
Geriatri.co.id - Merawat lansia bukan sekadar menemani aktivitas sehari-hari. Di baliknya, ada pengetahuan, kesabaran, dan kemampuan mengelola waktu serta tenaga yang perlu dipersiapkan oleh setiap orang yang terlibat dalam perawatan.
Hal ini dirasakan oleh dr. Ivanna Susanty, founder Senior Sehat Indonesia setelah mengikuti kelas caregiver yang diselenggarakan Geriatri-ID pada Minggu (11/10/2026).
Ia mengetahui kelas tersebut melalui iklan di media sosial. Ketertarikannya muncul setelah melihat para pemateri yang memiliki keahlian di bidang kesehatan dan perawatan lansia.
Ia pun merasa senang dapat mengikuti pelatihan tersebut. Menurutnya, kelas caregiver menjadi kesempatan untuk memperoleh ilmu langsung dari para ahli sekaligus memahami berbagai aspek perawatan lansia yang mungkin kerap luput dari perhatian.
“Senang sekali bisa mengikuti pelatihan ini karena kita mendapatkan ilmu dari orang-orang yang memang ahli di bidang lansia,” ujarnya.
Salah satu hal yang berkesan bagi Ivanna adalah pesan dari para pemateri yang tidak hanya membahas kondisi lansia, tetapi juga lingkungan dan orang-orang yang terlibat dalam perawatannya.
Ia mengingat pesan Dr.dr. Edy Rizal Wahyudi, SpPD-KGer, FINASIM tentang pentingnya memperhatikan pasangan lansia yang sedang dirawat.
“Di saat Anda punya klien atau senior yang diasuh, jangan hanya fokus pada lansia itu saja. Jangan lupa pasangannya juga harus ikut diperhatikan. Terkadang, ketika kita fokus pada lansia yang sedang diasuh, kita luput memperhatikan pasangannya,” kata dr. Ivanna, mengingat pesan yang disampaikan dr. Edy.
Pesan tersebut mengingatkan bahwa kebutuhan lansia tidak selalu berdiri sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, pasangan yang tinggal bersama lansia juga dapat membutuhkan perhatian, dukungan, dan pendampingan.
Ketika perawatan hanya berpusat pada satu orang, kebutuhan orang lain di sekitarnya berisiko terabaikan. Karena itu, memahami kondisi keluarga dan lingkungan lansia menjadi bagian penting dari perawatan yang menyeluruh.
dr. Ivanna juga terkesan dengan pesan Prof. Dr. dr. Czeresna Heriawan Soejono, SpPD-KGer, MEpid, MPH mengenai bagaimana seseorang menyikapi permintaan orang tua.
“Sesibuk apa pun kita, kalau orang tua meminta sesuatu, jangan ditolak. Pasti nantinya akan ada kemudahan untuk kita,” tuturnya, menyampaikan kembali pesan yang ia tangkap dari pemateri.
Bagi dr. Ivanna, pesan tersebut mengandung makna lebih dalam daripada sekadar memenuhi permintaan orang tua. Menurutnya, merawat orang tua perlu dilakukan dengan bekal pengetahuan sekaligus ketulusan hati. Ketika perawatan dijalankan dengan pemahaman yang tepat dan niat yang baik, tanggung jawab tersebut diharapkan dapat terasa lebih bermakna.
Tantangan Terbesar Caregiver
Meski memiliki keinginan untuk memberikan perawatan terbaik, dr. Ivanna memahami bahwa merawat lansia bukan pekerjaan yang selalu mudah. Salah satu tantangan terbesarnya adalah rasa lelah, terutama ketika harus mengatur jadwal, membagi waktu, dan menyesuaikan kebutuhan perawatan dengan sumber daya yang tersedia.
Kondisi akan lebih menantang apabila tidak ada orang lain yang dapat menggantikan sementara tugas perawatan. Padahal, caregiver juga membutuhkan waktu untuk beristirahat agar dapat kembali memberikan pendampingan dengan baik.
“Kalau ada pengganti yang bisa menjaga, tentu akan lebih baik. Jangan lupa, kita yang merawat juga butuh istirahat,” ujarnya.
Menurut Ivanna, kondisi ini menunjukkan pentingnya dukungan tenaga profesional dalam perawatan lansia. Keluarga tidak harus selalu menanggung seluruh tanggung jawab perawatan seorang diri.
Melalui Senior Sehat Indonesia, ia melihat peran layanan profesional sebagai salah satu cara untuk membantu lansia mendapatkan pendampingan yang sesuai, sekaligus memberi kesempatan kepada keluarga atau caregiver untuk beristirahat sejenak.
Bagi dr. Ivanna, mengikuti kelas caregiver menjadi pengalaman yang memperkuat pandangannya bahwa niat baik saja tidak selalu cukup dalam merawat lansia.
Pengetahuan dari tenaga ahli dapat membantu caregiver memahami kondisi lansia, mengenali kebutuhan mereka, serta menentukan cara bersikap ketika menghadapi situasi yang menantang.
Ia menilai, ilmu tersebut juga sangat berguna ketika caregiver sedang merasa lelah atau kewalahan. Dengan pemahaman yang lebih baik, seseorang dapat lebih bijak dalam menyikapi situasi dan tidak semata-mata mengandalkan perasaan.
“Biar kita melayani itu tidak hanya dengan hati, tetapi juga dengan ilmu. Saat kita sedang lelah sekali dalam merawat lansia, ketika kita punya ilmu, kita akan lebih memahami bagaimana harus menyikapinya,” ungkapnya.
Selain materi yang disampaikan, dr. Ivanna menilai pengalaman dan cerita dari para pemateri juga memberikan manfaat tersendiri. Mendengarkan pengalaman orang lain yang memahami bidang perawatan lansia dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus penyemangat bagi peserta.
Baginya, kelas caregiver bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menguatkan kembali semangat dalam mendampingi lansia.
dr. Ivanna berharap pelatihan caregiver seperti yang diselenggarakan Geriatri-ID dapat semakin banyak tersedia di Indonesia.
Menurutnya, pendidikan dan sertifikasi caregiver profesional memang penting, terutama bagi mereka yang ingin menekuni bidang tersebut sebagai profesi. Namun, kebutuhan akan pengetahuan perawatan lansia tidak terbatas pada tenaga profesional.
Keluarga yang memiliki orang tua lanjut usia juga membutuhkan pemahaman dasar tentang cara merawat, mendampingi, dan menjaga keselamatan lansia di rumah.
“Menurut saya, kelas-kelas caregiver seperti ini perlu diperbanyak. Saya senang dengan adanya institusi seperti Geriatri-ID yang memberikan ilmu secara terbuka untuk umum,” ujarnya.
Ia menilai, tidak semua keluarga dapat sepenuhnya mengandalkan caregiver profesional untuk memenuhi kebutuhan perawatan lansia. Karena itu, anggota keluarga tetap perlu dibekali pengetahuan agar dapat memberikan pendampingan yang lebih baik.
Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting seiring bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia. Perawatan lansia akan membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari keluarga, tenaga profesional, komunitas, hingga lembaga yang menyediakan pendidikan dan pelatihan.
Pengalaman dr. Ivanna mengikuti kelas caregiver Geriatri-ID menjadi pengingat bahwa merawat lansia adalah proses belajar yang berkelanjutan. Ketulusan memang menjadi bekal penting, tetapi pengetahuan membantu seseorang memahami bagaimana memberikan perawatan yang tepat.
Sebab, merawat lansia bukan hanya tentang hadir dan menemani. Ada kebutuhan untuk memahami, menghargai, menjaga keselamatan, serta memastikan orang yang merawat juga tetap memiliki tenaga untuk melanjutkan perannya.
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri