
Geriatri.id - Pandemi Covid-19 yang saat ini tengah melanda dunia, termasuk Indonesia, pada dasarnya adalah sebuah peristiwa kebencanaan. Hanya saja, berbeda dengan bencana pada umumnya, pandemi Covid-19 merupakan bencana yang paling sulit dilakukan antisipasinya.
"Pengalaman saya menangani bencana di lapangan, seperti banjir di Lebak belum lama ini, kita bisa menghitung misalnya dimana kemungkinan ada longsor, kalau banjir dari daerah sini akan terkena di mana, jadi ada emergency exit yang kita siapkan, kita juga tahu masaknya di mana, dapurnya di mana, logistik di mana, ada pembagian tugas," kata Psikolog dari Kun Humanity System Dien Fakhri Iqbal, dalam sebuah webinar terkait pandemi Covid-19 belum lama ini.
Pada bencana alam, kata Iqbal, umumnya kita siap dengan berbagai skenario. Persoalannya, pada Covid-19, hal tersebut sangat sulit dilakukan, sehingga tekanan stres menjadi lebih tinggi dalam menghadapinya. "Tiba-tiba kita bisa gemetaran, khawatir, takut, kalau di rumah bosan karena kebiasaan bertahun-tahun ke luar rumah, bertemu teman. Sekarang kita menghadapi sesuatu yang sama sekali baru," kata Iqbal.
Iqbal menegaskan, tidak banyak yang membahas masalah manajemen stres ini saat menghadapi bencana berupa pandemi penyakit seperti Covid-19. "Dalam kebencanaan ada hal yang mesti didorong salah satunya adalah PHBS, perilaku hidup bersih sehat versi bencana, di dalamnya ada satu poin penting yaitu manajemen stres," jelasnya.
Dalam protokol kebencanaan seperti bencana alam, salah satu upaya manajemen stres adalah physical activity, seperti disarankan untuk tetap berolahraga, tetap disiplin. Hanya saja, dalam bencana penyakit seperti pandemi Covid-19, ada ruang gerak yang terbatas, karena harus juga menjaga jarak fisik agar tidak tertular. Sementara, daerah sebaran penyakit juga semakin meluas.
Kemudian, juga ada ketidakpastian, kapan bencana pandemi ini akan berlalu. Banyak yang bahkan meramalkan pandemi akan terus berlangsung hingga tahun 2022, karena yang terjadi saat ini belum mencapai puncak pandemi. "Kalau mengambil permisalan gelombang tsunami, ada gelombang terbesar, kedua, gelombang ketiga, nah, kesehatan mental itu disiapkan untuk menangani gelombang ketiga," ujar Iqbal.
Gelombang pertama dan kedua pandemi, kita masih bicara medis. "Rumah sakit, dan sebagainya, lalu kalau ada yang positif, dijaga, dikawal, supaya tidak menyebar virusnya. Kalau ada yang meninggal, pemakaman itu nanti prosedurnya lengkap. Nah, nanti sampai vaksinnya bisa ditemukan, baru kita bisa merasa aman, karena sebetulnya sebelum vaksin ditemukan ini belum selesai sebenarnya masalahnya," ujarnya.
Nah, dalam menghadapi gelombang ketiga, dimana menangani stres pasca pandemi menjadi penting, hal utama yang harus diketahui adalah mengenali gejala atau simptom stres pasca pandemi. "Bisa kita cek, bagaimana emosi kita, apakah mudah kaget, takut, marah, benci terhadap virus, benci ketika ada yang batuk, dan sebagainya," kata Iqbal.
Atau reaksi emosi yang timbul bisa juga berupa perasaan berduka, berduka, merasa bersalah, tidak berdaya, sedih/menangis, tidak dapat merasakan apapun, was-was/selalu khawatir, atau gembira karena telah selamat. "Ini reaksi emosi. Menandakan serangannya lumayan mengerikan," ujarnya.
Gejala stres ini bisa ringan, ringan menuju berat atau sudah berat. Jika sudah berat, biasanya reaksi stres selain emosi juga menimbulkan reaksi kognitif. "Misalnya, kita mulai bingung, kehilangan orientasi bahkan tidak mampu mengidentifikasi sudah berapa hari, tanggal, minggu, kita di rumah, apa yang harus kita pikirkan. Kita juga bingung, ragu-ragu, sulit mengambil keputusan," jelas Iqbal.
Serangan emosi pada tingkat berat, kata Iqbal, membuat pikiran tidak berjalan dan relasi mulai terganggu. "Misalnya, mudah bereaksi panik, mudah terganggu, teriritasi, tidak sabar, mudah terlibat konflik, menarik diri, merasa ditolak atau ditinggalkan, menjauhi orang lain dan sebagainya. Ini yang harus kita cek," ujar Iqbal.
Selain itu, kata Iqbal, reaksi yang timbul juga bisa berupa reaksi spiritual, hal ini ada dalam konteks hubungan individu dengan Tuhan. Misalnya, orang tersebut mendadak merasa kehilangan iman, mempercayai bahwa kita dikutuk Tuhan karena ada yang berbuat salah dan sebagainya.
"Kalau spiritualnya nggak beres, akan kena ke spiritual, memunculkan sinisme terhadap agama, dan kehilangan makna hidup," pungkas Iqbal. (mag)
foto: ilustrasi stres (pixabay)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri