
Geriatri.id - Penderita darah tinggi atau hipertensi memiliki risiko tinggi jika terpapar pandemi virus Corona (COVID-19). Apa yang harus dilakukan penderita hipertensi selama pandemi COVID-19 ini?
Lazimnya, penderita hipertensi mengonsumsi Ace Inhibitor, obat penghambat enzim pengubah angiotensin yang berfungsi untuk melemaskan pembuluh darah. Obat ini dapat membantu mengurangi jumlah cairan yang dapat diserap kembali oleh ginjal.
ACE inhibitor banyak digunakan untuk mengatasi penyakit hipertensi (tekanan darah tinggi), gagal jantung, serangan jantung, sebagian penyakit yang terkait dengan diabetes, serta penyakit ginjal kronis.
Di tengah pandemi Corona sekarang, apakah penderita hipertensi yang mengkonsumsi Ace inhibitor mesti mengganti obat?
Pertanyan itu muncul dalam #KelasLansia yang diasuh Pertanyaan ini muncul di kelas dr Rensa, Sr.PD-K-Ger, Finasim. (Kelas bersama dr. Ika Fitriana Sp.PD bisa dilihat pada artikel Lansia Cemas COVID-19, Harus Bagaimana, Dok?)
Dokter Rensa, bertugas sebagai dokter spesialis penyakit dalam-konsultan geriatri dan staf pendidik di Fakultas Kedokteran/ RS Atma Jaya, Pluit Jakarta Utara. Ia juga praktik di RS Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.
“Sebenarnya sejauh ini rekomendasi dari beberapa perhimpunan ahli hipertensi masih menyebutkan bahwa pasien-pasien yang rutin mengkonsumsi ACE-i/ ARB tetap dilanjutkan saja, tidak perlu mengganti obatnya terkait pandemi COVID-19 ini,” kata dokter Rensa.
Hipertensi adalah terjadinya peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 140 mmHg atau tekanan diastolik sedikitnya 90 mmHg2. Menurut WHO tekanan darah normal bagi setiap orang adalah 120/80 mmHg.
Masalah hipertensi di Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Hasil Survey Kesehatan Rumah tangga (SKRT) 2001 menunjukkan bahwa 8,3% penduduk menderita hipertensi dan mengalami peningkatan menjadi 27,5% pada tahun 2004. Penelitian epidemiologi menunjukan bahwa hipertensi berkaitan dengan morbiditas dan mortalitas penyakit jantung dan pembuluh darah.
Hipertensi juga kerap disebut penyakit tidak menular yang paling mematikan atau the silence killer. Jika penyakit ini tidak ditangani, maka dapat menimbulkan stroke, serangan jantung, kebutaan dan gangguan ginjal.
Lansia berisiko mengalami hipertensi seiring bertambahnya usia dan menurunnya fungsi tubuh, seperti jantung. Semakin bertambahnya umur seseorang, denyut jantung maksimum dan fungsi lain dari jantung berangsur-angsur menurun. Tekanan darah pun akan naik secara bertahap sehingga dapat menyebabkan terjadinya hipertensi pada lansia.
Selama pandemi COVID-19, cara terbaik bagi penderita hipertensi adalah dengan mengelola risiko seperti menjaga jarak sosial, sering mencuci tangan, dan jangan menyentuh wajah.
Lebih khusus untuk tekanan darah tinggi, penting untuk mencoba rileks sebanyak mungkin, karena stres biasanya mendorong kambuhnya hipertensi.
Dokter Maria Carolina Delgado-Lelievre, asisten profesor kedokteran Sekolah Kedokteran Miller, Universitas Miami mengatakan sering memberi tahu pasien tekanan darah tinggi dengan mencoba latihan relaksasi, atau berbaring dan mendengarkan musik.
Dokter masih merekomendasikan minum obat yang mungkin diresepkan dokter untuk tekanan darah, termasuk ACE inhibitor dan ARB, kata American Heart Association.
"Jangan berhenti minum obat kecuali doktermu memberitahumu," kata Delgado-Lelievre dilansir CNN. (ymr)
Ilustrasi Pixabay
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri