
Geriatri.id - Pernah melihat video orang berwudhu dan kerannya disemprot hand sanitizer sebelum disentuh? Meski sifatnya 'joke' atau bercanda, bisa saja hal-hal seperti itu memang menggambarkan terjadinya gangguan kesehatan mental tertentu yang terjadi di masyarakat. Obsessive, Compulsive Disorder (OCD), demikian nama gangguan kesehatan mental itu.
"Obsesif adalah pikirannya, kompulsif adalah perilakunya," kata Psikolog Klinis Dr. Rena Latifa, kepada geriatri.id.
Di tengah pandemi Covid-19 dimana semua orang wajib menjaga kebersihan diri dan lingkungan, gangguan OCD rentan terjadi. Misalnya, ya kasus keran yang dilumuri atau disemprot hand sanitizer sebelum digunakan berwudhu atau mandi tadi.
Pikiran obsesif membuat seseorang dapat memiliki kekhawatiran berlebihan akan kesehatan diri dan lingkungannya. Kekhawatiran itu dimanifestasikan dalam tindakan yang kompulsif seperti terlalu sering mencuci tangan, memakai hand sanitizer atau bahkan disinfektan secara berlebihan karena takut terpapar virus.
"Pikirannya apa? Pasti ada banyak pikiran salah pada kepalanya yang harus di-challenge dengan fakta. Maka pikirannya yang perlu diklarifikasi," kata Rena.
Misalnya, pikirannya dihantui ketakutan terhadap cara penularan virus Corona yang mudah, maka dia harus men-challange pikirannya, apakah dia juga punya informasi terkait cara pencegahannya.
"Misalnya yang dia pahami adalah virus ini mudah menempel pada semua benda, misal plastik. Hal-hal itu harus diidentifikasi sampai seberapa dalam dia yakin tentang itu dan sebenarnya di balik itu dia takut mati, takut sakit, dan juga karena sakitnya ini menimbulkan stigma," tegas Rena.
Kalau stigma-nya positif sebenarnya biasa saja menghadapi ini, seperti virus flu. Misal orang sehat terus kena Covid-19. Tetapi karena stigma yang sangat negatif, ketika teridentifikasi Covid-19 dia dijemput pake ambulans, sendiri di ruang isolasi.
"Atau di media ketika dijemput ambulans apakah akan menjadi pertemuan terakhir? Jadi memang mikirnya yang serem-serem, sehingga stigma negatif, membuat virus ini tidak saja berbentuk fisik tapi juga virus pikiran sehingga semua orang melakukan segala hal supaya tidak tertular dari virus ini. pikirannya berulang-ulang adalah gimana menghindari gimana mencegah," papar Rena.
Jika sudah menjadi OCD, maka orang tersebut memang harus diterapi. Karena itu, Rena menyarankan agar situasi ini jangan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. "Kalaupun kita khawatir menjadi OCD ya kita harus melawan pikiran itu, jangan sampai OCD-nya berkembang setelah pandemi berlalu," pungkasnya.***(mag)
foto: ilustrasi kecemasan (pexels)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri