
Geriatri.id - Inter-Agency Standing Committee (IASC) atau forum antar-lembaga mitra kemanusiaan PBB, mengeluarkan panduan Aspek Kesehatan Jiwa dan Psikososial Wabah Covid-19.
Salah satu aspek yang ditekankan adalah panduan penanganan untuk menjaga kesehatan mental lansia selama masa pandemi Covid-19. Panduan ini menjadi penting mengingat, dalam kondisi wabah apa pun, wajar jika orang merasa tertekan dan khawatir.
Respons umum dari orang-orang yang terdampak (baik secara langsung atau tidak) antara lain adalah takut jatuh sakit dan meninggal, tidak mau datang ke fasilitas layanan kesehatan karena takut tertular saat dirawat, atau takut kehilangan mata pencaharian/tidak dapat bekerja selama isolasi.
Kemudian ada juga perasaan takut diasingkan masyarakat/dikarantina karena dikait-kaitkan dengan penyakit, merasa tidak berdaya untuk melindungi orang-orang terkasih dan takut kehilangan orang-orang terkasih karena virus yang menyebar.
Dalam kondisi ini, lansia bukan hanya merupakan kelompok yang rentan terhadap penularan Covid-19 itu sendiri, tetapi juga dampak kesehatan mental dan psikososial.
Berikut adalah beberapa panduan menjaga kesehatan mental lansia selama pandemi Covid-19 yang disusun IASC:
1. Bagi Lansia yang Menjalani Isolasi
Warga lansia, terutama yang di isolasi dan yang mengalami penurunan kognitif/demensia bisa semakin resah, marah, tertekan, gelisah, tertutup, terlalu curiga selama wabah/berada di karantina.
Beri dukungan emosional melalui jaringan informal (keluarga) dan tenaga kesehatan jiwa.
Sampaikan fakta-fakta sederhana tentang yang sedang terjadi dan informasi yang jelas tentang cara mengurangi risiko infeksi dengan bahasa yang dapat dimengerti lansia dengan/tanpa gangguan kognitif. Sampaikan ulang jika perlu.
Saran-saran berikut berlaku secara umum untuk warga lansia di tengah masyarakat:
a. Untuk warga lansia di panti seperti di panti werdha, petugas administrasi dan staf perlu memastikan adanya langkah-langkah keamanan guna mencegah infeksi satu sama lain dan merebaknya kekhawatiran atau panik yang berlebihan (seperti di rumah sakit).
Dukungan juga perlu diberikan bagi staf layanan yang terkarantina dalam waktu yang lama bersama warga dan tidak dapat berkumpul dengan keluarga.
b. Warga lansia lebih rentan terhadap COVID-19 karena sumber informasi yang terbatas, sistem imun yang lebih lemah, dan tingkat kematian COVID-19 yang lebih tinggi di antara kelompok usia lanjut.
Beri kelompok-kelompok rentan perhatian lebih, seperti lansia yang hidup sendiri/tanpa keluarga dekat; dari status sosio-ekonomi rendah dan/atau penyandang penyakit lainnya seperti penurunan kognitif/demensia atau kondisi kesehatan jiwa lainnya.
Lansia dengan gangguan kognitif ringan atau demensia stadium awal perlu diberi tahu apa yang terjadi sesuai kapasitasnya dan didukung untuk meringankan kekhawatiran dan tekanan. Kebutuhan medis dan keseharian penyandang demensia sedang dan berat perlu dipenuhi selama karantina.
c. Kebutuhan medis lansia dengan/tanpa COVID-19 perlu dipenuhi selama wabah, termasuk akses obat-obatan penting (diabetes, kanker, sakit ginjal, HIV) yang tidak terputus. Layanan medis telemedicine atau online dapat digunakan untuk memberikan layanan medis.
d. Lansia terisolasi atau terinfeksi harus diberikan informasi yang benar tentang faktor-faktor risiko dan kemungkinan kesembuhan selama karantina, sesuaikan layanan rumah perawatan (respite care service) atau perawatan di rumah agar menggunakan teknologi (WeChat, WhatsApp, dll) untuk memberikan pelatihan/konseling bagi pelaku rawat keluarga di rumah, termasuk pertolongan pertama psikologis.
2. Akses warga lansia pada aplikasi perpesanan mungkin terbatas.
a. Beri lansia informasi akurat yang mudah dipahami dan fakta tentang wabah, perkembangan, pengobatan, dan strategi efektif mencegah infeksi COVID-19.
b. Informasi harus mudah diakses (bahasa jelas dan sederhana, huruf berukuran besar) dan dari sumber (media) terpercaya (media masal, media sosial dan tenaga kesehatan terpercaya) untuk mencegah perilaku tidak rasional seperti menimbun jamu yang tidak efektif.
c. Cara terbaik menghubungi warga lansia adalah melalui telepon rumah atau kunjungan berkala (jika mungkin). Dorong keluarga atau teman untuk menelpon anggota keluarganya yang lansia dan ajari lansia menggunakan panggilan video.
3. Lansia mungkin tidak akrab dengan penggunaan alat perlindungan atau metode pencegahan atau menolaknya. Panduan penggunaan alat perlindungan perlu disampaikan secara jelas padat, sopan dan sabar.
4. Lansia mungkin tidak tahu cara menggunakan layanan daring seperti belanja daring untuk persediaan sehari-hari, konsultasi/bantuan, atau layanan kesehatan.
Berikan petunjuk terperinci cara mendapatkan bantuan praktis jika perlu, seperti memanggil taksi, atau pengantaran persediaan.
Distribusi barang dan jasa seperti perlengkapan pencegahan penularan (seperti masker, disinfektan), bahan belanjaan yang cukup, dan akses transportasi kedaruratan dapat mengurangi keresahan sehari-hari.
5. Beri lansia latihan fisik sederhana di rumah/dalam karantina agar tetap aktif bergerak dan mengurangi kebosanan.
6. Semangati lansia yang memiliki keahlian, pengalaman dan kekuatan untuk menjadi sukarelawan dalam upaya masyarakat menanggapi wabah COVID-10.
Lansia dapat memberikan dukungan, memantau lingkungan, dan menjaga anak-anak untuk petugas yang harus berada di rumah sakit untuk melawan COVID-19.***(mag)
Foto: ilustrasi kesehatan mental (pexels)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri