Tips Puasa Bagi Penderita Diabetes di Masa Pandemi COVID-19


Berita Lansia - Pada prinsipnya, Anda yang memiliki riwayat diabetes harus benar-benar menjaga imunitas di tengah pandemi COVID-19 dan Ramadan tahun ini.

2020-04-25 04:50:47

Geriatri.id—Penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi ketika terinfeksi virus Corona (COVID-19). Apa saja yang harus dilakukan penderita diabetes di tengah pandemi COVID-19? Bagaimana pula dengan puasa di bulan Ramadan?

Pada prinsipnya, Anda yang memiliki riwayat diabetes harus benar-benar menjaga imunitas di tengah pandemi COVID-19 dan Ramadan tahun ini. Di masa ini, perlu terus memantau gula darah.

Upayakan agar kadar gula darah bertahan pada 110mg/dL sebelum makan dan 160 mg/dL setelah makan. Mempertahankan gula darah dapat bermanfaat dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi. 

“Gula darah meninggi karena sel-sel tubuh tidak dapat memakan gula itu sehingga karena produksi terus ada, gula akan menumpuk di darah,” kata dr. Ceva Wicaksono Pitoyo, SpPD, K-P, FINASIM, KIC dalam webinar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Kamis 23/4/2020.

Diabetes bisa terjadi karena gula darah terlalu rendah (hipoglikemia) dan gula darah terlalu tinggi (hiperglikemia). Keduanya dapat terjadi pada penderita diabetes selama puasa.

Hipoglikemia ditandai dengan keringat dingin, berkunang-kunang, kejang dan tak sadar. Hiperglikemia ditandai dengan penglihatan kabur, sakit kepala, peningkatan kelelahan dan kehausan.

“Berkaitan dengan pandemi COVID-19 penyakit itu membuat risiko semakin meningkat. Buat semua yang memiliki masalah tersebut, menjaga agar semuanya terkontrol, termasuk gula darah,” kata dokter Ceva.

Penderita diabetes tentu saja memiliki keringanan untuk tidak berpuasa. Puasa bisa diganti di hari lain selagi sebanyak hari tidak puasa ketika kondisi bugar. Kalau sakit berkepanjangan bisa dengan membayar fidyah.

Ceva mengatakan mereka yang sakit diabetes sebelum Ramadan tidak terkontrol tidak disarankan puasa. Asupan gula perlu karena kalau tidak akan diproduksi dari hati. Bila tidak makan lebih dari 12-16 jam tubuh akan akan mengambil gula dari otot dan lemak. Bila gula diambil lemak bisa terjadi limbah sisa metabolisme yang disebut keton yang berbahaya bagi tubuh.

Penderita diabetes juga tidak disarankan berpuasa dengan kondisi antara lain harus mendapatkan insulin lebih dari 2 kali/hari karena makan selam puasa 2 kali sehari. Diabetes ibu hamil dan orang tua yang tidak bisa memahami /merasakan gejala hipo/hiperglikemia pun disarankan tidak berpuasa.


Penderita diabetes juga tidak disarankan berpuasa apabila pernah ketoasidosis;  punya penyakit lain seperti ginjal, jantung, hati, hipertensi; serta riwayat gula darah drop pada Ramadan sebelumnya.

“Diabetes tipe I disarankan tidak puasa kecuali yang sudah bertahun-tahun terkontrol,” kata dokter Ceva.

Penderita diabetes yang ringan dan terkontrol selama bertahun-tahun bisa tetap menjalankan puasa. Bagaimana penderita diabetes berpuasa?

Beberapa hal umum, tak hanya bulan puasa, harus menjadi pegangan penderita diabetes. Penderita diabetes harus sebisanya menghindari makanan yang digoreng. Makanan utama dengan sayuran, oat, beras merah, dan buah-buahan dengan kulit. 

Penderita diabetes pun harus memeriksakan periksa kadar gula secara teratur. “Ada aplikasi untuk pasien diabetes untuk memantau kadar gula darah sepanjang hari,” katanya.

Berikut panduan bagi penderita diabetes selama berpuasa

SAHUR

  • Makan sahur dengan makanan yang mengandung karbohidrat kompleks. Lebih perlahan untuk dicerna, diserap dan dicerna. Menjaga tubuh tetap mendapat kalori selama puasa, misalnya roti gandum.
  • Makan sahur harus dilakukan sedekat mungkin waktu subuh.

BERBUKA

  • Berbukalah dengan makanan yang kaya mengandung serat.
  • Minuman bergula dan makanan yang terlalu berlemak harus dihindari.
  • Mulai makan dengan sedikit. Pilih yang kaya karbohidrat sederhana dan dapat diserap cepat oleh tubuh. Seperti minuman bebas gula dan minuman tanpa kafein, kurma atau susu. Dianjurkan untuk menghindari dehidrasi. 

MALAM


  • Jangan tidur setelah makan malam. biarkan selang selama 2 jam. perbanyak tarawih dan tilawah.
  • Hindarikarbohidrat komplek sebelum tidur
  • Puasa ramadan adalah latihan mengendalikan keinginan kita dan mendengarkan Allah SWT. Jadi jangan makan berlebihan.

PENGATURAN OBAT

  • Metformin mengikuti makan basar. Jadi 2 kali sehari, bila perlu saat berbuka 2 tab.
  • Obat yang pagi sebelum makan (sulfonylurea) diubah menjadi saat berbuka.
  • Bila ada sulfonylurea 2x sehari, yang satunya sebelum sahur setengah dosis

PENGATURAN MAKANAN

  • Total kalori sebelum ramadan.
  • Sahur 40%
  • Buka 50% (takjil 10%, setelah magrib 40%)
  • Setelah tarawih 10% makanan kecil
  • Olahraga baik setelah buka bukan saat puasa olahraga boleh tapi jangan berlebih

Di masa pandemi COVID-19, dokter Ceva mengatakan perlu tetap menjaga jarak seperti tarawih di rumah. Silaturahmi dapat dilakukan dengan berdoa di rumah untuk umat, sahabat, tetangga, dan keluarga.

Selama pandemi COVID-19 ini juga perlu meningkatkan sistem imun tubuh. Caranya, dengan memperbanyak vitamin/antioksidan seperti vitamin C, B, D, Zinc, Calsium. “Apabila demam, batalkan puasa dan minum yang banyak,” kata dokter Ceva. (ymr) Foto: Webinar Papdi

lansia,geriatri,covid-19,virus corona,Ceva Wicaksono Pitoyo,lansia sehat,lansia bahagia,lansia online,berita lansia,merawat lansia,diabetes,lansia diabetes

ARTIKEL LAINNYA

Ini Tips Saat Merawat Hipertensi di Rumah

Ajaklah Orangtua ‘Keliling Dunia'

Berkebun Yuk, Guna Usir Kejenuhan

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026