
Geriatri.id—Penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi ketika terinfeksi virus Corona (COVID-19). Apa saja yang harus dilakukan penderita diabetes di tengah pandemi COVID-19? Bagaimana pula dengan puasa di bulan Ramadan?
Pada prinsipnya, Anda yang memiliki riwayat diabetes harus benar-benar menjaga imunitas di tengah pandemi COVID-19 dan Ramadan tahun ini. Di masa ini, perlu terus memantau gula darah.
Upayakan agar kadar gula darah bertahan pada 110mg/dL sebelum makan dan 160 mg/dL setelah makan. Mempertahankan gula darah dapat bermanfaat dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.
“Gula darah meninggi karena sel-sel tubuh tidak dapat memakan gula itu sehingga karena produksi terus ada, gula akan menumpuk di darah,” kata dr. Ceva Wicaksono Pitoyo, SpPD, K-P, FINASIM, KIC dalam webinar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Kamis 23/4/2020.
Diabetes bisa terjadi karena gula darah terlalu rendah (hipoglikemia) dan gula darah terlalu tinggi (hiperglikemia). Keduanya dapat terjadi pada penderita diabetes selama puasa.
Hipoglikemia ditandai dengan keringat dingin, berkunang-kunang, kejang dan tak sadar. Hiperglikemia ditandai dengan penglihatan kabur, sakit kepala, peningkatan kelelahan dan kehausan.
“Berkaitan dengan pandemi COVID-19 penyakit itu membuat risiko semakin meningkat. Buat semua yang memiliki masalah tersebut, menjaga agar semuanya terkontrol, termasuk gula darah,” kata dokter Ceva.
Penderita diabetes tentu saja memiliki keringanan untuk tidak berpuasa. Puasa bisa diganti di hari lain selagi sebanyak hari tidak puasa ketika kondisi bugar. Kalau sakit berkepanjangan bisa dengan membayar fidyah.
Ceva mengatakan mereka yang sakit diabetes sebelum Ramadan tidak terkontrol tidak disarankan puasa. Asupan gula perlu karena kalau tidak akan diproduksi dari hati. Bila tidak makan lebih dari 12-16 jam tubuh akan akan mengambil gula dari otot dan lemak. Bila gula diambil lemak bisa terjadi limbah sisa metabolisme yang disebut keton yang berbahaya bagi tubuh.
Penderita diabetes juga tidak disarankan berpuasa dengan kondisi antara lain harus mendapatkan insulin lebih dari 2 kali/hari karena makan selam puasa 2 kali sehari. Diabetes ibu hamil dan orang tua yang tidak bisa memahami /merasakan gejala hipo/hiperglikemia pun disarankan tidak berpuasa.
Penderita diabetes juga tidak disarankan berpuasa apabila pernah ketoasidosis; punya penyakit lain seperti ginjal, jantung, hati, hipertensi; serta riwayat gula darah drop pada Ramadan sebelumnya.
“Diabetes tipe I disarankan tidak puasa kecuali yang sudah bertahun-tahun terkontrol,” kata dokter Ceva.
Penderita diabetes yang ringan dan terkontrol selama bertahun-tahun bisa tetap menjalankan puasa. Bagaimana penderita diabetes berpuasa?
Beberapa hal umum, tak hanya bulan puasa, harus menjadi pegangan penderita diabetes. Penderita diabetes harus sebisanya menghindari makanan yang digoreng. Makanan utama dengan sayuran, oat, beras merah, dan buah-buahan dengan kulit.
Penderita diabetes pun harus memeriksakan periksa kadar gula secara teratur. “Ada aplikasi untuk pasien diabetes untuk memantau kadar gula darah sepanjang hari,” katanya.
Berikut panduan bagi penderita diabetes selama berpuasa
SAHUR
BERBUKA
MALAM
PENGATURAN OBAT
PENGATURAN MAKANAN
Di masa pandemi COVID-19, dokter Ceva mengatakan perlu tetap menjaga jarak seperti tarawih di rumah. Silaturahmi dapat dilakukan dengan berdoa di rumah untuk umat, sahabat, tetangga, dan keluarga.
Selama pandemi COVID-19 ini juga perlu meningkatkan sistem imun tubuh. Caranya, dengan memperbanyak vitamin/antioksidan seperti vitamin C, B, D, Zinc, Calsium. “Apabila demam, batalkan puasa dan minum yang banyak,” kata dokter Ceva. (ymr) Foto: Webinar Papdi
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri