
GERIATRI.CO.ID - Memberikan buah kepada lansia bukan sekadar memilih yang paling manis atau paling kaya vitamin. Cara mencuci, memotong, menyimpan hingga menyajikannya juga perlu diperhatikan.
Buah merupakan bagian penting dari pola makan sehat pada usia lanjut. Kementerian Kesehatan menyebut buah sebagai sumber vitamin, mineral, dan serat yang dibutuhkan lansia. Namun, kondisi lansia yang berbeda-beda, mulai dari kemampuan mengunyah, menelan hingga risiko penyakit tertentu, membuat cara penyajiannya perlu disesuaikan.
1. Cuci sebelum dikupas atau dipotong
Buah yang akan dimakan langsung sebaiknya dicuci terlebih dahulu dengan air mengalir. Langkah ini penting untuk mengurangi kotoran dan mikroorganisme yang mungkin menempel di permukaan.
BPOM juga menganjurkan mencuci buah dan sayur sebelum dikupas atau dipotong. Jangan menggunakan deterjen untuk mencucinya.
Hal ini menjadi semakin penting pada lansia. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memasukkan orang berusia 65 tahun ke atas sebagai kelompok yang lebih berisiko mengalami penyakit bawaan makanan dan dapat mengalami penyakit yang lebih berat. Buah dan sayuran yang tidak dicuci termasuk makanan yang lebih berisiko.
2. Utamakan buah utuh, bukan selalu jus
Jeruk, pepaya, pisang, apel, melon, semangka, kiwi, dan berbagai buah lainnya bisa menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan buah sehari-hari.
Namun, tidak berarti semua buah harus dibuat jus. National Institute on Aging (NIA) menyebut buah utuh memberikan serat, dan setidaknya sebagian buah yang dikonsumsi sebaiknya berupa buah utuh, bukan hanya jus.
Kementerian Kesehatan juga menganjurkan lansia mengonsumsi buah matang dan membatasi jus yang diberi gula maupun jus kemasan.
Jika lansia masih mampu mengunyah dengan baik, buah yang dipotong kecil dapat menjadi pilihan sederhana.
3. Sesuaikan tekstur dengan kemampuan mengunyah
Tidak semua lansia memiliki kemampuan mengunyah dan menelan yang sama. Lansia dengan gigi yang sudah tidak lengkap, gigi palsu yang kurang nyaman, atau kesulitan mengunyah mungkin lebih mudah mengonsumsi buah yang teksturnya lunak. Kementerian Kesehatan mencatat masalah gigi pada lansia dapat membuat mereka kesulitan mengunyah, termasuk buah dan sayur.
Buah seperti pisang atau pepaya dapat disajikan dalam potongan kecil dan lunak. Bila memang diperlukan karena kemampuan makan lansia, buah dapat dihaluskan atau diblender.
Namun, bila lansia memiliki gangguan menelan (disfagia), tekstur makanan sebaiknya disesuaikan berdasarkan anjuran tenaga kesehatan, bukan sekadar dibuat lebih cair.
4. Jangan terlalu banyak tambahan gula
Buah sudah memiliki rasa manis alami. Karena itu, tidak selalu perlu ditambahkan gula, susu kental manis, sirup, atau pemanis lainnya.
Bagi lansia, pola makan yang sehat juga perlu memperhatikan pembatasan gula, garam, dan lemak.
Ini terutama penting bagi lansia yang memiliki kondisi tertentu seperti diabetes, sehingga jenis dan porsi buah sebaiknya disesuaikan dengan pola makan yang dianjurkan dokter atau ahli gizi.
5. Hati-hati dengan buah yang sudah dipotong
Buah potong memang praktis, tetapi kebersihan dan penyimpanannya harus diperhatikan.
CDC secara khusus menyebut melon yang sudah dipotong dan dibiarkan pada suhu ruang terlalu lama sebagai pilihan yang lebih berisiko. Buah potong sebaiknya segera disimpan dalam lemari pendingin dan tidak dibiarkan terlalu lama di suhu ruang.
Untuk lansia, prinsipnya sederhana: semakin segar dan semakin terjaga kebersihannya, semakin baik.
6. Kandungan gizinya juga perlu dipertimbangkan
Cara penyajian bukan berarti mengabaikan kandungan gizi. Buah yang beragam dapat membantu memenuhi kebutuhan vitamin, mineral dan serat.
Misalnya, vitamin C banyak ditemukan pada jeruk, kiwi, stroberi dan melon. Vitamin C berperan dalam fungsi sistem kekebalan tubuh, meski tentu bukan berarti satu jenis buah dapat langsung “meningkatkan imun” atau mencegah lansia sakit.
Karena itu, yang lebih penting adalah variasi buah sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang.
Pada akhirnya, memilih buah untuk lansia bukan hanya soal mencari buah yang dianggap paling sehat.
Buah perlu dicuci dengan benar, disajikan dalam tekstur yang sesuai, tidak berlebihan dalam penambahan gula, serta disimpan dengan aman.
Sebab, makanan yang bergizi baru benar-benar bermanfaat ketika juga aman dan dapat dikonsumsi dengan nyaman oleh lansia. Kementerian Kesehatan sendiri menekankan bahwa pola makan lansia perlu memperhatikan kebutuhan gizi sekaligus kemampuan mengunyah dan menelan. (lia)
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri