Teknologi untuk Lansia Tak Cukup Canggih, Harus Mudah Dipahami


Sistem juga harus mampu memahami bahwa pengguna memiliki usia, pengalaman digital, kebiasaan, dan cara berkomunikasi yang berbeda.

2026-09-16T07:34

GERIATRI.CO.ID - Teknologi semakin pintar, tetapi belum tentu semakin mudah digunakan lansia. Penelitian terbaru menunjukkan, kecerdasan teknologi justru bisa menemui masalah ketika berhadapan dengan cara lansia memberikan perintah yang berbeda dari pengguna pada umumnya.

Temuan ini muncul dalam penelitian “ElderBench: Benchmarking Autonomous Mobile Agents for Older Adults”, yang dipublikasikan pada 4 September 2026. Peneliti menguji kemampuan agen AI dalam membantu lansia menggunakan smartphone dan menemukan adanya penurunan performa ketika sistem menghadapi instruksi yang khas digunakan oleh pengguna lanjut usia.

Peneliti mengumpulkan 249 tugas smartphone dari lansia yang menggunakan 20 aplikasi Android.

Dalam pengujian tersebut, peneliti menemukan bahwa agen antarmuka grafis (GUI agents) dan model vision-language mengalami penurunan performa yang cukup besar ketika harus memahami instruksi yang berasal dari pola bahasa lansia.

Masalahnya bukan semata-mata kemampuan teknologi yang kurang canggih. Justru, penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi perlu lebih adaptif terhadap cara pengguna berkomunikasi.

Artinya, jika teknologi memang ingin membantu lansia, pengembang tidak cukup hanya membuat sistem semakin pintar. Sistem juga harus mampu memahami bahwa pengguna memiliki usia, pengalaman digital, kebiasaan, dan cara berkomunikasi yang berbeda.

Temuan ini memberikan pesan penting dalam pengembangan teknologi untuk populasi yang semakin menua.

Teknologi ramah lansia bukan berarti teknologi harus dibuat “kuno” atau memiliki fitur yang sangat sedikit. Sebaliknya, teknologi tetap dapat menggunakan AI dan fitur canggih, tetapi cara berinteraksinya harus dibuat lebih mudah dipahami dan lebih toleran terhadap kesalahan pengguna.

Misalnya, sistem dapat meminta klarifikasi ketika perintah belum jelas, memberikan pilihan yang sederhana, mempertahankan konteks percakapan, atau menjelaskan langkah berikutnya dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Jumlah lansia di dunia terus bertambah. Bersamaan dengan itu, teknologi digital akan semakin masuk ke kehidupan sehari-hari. Tantangannya bukan lagi sekadar membuat teknologi yang lebih pintar, tetapi membuat teknologi yang lebih memahami manusia.

Bagi lansia, teknologi terbaik mungkin bukan yang memiliki fitur paling banyak atau AI paling canggih. Melainkan teknologi yang ketika digunakan terasa sederhana, jelas, tidak membuat bingung, dan mau “mengerti” ketika penggunanya tidak berbicara dengan bahasa yang sempurna. (lia)

***

teknologi lansia,hp,hp lansia,gagap teknologi

ARTIKEL LAINNYA

Saat Para Lansia Disambangi Tangan-Tangan Mungil Siswa TK Assalam

Di Balik Kematian Pralansia di Kebun Kelapa, Ada Apa yang Mungkin Terjadi?

Bukan Sekadar Diam, Perubahan Cara Bicara Bisa Menjadi Petunjuk Kesepian Lansia

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026