
Geriatri.id - Pandemi, seperti pandemi Covid-19 memang merupakan suatu kondisi yang tidak biasa. Kondisi seperti ini bisa menghadirkan beban pikiran yang bisa menyebabkan pikiran negatif bertambah, seperti menambah beban perasaan cemas, takut, dan memunculkan perilaku tidak biasa seperti memborong bahan makanan secara berlebihan.
"Kenapa? Karena ketidakpastian di pandemi ini terpampang nyata, riil di depan mata. Riilnya terkait jumlah pasien covid yang terus bertambah, PHK meningkat, membuat perasaan insecure meningkat," kata Psikolog Klinis Dr. Rena Latifa, dalam webinar bertajuk 'Agama, Pandemi Covid dan Psikologi Ketidakpastian', yang diselenggarakan LPPM UIN Jakarta, Senin (11/5).
Dalam kondisi seperti ini, kata Rena, orang berusaha melawan kondisi ketidakpastian. "Pada dasarnya untuk melawan kondisi tidak nyaman dalam dirinya dia, membuat dia survive," jelasnya.
Salah satunya adalah dengan meningkatkan religiusitas dalam diri. "Terkait religiusitas, kita menghadapi atau mengelola ketidakpastian ini dengan religiusitas. Beberapa penelitian menunjukkan, orang menjadi religius saat dihadapkan dalam kondisi penuh ancaman, dan kondisi ketidak pastian," ujar Rena.
Dia merujuk pemberitaan di TIME Magazine, yang mengabarkan, kondisi pandemi memberikan efek pada kondisi beragama seseorang. Keterlibatan perilaku beribadah menjadi tidak ada sama sekali atau berkurang, tapi aspek kesadaran sosial meningkat, dimana orang saling membantu. "Di bawah masjid atau gereja-gereja mereka mengelola hal ini dalam bentuk kesadaran sosial," ujar Rena.
Dia menambahkan, beberapa riset terkait juga menunjukkan bagaimana religius itu membuat orang menjadi punya keyakinan untuk menjalani kehidupannya, menjadi lebih optimis. "Ada yang mendukung pendapat kepercayaan kita kepada agama, praktik yang kita lakukan, membuat kita bisa menghadapi ketidakpastian," kata Rena.
Bahkan dalam riset terminal atau chronic illness, diungkapkan, agama membuat individu lebih bisa menghadapi penyakitnya. Dalam penelitian itu pasien ditemukan memiliki harapan yang lebih untuk bisa sembuh dan lebih bahagia. "Dia lebih terlihat rela, ikhlas pasrah akan akhir hidupnya," jelas Rena.
Dari beberapa riset terkait religious belief atau keyakinan agama itu, dapat disimpulkan, apabila individu yakin akan adanya sosok yang 'Maha Kuasa' dia lebih percaya diri untuk menghadapi hambatan hidupnya. "Karena manusia lemah, dia butuh sosok yang bisa menguatkan. Dengan ajaran agama, ibadah, praktik ibadah membuat individu lebih percaya diri," ujar Rena.
Dalam konteks ini, peran sosial dari fungsi agama seperti pengajian, ibadah yang diikuti, berfungsi untuk membagikan keyakinan untuk saling menguatkan. "bila dihadapi dengan pasrah, ikhlas, saling berbagi keyakinan membuat individu bisa menghadapi hambatan dalam hidup," tegas Rena.
Sebaliknya, kata Rena, dari beberapa penelitian mengungkapkan keraguan kita terhadap agama, semakin meningkatkan psychological distress. Akibanya, well being kita cenderung lebih menurun. "Ketika banyak keraguan yang dipikirkan, lebih tepatnya belum menemukan 'guru' yang bisa memuaskan rasa pikir tentang pertanyaan agama, cenderung membuat orang mengalami kecemasan, jadi lebih tidak pasti lagi," pungkasnya. (mag)
foto: ilustrasi berdoa (pxhere)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri