Bukan Sekadar Diam, Perubahan Cara Bicara Bisa Menjadi Petunjuk Kesepian Lansia


Namun, perubahan pola komunikasi yang berlangsung terus-menerus dapat menjadi alasan untuk lebih banyak mengajak lansia berbicara dan mencari tahu apa yang sedang mereka rasakan.

2026-09-16T12:36

GERIATRI.CO.ID - Lansia yang kesepian belum tentu selalu terlihat murung atau memilih diam. Kadang, tandanya justru bisa muncul dari cara mereka berbicara.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rasa kesepian pada lansia dapat tercermin dari pilihan kata, topik pembicaraan, hingga karakteristik suara. Temuan ini membuka kemungkinan bahwa percakapan sehari-hari dapat menjadi salah satu petunjuk untuk mengenali lansia yang membutuhkan lebih banyak perhatian sosial dan emosional.

Penelitian yang dipublikasikan sebagai preprint pada September 2026 tersebut menganalisis percakapan dari 310 orang dewasa lanjut usia melalui wawancara telepon semi-terstruktur. Peneliti kemudian melihat hubungan antara karakteristik bahasa dan suara dengan tingkat kesepian yang dilaporkan para peserta.

Menariknya, peneliti tidak hanya melihat isi pembicaraan. Mereka juga menganalisis karakteristik suara, seperti nada, tinggi-rendah suara, dan tingkat kerasnya suara, serta berbagai ciri bahasa yang digunakan peserta.

Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat kesepian yang lebih tinggi berkaitan dengan beberapa pola, termasuk lebih banyak penggunaan kata bernuansa negatif, penyangkalan, serta bahasa yang berkaitan dengan konflik.

Sebaliknya, tingkat kesepian yang lebih rendah berkaitan dengan lebih banyak rujukan terhadap hubungan sosial, motivasi, dan kekayaan ekspresi emosional dalam percakapan.

Temuan ini penting karena kesepian berbeda dengan sekadar hidup sendirian. Seseorang bisa tinggal bersama pasangan atau keluarga, tetapi tetap merasa tidak memiliki hubungan sosial yang bermakna.

Di sisi lain, ada pula lansia yang tinggal sendiri tetapi tetap memiliki teman, komunitas, kegiatan rutin, dan hubungan sosial yang membuatnya merasa terhubung.

Karena itu, keluarga sebaiknya tidak hanya melihat apakah lansia berada sendirian di rumah, tetapi juga memperhatikan bagaimana perasaan dan interaksi sosial mereka sehari-hari.

Bagi keluarga, temuan penelitian ini tidak berarti setiap perubahan cara bicara harus langsung dianggap sebagai tanda kesepian.

Namun, perubahan pola komunikasi yang berlangsung terus-menerus dapat menjadi alasan untuk lebih banyak mengajak lansia berbicara dan mencari tahu apa yang sedang mereka rasakan.

Misalnya, lansia yang sebelumnya senang bercerita tentang teman-temannya tiba-tiba lebih sering membicarakan konflik, kehilangan minat pada aktivitas sosial, atau semakin jarang mengekspresikan hal-hal yang membuatnya bersemangat.

Yang terpenting bukan mencari “kata tertentu” sebagai tanda kesepian, melainkan melihat perubahan dari kebiasaan lansia itu sendiri.

Penelitian tersebut juga menguji pendekatan analisis multimodal yang menggabungkan informasi dari teks dan suara. Model gabungan tersebut memiliki hubungan yang lebih kuat dengan skor kesepian dibandingkan analisis teks atau audio secara terpisah. Ini menunjukkan bahwa tanda-tanda kesepian mungkin tidak hanya berada pada kata-kata, tetapi juga pada cara seseorang menyampaikannya.

Teknologi seperti ini pada masa depan berpotensi membantu tenaga kesehatan atau caregiver mengidentifikasi lansia yang mungkin membutuhkan perhatian lebih.

Namun, teknologi tersebut belum dapat menggantikan penilaian manusia. Para peneliti sendiri menekankan bahwa analisis suara dan bahasa lebih tepat dipandang sebagai indikator awal yang dapat melengkapi asesmen yang sudah ada, bukan sebagai alat diagnosis kesepian secara mandiri. (lia)

***
Foto: Seorang kakek duduk sendirian. (ilustrasi: pexels.com/weedlyr)
 

kesepian,kesepian lansia,bicara lansia,lansia

ARTIKEL LAINNYA

Saat Para Lansia Disambangi Tangan-Tangan Mungil Siswa TK Assalam

Di Balik Kematian Pralansia di Kebun Kelapa, Ada Apa yang Mungkin Terjadi?

Jangan Asal Pilih Buah untuk Lansia, Perhatikan Juga Cara Menyajikannya

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026