Harga Pangan Menantang, Gizi Lansia Jangan Sampai Terabaikan


"Bagi masyarakat yang penghasilannya terbatas, kenaikan harga sejumlah bahan pangan dapat memaksa mereka mengurangi jumlah belanja."

2026-10-16T08:02

GERIATRI.CO.ID – Makanan bukan sekadar pengisi perut. Bagi manusia, makanan merupakan sumber energi, penopang kesehatan, sekaligus bagian penting dari kualitas hidup. Namun, ketika harga bahan pangan meningkat, memenuhi kebutuhan makan sehari-hari bisa menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi keluarga berpenghasilan terbatas dan para lanjut usia (lansia).

Setiap 16 Oktober, dunia memperingati "Hari Pangan Sedunia" atau World Food Day. Peringatan ini menjadi pengingat bahwa setiap orang berhak memperoleh makanan yang cukup, aman, bergizi, dan terjangkau. Persoalannya, apakah semua masyarakat Indonesia sudah dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan mudah?

Harga Pangan dan Daya Beli Masyarakat

Harga bahan pangan masih menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional pada 15 Oktober 2026, misalnya, menunjukkan harga beras kualitas medium sekitar Rp14.000–Rp16.000 per kilogram, telur ayam sekitar Rp29.000 per kilogram, dan daging ayam sekitar Rp40.000 per kilogram. Harga cabai juga masih relatif tinggi, meskipun berbeda-beda menurut jenis dan wilayah.

Bagi sebagian keluarga, perubahan harga tersebut mungkin hanya berarti penyesuaian kecil dalam belanja harian. Namun, bagi masyarakat yang penghasilannya terbatas, kenaikan harga sejumlah bahan pangan dapat memaksa mereka mengurangi jumlah belanja, mengganti bahan makanan, atau menunda membeli sumber protein.

Tantangan ini tidak hanya dirasakan masyarakat perkotaan. Warga di daerah tertentu juga menghadapi persoalan ketersediaan bahan pangan, jarak menuju pasar, serta biaya distribusi. Akibatnya, harga pangan di satu daerah belum tentu sama dengan harga di daerah lainnya.

Kondisi cuaca turut memengaruhi situasi tersebut. Kemarau panjang dan fenomena El Nino berpotensi mengganggu produksi sejumlah komoditas pertanian, terutama ketika ketersediaan air untuk irigasi terbatas. Gangguan produksi dan distribusi dapat membuat harga bahan pangan semakin sulit dikendalikan.

Tantangan Memenuhi Gizi, Bukan Sekadar Kenyang

Ketika harga pangan meningkat, tantangan masyarakat bukan hanya bagaimana menyediakan makanan setiap hari, melainkan juga memastikan makanan tersebut memenuhi kebutuhan gizi.

Makanan yang mengenyangkan belum tentu menyediakan zat gizi yang cukup. Tubuh membutuhkan karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, mineral, dan serat dalam jumlah yang sesuai.

Jika anggaran belanja terbatas, sebagian keluarga mungkin lebih mengutamakan makanan pokok dan mengurangi pembelian lauk, sayuran, atau buah-buahan. Apabila berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko kekurangan zat gizi.

Padahal, pemenuhan gizi merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan masyarakat. Anak-anak membutuhkan zat gizi untuk tumbuh dan berkembang, orang dewasa memerlukannya untuk menunjang aktivitas, sedangkan lansia membutuhkannya untuk mempertahankan kekuatan tubuh dan membantu menjaga kemandirian.

Karena itu, peringatan "Hari Pangan Sedunia" seharusnya tidak berhenti pada pesan agar masyarakat makan setiap hari. Lebih dari itu, perlu ada perhatian terhadap kemampuan masyarakat untuk memperoleh makanan bergizi tanpa harus mengorbankan kebutuhan hidup lainnya.

Lansia, Kelompok yang Perlu Mendapat Perhatian

Bagi lansia, persoalan pangan memiliki dimensi tersendiri. Sebagian lansia masih bekerja atau memiliki penghasilan sendiri. Namun, tidak sedikit pula yang bergantung pada uang pensiun, tabungan, bantuan keluarga, maupun dukungan sosial.

Ketika pendapatan terbatas, kenaikan harga bahan makanan dapat membuat lansia harus semakin cermat mengatur pengeluaran. Mereka mungkin memilih lauk yang lebih murah, mengurangi variasi makanan, atau makan dengan menu yang sama berulang kali.

Di sisi lain, kebutuhan gizi lansia tetap harus diperhatikan. Seiring bertambahnya usia, sebagian orang mengalami penurunan nafsu makan, gangguan mengunyah, masalah gigi, atau perubahan kemampuan tubuh dalam memanfaatkan zat gizi.

Lansia juga dapat mengalami penurunan massa dan kekuatan otot apabila asupan protein dan energi tidak mencukupi. Oleh sebab itu, makanan yang dikonsumsi perlu disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi kesehatan, serta kemampuan mengunyah dan menelan.

Artinya, makanan untuk lansia tidak harus mahal atau mewah. Yang lebih penting adalah kecukupan gizi, variasi bahan pangan, keamanan makanan, serta cara pengolahan yang sesuai.

Makanan Bergizi Tidak Selalu Harus Mahal

Di tengah tantangan harga pangan, keluarga dapat mengupayakan menu sehat dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah ditemukan dan relatif terjangkau.

Telur, misalnya, dapat menjadi salah satu sumber protein yang praktis. Tahu dan tempe juga bisa menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan protein. Sayuran lokal dapat diolah menjadi sup atau hidangan berkuah, sedangkan buah dapat dipilih sesuai musim dan kemampuan belanja keluarga.

Bagi lansia yang mengalami kesulitan mengunyah, sayuran dapat dimasak hingga lunak. Ikan dapat diolah dengan memperhatikan duri, sementara makanan bertekstur lembut bisa menjadi pilihan bagi mereka yang membutuhkan penyesuaian tekstur.

Keluarga juga dapat menyusun menu mingguan, membuat daftar belanja, membandingkan harga, dan membeli bahan makanan sesuai kebutuhan agar tidak banyak yang terbuang. Bahan pangan yang mudah rusak sebaiknya dibeli dalam jumlah yang dapat dihabiskan.

Meski demikian, berhemat bukan berarti mengurangi kualitas makanan secara sembarangan. Kebutuhan protein, sayuran, buah, dan zat gizi lainnya tetap perlu diperhatikan. Lansia yang memiliki penyakit tertentu juga perlu menyesuaikan pola makan dengan anjuran tenaga kesehatan.

Tanggung Jawab Bersama Menjamin Pangan

Persoalan pangan tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada masyarakat. Upaya menjaga keterjangkauan harga membutuhkan kerja bersama pemerintah, petani, pelaku distribusi, pedagang, komunitas, dan keluarga.

Pemerintah perlu menjaga kelancaran pasokan, memperkuat distribusi antardaerah, serta memastikan program stabilisasi harga dan bantuan pangan menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Di saat yang sama, dukungan terhadap petani dan produsen pangan penting agar ketersediaan pangan dapat terjaga secara berkelanjutan.

Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada lansia yang hidup sendiri, tinggal di keluarga kurang mampu, atau mengalami keterbatasan mobilitas sehingga kesulitan berbelanja dan menyiapkan makanan.

Dukungan tersebut dapat berupa bantuan pangan yang sesuai kebutuhan, layanan makan di komunitas, pendampingan keluarga, maupun pemantauan kondisi gizi lansia melalui layanan kesehatan dan kegiatan masyarakat.

"Hari Pangan Sedunia" menjadi kesempatan untuk mengingat kembali bahwa persoalan pangan tidak hanya berkaitan dengan jumlah beras yang tersedia atau harga bahan makanan di pasar. Ada persoalan daya beli, kualitas gizi, aksesibilitas, dan kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan lebih besar.

Pada akhirnya, setiap orang berhak menikmati makanan yang cukup dan bergizi, termasuk mereka yang telah memasuki usia senja. Sebab, menjaga kualitas hidup lansia juga berarti memastikan mereka tetap dapat makan dengan layak, sehat, dan bermartabat. (a2s)

***

Foto: Hari Pangan Sedunia 2026 (chatgpt.com)

Hari Pangan Sedunia,Hari Pangan Sedunia 2026,makanan,lansia

ARTIKEL LAINNYA

Rambut Boleh Memutih, Semangat Rock Jangan Padam!

Orang Tua Bukan Beban: Belajar dari Kisah Suharyono yang Diserahkan ke Panti Lansia

Minuman Hangat Terbaik untuk Mengawali Pagi Lansia

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026