
Geriatri.id - Perkembangan dunia kesehatan telah membuat manusia sukses memperpanjang harapan hidupnya. Tak heran jika angka manusia lanjut usia semakin tinggi setiap tahunnya, di seluruh belahan dunia. Sayangnya, tak semua lansia itu beruntung tinggal bersama keluarga. Ada pula yang terpaksa tinggal dalam kesendirian atau memiliki akses sosial yang terbatas.
Kondisi ini membuat para lansia rentan menghadapi kesepian yang dapat membawa dampak serius bagi kesejahteraan fisik dan mental mereka. Terlebih di saat seperti ini dimana dunia juga tengah memerangi pandemi Covid-19 dan salah satu cara menghentikan penyebaran virus adalah dengan melakukan isolasi mandiri dan juga menjaga jarak fisik dan sosial.
Seperti dikutip dari www.nasdaq.com, pada masa seperti saat ini, isu terkait kesepian yang menghinggapi lansia pun merebak. Pertanyaannya, dapatkah teknologi membantu mengatasi masalah kesepian pada para lansia?
Secara global populasi lansia berusia di atas 65 tahun, di tahun 2019 mencapai 9 persen. Dan diperkirakan pada tahun 2050 jumlahnya meningkat hingga 16%. Situasi ini mungkin berbeda di setiap negara, dimana di negara seperti Jepang 20 persen penduduknya adalah mereka yang berusia di atas 65 tahun.
Sebuah penelitian mengungkapkan, 27 persen dari orang dewasa berusia 60 tahun ke atas tinggal sendirian. Sementara hasil riset yang sama juga mengungkapkan, 16 persen lansia di 130 negara lainnya hidup sendirian. Dari data ini terungkap, bahkan sebelum pandemi Covid, tingginya angka lansia yang tinggal sendiri yang mengalami kesepian sudah menjadi perhatian.
Terlebih di masa pandemi dimana keharusan melakukan isolasi demi menjaga kesehatan bisa berujung pada terjadinya depresi, kecemasan, penurunan daya pikir dan penyakit yang terkait dengan jantung. Berdasarkan sebuah riset, kurangnya interaksi sosial meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti merokok, atau gangguan konsumsi alkohol. Penelitian itu menyimpulkan kesepian dua kali lebih berbahaya terhadap kesehatan mental dan fisik ketimbang obesitas.
Lantas bagaimana teknologi bisa membantu mengatasi kesepian? Di satu sisi, teknologi tidak bisa menggantikan peran interaksi bagi manusia, tetapi teknologi mampu memberikan kenyamanan pada situasi dimana lansia tinggal sendirian. Teknologi bisa memberikan bantuan pengobatan dan juga hiburan.
Di AS, Catalia Health mengembangkan layanan perawatan lansia virtual dengan menggunakan robot Mabu yang bisa berinteraksi dengan pasien menggunakan kecerdasan buatan. Dia bisa berbicara dengan lansia yang dirawatnya. Demikian juga dengan sebuah robot bernama Dinsow yang dirancang untuk bisa menemani para lansia di Asia.
Sebuah pekerjaan tingkat tinggi tengah dilakukan di bidang robotika oleh perusahaan ternama seperti Panasonic, Softbank, serta startup seperti Robotika Akara. ATOUN, Inc., anak perusahaan dari Panasonic Corporation, telah mengembangkan robot berupa "pakaian bertenaga" dimana jika pakaian itu dipakai lansia, akan mampu membantu para lansia berjalan dengan mudah.
Akara telah mengembangkan Stevie—robot sosial yang dirancang untuk membantu menjaga lansia terhubung secara sosial, dan untuk mendukung pengasuh dalam pengiriman kegiatan kesehatan berbasis kelompok. Pada tahun 2019, Accenture dan Stockholm Exergi merilis sebuah proyek yang dijuluki Memory Lane, yang bekerja dengan Google Voice Assistant dan menggunakan percakapan dengan kecerdasan buatan yang unik yang memungkinkan orang lanjut usia untuk menangkap cerita yang tak terlupakan sambil memberikan perasaan persahabatan.
Swedia adalah salah satu negara paling kesepian di dunia dengan lebih dari 250.000 orang tua di Stockholm mengalami kesepian akut. Menurut NHS, lebih dari 2 juta orang di Inggris yang berusia di atas 75 hidup sendirian, dan lebih dari satu juta orang tua mengatakan mereka selama lebih dari sebulan hidup tanpa berbicara dengan teman, tetangga atau anggota keluarga.
Di sinilah "asisten suara" memiliki potensi besar. Efektivitas dan penerimaan bantuan virtual seperti ini telah dipelajari dalam kehidupan penduduk di Abbeyfield. Hasilnya sangat menggembirakan, dengan setiap warga yang terlibat dalam uji coba melaporkan bahwa mereka merasa tidak terlalu kesepian sejak mulai menggunakan teknologi ini.
Teknologi juga memegang peranan untuk menghubungkan orang-orang dengan komunitas yang lebih luas dan kegiatan-kegiatan yang berada di luar lingkaran reguler mereka. Sebuah laporan oleh IBM tentang kesepian pada orang dewasa berusia lanjut menguraikan peran teknologi utama dalam mendorong perubahan positif. IBM mengatakan: "Pandemi COVID-19 hanya meningkatkan kebutuhan akan teknologi sebagai bagian penting dari mekanisme dukungan". (mag)
foto: ilustrasi lansia kesepian (piqsels)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri