Orang Tua Bukan Beban: Belajar dari Kisah Suharyono yang Diserahkan ke Panti Lansia


"Satu hal perlu tetap dijaga: martabat dan hak orang tua untuk memperoleh perawatan yang layak."

2026-10-17T08:40

GERIATRI.CO.ID – Kisah seorang ayah berusia 78 tahun bernama Suharyono menjadi perhatian publik setelah diangkat oleh Arief Camra, pengelola Griya Lansia Husnul Khatimah di Malang, melalui media sosial. Pria asal Desa Tenaru, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, itu diserahkan oleh anak perempuan dan menantunya ke Griya Lansia pada 13 Oktober 2026.

Menurut pemberitaan yang beredar, pihak Griya Lansia sempat berupaya memediasi keluarga dan menawarkan alternatif agar Suharyono tetap mendapatkan perawatan tanpa harus sepenuhnya memutus hubungan dengan keluarganya. Namun, upaya tersebut tidak mencapai kesepakatan.

Kisah ini mengundang keprihatinan sekaligus menjadi bahan renungan. Bagaimana seharusnya keluarga memperlakukan orang tua yang telah memasuki usia senja? Apakah ketika orang tua semakin tua dan membutuhkan bantuan, mereka justru harus kehilangan tempat untuk bersandar?

Ketika Orang Tua Memasuki Usia Senja

Menjadi tua merupakan bagian alami dari kehidupan. Seiring bertambahnya usia, seseorang mungkin mengalami penurunan kekuatan fisik, lebih mudah lelah, atau membutuhkan bantuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Bagi sebagian keluarga, kondisi tersebut bukan persoalan ringan. Merawat orang tua membutuhkan waktu, tenaga, kesabaran, dan biaya. Situasi bisa semakin menantang apabila anggota keluarga juga harus bekerja, mengurus anak, serta memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Namun, di tengah berbagai keterbatasan itu, satu hal perlu tetap dijaga: martabat dan hak orang tua untuk memperoleh perawatan yang layak.

Menitipkan Bukan Berarti Menelantarkan

Perlu dipahami bahwa menitipkan orang tua di panti lansia tidak selalu merupakan tindakan yang salah. Dalam kondisi tertentu, panti yang memiliki fasilitas dan tenaga perawatan memadai justru dapat membantu memenuhi kebutuhan lansia secara lebih baik.

Ada keluarga yang tidak memiliki kemampuan merawat lansia dengan kebutuhan khusus di rumah. Ada pula yang menghadapi keterbatasan ekonomi, tempat tinggal, atau dukungan keluarga.

Karena itu, keputusan memilih panti lansia sebaiknya dilihat berdasarkan kondisi dan kebutuhan yang sebenarnya. Yang perlu menjadi perhatian adalah apakah lansia memperoleh perawatan yang layak, apakah keputusan dibuat dengan mempertimbangkan kepentingannya, serta apakah keluarga tetap memberikan perhatian dan dukungan.

Panti lansia semestinya menjadi tempat untuk mendapatkan perawatan, bukan alasan untuk menghapus orang tua dari kehidupan keluarga.

Tanggung Jawab Anak Tidak Berhenti

Orang tua yang telah lanjut usia tetap membutuhkan perhatian, sekalipun kebutuhan fisiknya sudah ditangani oleh tenaga profesional. Kunjungan, percakapan, bantuan memenuhi kebutuhan pribadi, dan keterlibatan keluarga dalam pengambilan keputusan merupakan bentuk kepedulian yang berarti.

Tidak semua anak mampu merawat orang tua secara langsung setiap hari. Namun, kepedulian dapat diwujudkan melalui berbagai cara, sesuai kemampuan dan keadaan masing-masing.

Jika perawatan di rumah sudah tidak memungkinkan, keluarga dapat berdiskusi dengan saudara, mencari bantuan tenaga profesional, atau berkonsultasi dengan pekerja sosial untuk menemukan solusi yang sesuai.

Yang tidak boleh diabaikan adalah memastikan orang tua tidak kehilangan haknya untuk mendapatkan perlindungan, penghormatan, dan kehidupan yang bermartabat.

Menyiapkan Masa Tua Sejak Dini

Kisah Suharyono juga menjadi pengingat bagi generasi pralansia, termasuk mereka yang kini berusia 40-an dan 50-an, untuk mulai mempersiapkan masa tua.

Persiapan tersebut bukan hanya menyangkut tabungan dan kesehatan, tetapi juga hubungan keluarga, tempat tinggal, serta rencana perawatan apabila suatu saat membutuhkan bantuan orang lain.

Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak dapat membantu keluarga memahami harapan masing-masing. Pembicaraan mengenai perawatan di usia lanjut memang tidak selalu mudah, tetapi penting dilakukan sebelum kondisi darurat terjadi.

Di sisi lain, masyarakat juga membutuhkan layanan perawatan lansia yang terjangkau, berkualitas, dan mudah diakses. Dengan begitu, keluarga yang mengalami kesulitan tidak harus menghadapi persoalan tersebut sendirian.

Pada akhirnya, orang tua bukanlah beban hanya karena usia mereka bertambah atau tubuh mereka tak lagi sekuat dahulu. Mereka adalah manusia yang memiliki perasaan, harga diri, dan hak untuk menjalani hari tua dengan aman serta penuh penghormatan.

Kisah Suharyono mengajak kita bercermin. Sebelum menghakimi sebuah keluarga, kita perlu memahami persoalan secara utuh. Namun, apa pun latar belakangnya, setiap lansia tetap berhak mendapatkan perawatan yang layak dan diperlakukan secara manusiawi.

Sebab, menua adalah bagian dari kehidupan. Dan ketika seseorang memasuki usia senja, yang dibutuhkannya bukan hanya tempat untuk tinggal, melainkan juga kepastian bahwa dirinya tetap dihargai sebagai manusia. (a2s)

***

Foto: Ilustrasi, orangtua yang selalu didukung anak-menantunya. (Gemini.Google)
 

merawat lansia,tanggung jawab anak pada orangtua,usia senja,lansia

ARTIKEL LAINNYA

Rambut Boleh Memutih, Semangat Rock Jangan Padam!

Minuman Hangat Terbaik untuk Mengawali Pagi Lansia

Harga Pangan Menantang, Gizi Lansia Jangan Sampai Terabaikan

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026