new normal (pixnio)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri