Broken Heart? Lansia Juga Bisa Patah Hati Lho


Berita Lansia - Lansia juga bisa mengalami patah hati alias broken heart

2020-05-08 15:56:47

Geriatri.id - Broken heart? Patah hati? Ambyar? Tanyakan pada Sang Lord of Ambyar Didi Kempot bagaimana rasanya? Karena beliau baru saja tindak ke haribaan-Nya, maka kita bisa berkaca pada lagu-lagu karya sang maestro. Salah satunya "Loro Atiku".

Parlindungan Marpaung, psikolog, motivator, dan penulis buku best seller 'Setengah Isi Setengah Kosong' mengatakan, broken heart atau patah hati bisa digambarkan sebagai sebuah perasaan, seperti patah berkeping-keping.

Umumnya, patah hati atau broken heart, selalu ditautkan dengan masa remaja atau masa muda.

"Ketika seseorang berpacaran, memadu kasih, kemudian putus, terjadilah broken heart," kata Parlin--panggilan akrabnya--dalam acara exclusive live ig @parlindungan_m, Kamis (7/5) kemarin.

Padahal, broken heart tidak melulu urusan anak muda. Lansia juga bisa mengalami patah hati alias broken heart. "Ketika terjadi kasus perceraian yang terjadi, terjadi namanya broken heart.

Orang tua yang sangat berharap supaya anak-anaknya bisa menghormati dia, menjalankan apa yang perlu dijalankan, mengalami sesuatu yang tidak baik dan mengecewakan orang tuanya, broken heart juga," jelasnya.

Nah, ketika patah hati, baik orang muda maupun lansia, memang harus ekstra waspada. Parlin mengatakan, broken heart bisa melahirkan kondisi-kondisi yang stres, depresi, dan melahirkan suatu frustrasi yang berlebihan.

"Sehingga juga melahirkan gangguan-gangguan psikosomatis, gangguan pencernaan, makan tidak enak, tidur terganggu, gatal-gatal di kulit, itu gangguan psikosomatis akibat broken heart," jelasnya.

Terlebih, di tengah pandemi Covid-19 ini, broken heart atau patah hati juga rentan terjadi pada lansia dan anak-anaknya. Kondisi yang tidak memungkinkan untuk mudik, misalnya bisa menjadi masalah.

"Di Idul Fitri saudara sudah pulang ke kampung halaman, sekarang anda tidak bisa pulang. Harapannya adalah dia bisa pulang, bertemu dengan orang tua di hari yang penting ini. Ternyata dia tidak bisa," ujar Parlin. 


Kondisi ini rentan melahirkan patah hati baik bagi anak yang tidak bisa pulang ataupun orang tua yang tidak bisa bertemu anaknya.

"Jadi satu contoh yang paling sering terjadi saat ini adalah kita punya harapan ingin mudik, ingin berlibur tapi tidak bisa kita lakukan. Itu adalah satu masalah," katanya.

Namun, menurut Parlin, poin pentingnya bukanlah pada kondisi tak bisa mudik dan patah hati. "Poin pentingnya adalah apa yang harus kita lakukan supaya kita tetap tegar menghadapi masalah ini?" ujarnya.

Ketika kita mengalami broken heart, ada enam hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya. Pertama, kita terima kenyataan bukan hanya kita yang bermasalah, semua orang pun sedang mengalami masalah, khususnya terkait Covid-19 ini.

Kedua, kita mencari penyebab masalah itu apa, kalau perlu kita tuliskan. Ketiga, cari temanmu, cari teman dekatmu untuk curhat, berbagi perasaan. "Karena begitu curhat, bisa mengurangi bebanmu," jelas Parlin.

Keempat, catat dan syukuri kembali apa yang masih kita miliki. "Semua bisa habis, tapi kita bersyukur masih mempunyai keluarga, masih memiliki cinta dari sang Khalik," ujarnya.

Kelima, jangan diam diri, lakukan aktivitas, lakukan hobi, tetap bersemangat, tetap jalin relasi dengan teman-teman. 

Keenam tingkatkan doa-doa kita dengan lebih bagus supaya kita bisa dikuatkan. "Hari ini kita bicara broken heart karena suatu masalah, tetapi bukan masalahnya yang penting tapi berapa lama kita bangkit.

Ketika kita selesai dengan masalah ini kita disiapkan menghadapi masalah berikutnya sehingga kita akan terus meningkatkan kualitas mental kita sebagai manusia," pungkasnya.*** (mag)

foto: ilustrasi patah hati (piqsels)
 

lansia,lansia sehat,merawat lansia,geriatri,kesehatan mental lansia,broken heart,covid 19,lansia bahagia,lansia online,berita lansia

ARTIKEL LAINNYA

Ini Tips Saat Merawat Hipertensi di Rumah

Ajaklah Orangtua ‘Keliling Dunia'

Berkebun Yuk, Guna Usir Kejenuhan

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026