
Geriatri.id - Masa pandemi Covid-19 seperti saat ini memang berpotensi menjadi masa-masa yang stresfull bagi banyak orang. Tak hanya orang muda, lansia juga berpotensi menjadi stres dalam menghadapi situasi yang serba tidak pasti dan juga dibayangi ketakutan akan adanya penularan penyakit.
Nah, seberapa lama orang mampu bertahan di masa pandemi tanpa mengalami stres?
Psikolog Klinis Dr. Rena Latifa mengatakan, dalam menjawab pertanyaan ini, dalam ilmu psikologi ada yang dinamakan individual difference dan rule of thumb, atau penghitungan rerata orang bisa kuat berapa bulan dalam menghadapi situasi penuh stres tanpa terdampak.
"Kita sebagai psikolog tetap berorientasi pada individual differences. Kita tidak dianjurkan untuk percaya pada rerata," ujarnya, dalam webinar bertajuk 'Agama, Pandemi Covid dan Psikologi Ketidakpastian', yang diselenggarakan LPPM UIN Jakarta, Senin (11/5).
Misalnya, wajarnya dalam dua bulan orang mulai stres. Karena ada eksperimen, orang dieksperimenkan dalam satu laboratorium tidak ada orang lain, dan kondisi sendirian itu memunculkan gangguan perilaku, sehingga hasilnya bisa disimpulkan orang tidak bisa sendirian, dan membutuhkan interaksi.
Namun, kondisi ini tidak bisa serta merta menjadi ukuran berapa lama orang bertahan tidak mengalami stres pada masa pandemi, karena ada perbedaan antara kondisi di laboratorium dengan kondisi riil.
"Kalau pandemi ini kan kita masih bisa tatap muka online, hal tersebut sebenarnya masih membuat kita agak waras dibanding orang yang dieksperimenkan di laboratorium bahwa dia tidak bertemu sama sekali," jelas Rena.
"Tetapi karena kebutuhan manusia modern bukan hanya bertemu orang, tapi juga gaya hidup, misalnya ke mall, mall kan alternatif release stress. Sebenarnya yang terjadi adalah kehilangan alternatif untuk merilis stres," tambahnya.
Sehingga jika pertanyaannya, pertanyaan berapa lama, maka sangat tergantung individunya.
"Ada yang tiga minggu kolaps, karena dia udah ada bawaan, misal gangguan cemas atau gangguan psikologis tertentu. Ada tiga bulan asyik-asyik saja, bisa cari solusi dari semua keadaan," ujarnya.
Namun, jika memakai ukuran rerata, Rena mengatakan, memang umumnya dua bulan sudah maksimal, sehingga setelah itu orang akan mencari jalan melepas stresnya.
"Dua bulan masih bisa online, chatting, ketemu tetangga. Kenyataannya di jalan udah banyak orang keluar ke jalan raya, seolah ngga ada PSBB. Beda waktu baru sebulan orang cenderung sepi, mungkin sudah kondisi dimana orang menemukan titik jenuh," jelasnya.***(mag)
foto: ilustrasi stres (pixabay)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri