Mencegah Patah Tulang Berulang: Jangan Tunggu Terjatuh Kedua Kalinya


1 dari 3 perempuan dan 1 dari 5 laki-laki berusia 50 tahun ke atas berisiko mengalami patah tulang akibat osteoporosis sepanjang hidupnya.

2026-10-31 13:10:50

JAKARTA, geriatri.co.id — Memasuki usia senior, menjaga kesehatan tulang dan sendi menjadi kunci utama agar kita tetap mandiri dan aktif beraktivitas. Data International Osteoporosis Foundation (IOF) menunjukkan bahwa 1 dari 3 perempuan dan 1 dari 5 laki-laki berusia 50 tahun ke atas berisiko mengalami patah tulang akibat osteoporosis sepanjang hidupnya.

Sering kali, pengeroposan tulang ini berkembang tanpa gejala. Kita baru menyadarinya setelah timbul cedera atau patah tulang.

Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Subspesialis Tulang Belakang Siloam Hospitals Mampang, dr. Dohar A.L. Tobing, Sp.OT, Subsp.OTB(K), mengingatkan bahwa tanda-tanda pengeroposan tulang sering kali terselubung.

"Osteoporosis sering kali tidak menimbulkan gejala sampai seseorang mengalami patah tulang. Pada tulang belakang, tanda-tandanya bahkan bisa berupa penurunan tinggi badan atau perubahan postur yang dianggap sebagai bagian normal dari penuaan. Padahal, kondisi ini dapat dikenali dan ditangani lebih awal," jelas dr. Dohar.

Perlu kita pahami, sekali kita pernah mengalami patah tulang akibat tulang rapuh, risiko mengalami patah tulang berikutnya justru meningkat drastis, terutama dalam 1–2 tahun pertama.

Pendampingan Berkelanjutan Pascapatah Tulang

Melihat risiko tersebut, Siloam Hospitals Mampang memperkuat penanganan orthopaedi terpadu melalui Fracture Liaison Service (FLS) yang tercatat dalam Map of Best Practice Capture the Fracture® oleh IOF dengan status New FLS (Blue Star).

Layanan ini memastikan bahwa perawatan kita tidak berhenti begitu saja saat tindakan medis di rumah sakit selesai.

Melalui FLS, tim medis akan mendampingi kita untuk:

  • Mengidentifikasi riwayat dan tingkat risiko keretakan tulang.

  • Mengukur tingkat kepadatan massa tulang.

  • Menyusun rencana terapi dan edukasi terpadu agar kesehatan tulang terjaga.

7 Skrining Kesehatan Tulang dan Sendi untuk Lansia

Untuk pencegahan sejak dini sebelum terjadi cedera, tersedia juga 7 program pemeriksaan yang dirancang khusus untuk mendukung mobilitas lansia:

  1. Skrining Osteoporosis: Pemeriksaan kepadatan tulang (BMD/Bone Mineral Density) dan konsultasi dokter spesialis orthopaedi.

  2. Skrining Osteoartritis Lutut: Pemeriksaan rontgen (serta MRI bila diperlukan) dan konsultasi spesialis panggul dan lutut.

  3. Skrining Nyeri Punggung Bawah: Rontgen/MRI lumbal dan konsultasi spesialis tulang belakang.

  4. Skrining Nyeri Bahu: Rontgen/USG dan konsultasi spesialis bahu dan siku.

  5. Skrining Kaki & Pergelangan Kaki: Rontgen dan konsultasi dokter spesialis terkait.

  6. Active Life MCU: Pemeriksaan fisik menyeluruh bagi senior yang aktif berolahraga.

  7. Skrining Berbasis Komunitas: Deteksi awal skoliosis dan kelainan bentuk jempol kaki (bunion).

Menjaga tulang tetap kuat adalah investasi masa tua kita agar dapat terus bergerak bebas, mandiri, dan bahagia bersama keluarga.

Geriatri,Lansia Indonesia,Tulang,Osteoporosis,Rumah Sakit

ARTIKEL LAINNYA

Harmoni untuk Nusarantara: Pertunjukan Musik dari para Dokter

Kapan Lansia Perlu Tes Kepadatan Tulang? Kenali Pemeriksaan DEXA

dr. Ivanna: Merawat Lansia bukan Pekerjaan yang Selalu Mudah

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026