
Geriatri.id - Apa itu swab test? Apa itu rapid tetst? Mana yang bisa lebih dipercaya sebagai penentu positif-tidaknya seseorang terkana Covid-19? Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas sering muncul di masyarakat yang mulai peduli dan ingin menambah pengetahuan serta wawasan terkait pandemi Covid-19.
dr. Syahrizal, Sp.PD menjawab tuntas berbagai pertanyaan dari masyarakat awam tersebut dalam webinar bertajuk "Kupas Tuntas Covid-19" belum lama ini. Pertanyaan-pertanyaan seperti apa lagi yang sering muncul dari masyarakat seputar Covid-19? Berikut adalah jawabannya:
Sebenarnya rapid dan swab test itu seperti apa? Apakah perbedaannya?
Dalam rapid test, yang ditangkap adala imunoglobulin M, yaitu tanda perlawanan badan terhadap virus yang masuk ke badan, si imunoglobulin itu agar bisa dibaca oleh rapid test, itu perlu waktu. Tidak bisa langsung baru satu hari kena langsung dites dapat positif. Kalau sudah dilakukan rapid test, tetap kita perlu melakukan PCR (polymerase chain reaction) test atau test swab dengan nasofaring atau orofaring.
Kalau rapid testnya positif apakah swabtest-nya akan positif?
Kalau persen-persennya saya tidak tahu. Kita ada pengalaman rapid test negatif, swab-nya positif. Atau rapid test positif, swab negatif. Tetap yang jadi patokan adalah swab PCR.
Swab PCR apa sih kok keluarnya lama, paling cepat berapa lama?
Kami di rumah sakit pernah mengalami hasil swab keluar sampai 10 hari. Karena yang perlu di-swab orang se-Indonesia. Setahu saya semua harus dibawa ke litbangkes (penelitian dan pengembangan kesehatan), se-Indonesia harus dibawa ke litbangkes. Terus sempat dapat kabar sempat habis reagen-nya jadi lama. Sekarang udah agak cepat lagi, 3 hari sudah keluar.
Baiknya kapan rapid test dilakukan supaya tidak menghasilkan negatif palsu?
Kalau tidak ada keluhan tidak usah rapid test. Kecuali kita se-Indonesia sepakat mau screening. Mending kalau ada keluhan langsung ke rumah sakit terus swab.
Menurut dokter kenapa angka kematian Covid di Indonesia tinggi dibandingkan negara lain?
Kalau saya sih masalahnya mati, memang sudah waktunya orang mati. Tetapi kenapa tingginya, saya nggak bisa jawab deh. Mati itu tidak ada urusannya sama Covid. Mati itu karena urusannya sudah habis.
Kalau kita ketemu pasien Covid positif, bukan urusan kita memperpanjang usia. Kita harapannya setelah Covid kalau dia sembuh, quality of life-nya masih oke. Di kedokteran Islam, mengobati itu bukan untuk memperpanjang umur, tapi memperbaiki quality of life. Mumpung sakit, banyak berdoa, doanya diijabah. (mag)
foto: ilustrasi tes laboratorium (pixabay)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri