
Geriatri.id - Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mendatangkan alat rapid test untuk mendeteksi Covid-19 baru dari Korea Selatan. Alat rapid test tersebut, immunofloresensi Assay (IFA), dipercaya memiliki akurasi hampir mendekati tes PCR (polymerase chain reaction), perangkat tes yang digunakan untuk mendiagnosis penyakit Covid-19, yaitu dengan mendeteksi material genetik virus Corona.
Sejumlah 12 unit alat tes tersebut sudah didatangkan dan dua unit di antaranya digunakan di Samarinda, Ibu Kota Kalimantan Timur. Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Samarinda dr Osa Rafshodia, MscIH, MPH, DTM&H mengatakan, alat tersebut sudah dipakai melakukan tes untuk 275 kasus dari seluruh warga dari berbagai elemen dan seluruh hasilnya negatif.
"Samarinda secara total telah melakukan tes terhadap 1375 kasus, termasuk 275 yang melakukan alat terbaru, sampai sekarang belum ditemukan bukti ada transmisi lokal, bahkan kontak dari klaster terdahulu bahkan dari keluarga yang PDP belum ada yang tesnya positif," ujarnya, dalam konverensi pers secara daring, Selasa (4/5).
Rapid test ini penting dilakukan untuk mengimbangi tes PCR yang lebih akurat namun memakan waktu lama untuk mendeteksi ODP dan PDP. "PCR kita masih dikirim ke Surabaya, sehingga tes rapid ini sangat penting. Kami harus bisa menemukan klaster lokal yang masih terbentuk pada saat-saat awal, dengan tes ini hal ini dimungkinkan," jelas dr. Osa.
Dia mengatakan, tes ini lebih akurat dari rapid test biasa, karena tes menggunakan IFA membaca kadar IgM (Immunoglobulin M) yaitu antibodi yang terbentuk saat tubuh seseorang pertama kali terinfeksi oleh virus ataupun bakteri jenis baru. "Bukan sekadar positif negatif, tapi muncul angka besarannya. Dari sisi epidemiologi sangat penting. Jadi bisa melihat di daerah mana yang IgM nya tinggi, kemungkinan besar bisa melihat mana yang penyebarannya tinggi," jelasnya.
Meski hasil uji tetap harus dibuktikan dengan tes swab (PCR), namun dr. Osa menjelaskan, dari temuan di Dinas Kesehatan, rapid tes ini hasilnya mendekati tes PCR. "Ke depannya akan melakukan tes ini kepada petugas puskesmas secara serial, sehingga deteksi risiko pada rentang waktu tersebut sangat efisien untuk menganalisa risiko pada petugas kesehatan. Akan menyusun beberapa serial test sehingga dalam rentang waktu sebulan, risiko pada nakes (tenaga kesehatan-red) di puskesmas akan terpantau," ujarnya.
Terkait pandemi Covid-19, dr. Osa mengatakan, pihak tenaga kesehatan tidak bisa mencegah orang sakit. "Yang bisa dilakukan adalah mencegah orang sakit secara bersamaan karena fasilitas kesehatan terbatas. Social distancing penting supaya orang tidak sakit bersamaan dan mencegah orang menjadi sakit. Supaya masyarakat menjalani social-physical distancing dibantu oleh nakes dan oleh gugus tugas," jelasnya. (mag)
foto: virus corona (pixabay)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri