Polusi Udara dan Lansia: Ancaman yang Sering Terlewat


Polusi udara luar ruangan diperkirakan ikut andil dalam 3,7 juta kematian dini di seluruh dunia, hanya dalam satu tahun (2012).

2026-09-11T13:00

Oleh dr. Fatihah "Kiki" Fikriyah

GERIATRI.CO.ID - Pernah lihat pemandangan kakek atau nenek yang sedang berjemur di pagi hari sambil menghirup udara segar? Kadang sambil duduk-duduk dan bercengkrama dengan teman sebayanya, ngobrol soal apa saja sambil menikmati matahari pagi. Pemandangan yang menenangkan, dan rasanya begitu biasa kita temui di lingkungan sekitar rumah.

Tapi coba dipikir lagi, udara pagi yang mereka hirup itu sebenarnya sebersih apa? Jarang ada yang bertanya sampai sejauh itu. Sore harinya biasanya sama saja, ada yang duduk santai di teras menunggu waktu magrib, sementara langit di kejauhan sudah berubah agak kelabu, entah karena kabut atau asap kendaraan yang menumpuk sejak pagi. Untuk tubuh yang sudah berumur, udara semacam itu ternyata bukan sekadar udara yang lewat begitu saja.

Soal kualitas udara, Indonesia sudah lama jadi sorotan, tercatat sebagai negara dengan udara terburuk di Asia Tenggara, dan Jakarta hampir selalu masuk daftar kota dengan udara terburuk di dunia. Polusi udara bahkan diperkirakan memangkas rata-rata 2,3 tahun harapan hidup penduduknya. Dari siapa saja yang paling menanggung akibatnya, salah satunya jelas lansia.

Tubuh yang Menua, Napas yang Melemah

Kenapa lansia jadi kelompok yang paling sering disebut rentan? Alasannya cukup masuk akal. Seiring bertambahnya usia, paru-paru kehilangan kelenturannya dan sistem imun tidak lagi setangguh dulu. Belum lagi kalau sudah ada penyakit bawaan seperti jantung atau diabetes, yang membuat tubuh jauh lebih gampang "kewalahan" begitu udara yang dihirup kotor. Ironisnya, penelitian tentang dampak polusi pada lansia justru termasuk yang paling sedikit dibanding kelompok usia lain, padahal merekalah yang paling terdampak, baik dalam jangka pendek maupun panjang, terhadap kesehatan jantung-paru dan risiko kematian.

Angkanya sendiri tidak main-main. Polusi udara luar ruangan diperkirakan ikut andil dalam 3,7 juta kematian dini di seluruh dunia, hanya dalam satu tahun (2012). Sebagian besar bebannya jatuh ke lansia, lewat kunjungan IGD yang lebih sering, rawat inap, dan penyakit kronis yang kambuh lagi seperti pneumonia.

Bukan Cuma Paru-paru, Jantung Pun Ikut Terbebani

Banyak orang mengira polusi udara cuma urusan napas. Padahal partikel halus seperti PM2.5 itu cukup kecil untuk masuk ke aliran darah lewat dinding paru-paru, memicu peradangan yang lama-lama membebani kerja jantung. Sebuah studi besar yang melibatkan lebih dari 565.000 orang menunjukkan paparan jangka panjang PM2.5 berkaitan dengan kematian akibat penyakit jantung iskemik dan stroke, bahkan pada kadar yang masih tergolong di bawah ambang batas aman versi Amerika Serikat.

Setiap kenaikan 10 µg/m³ partikel debu halus berkaitan dengan naiknya risiko kematian sebesar 0,64% pada lansia, dibandingkan hanya 0,34% pada kelompok usia lebih muda, hampir dua kali lipat bedanya. Di negara beriklim tropis seperti kita, pola serupa juga terlihat: kenaikan polusi partikel berkaitan jelas dengan kematian akibat penyakit jantung pada kelompok usia 65 tahun ke atas, sementara pada usia yang lebih muda efeknya nyaris tidak terlihat.

Ingatan yang Pelan-pelan Terkikis

Bagian yang jarang terpikir orang justru soal otak. Polusi udara selama ini identik dengan masalah napas dan jantung, padahal semakin banyak bukti bahwa udara kotor juga ikut berperan dalam cara otak menua. Riset yang melacak data kualitas udara selama satu dekade di Inggris mendapati paparan NO2 dan PM2.5 berkaitan dengan kemampuan kognitif yang lebih rendah pada lansia di atas 65 tahun, khususnya dalam keterampilan berbahasa. Diduga ini terkait gangguan pada lobus temporal otak.

Pada pasien yang sudah didiagnosis Alzheimer, dampaknya juga tetap kelihatan. Paparan kronis sulfur dioksida dan PM2.5 tercatat mempercepat penurunan daya ingat dalam studi longitudinal selama empat tahun. Bahkan paparan ozon dalam kadar rendah sekalipun bisa mempercepat penurunan kognitif di tahap awal demensia, terutama pada orang yang membawa gen APOE4. Wajar saja kalau Lancet Commission pada tahun 2020 memasukkan polusi udara sebagai salah satu faktor risiko demensia yang sebenarnya bisa dicegah.

Suasana Hati yang Ikut Terpengaruh

Ada satu sisi yang jarang dibahas: polusi udara ternyata juga menyentuh kondisi psikologis lansia. Kenaikan PM2.5 berkaitan dengan memburuknya skor depresi, dan efeknya lebih terasa pada lansia, perempuan, serta mereka yang sudah menjanda atau menduda. Jalurnya lewat kualitas tidur yang memburuk, kepuasan hidup yang menurun, dan fungsi kognitif yang ikut melemah, sesuatu yang juga didukung oleh sejumlah meta-analisis sebelumnya.

Bagaimana dengan Kita di Indonesia?

Konteks ini terasa dekat, bukan cuma teori dari negara jauh. Greenpeace Indonesia memperkirakan sekitar 7.390 warga Jakarta meninggal lebih awal setiap tahun karena polusi udara. Polusi dari PLTU batu bara saja diperkirakan menyumbang sekitar 1.470 kematian per tahun. Di setiap laporan, kelompok yang disebut paling rentan hampir selalu sama: anak-anak, lansia, dan orang-orang dengan penyakit penyerta.

Dampaknya pun tidak berhenti di gangguan pernapasan saja. Kalau paparannya berlangsung lama, risikonya bisa merambat ke masalah lain, termasuk gagal ginjal dan demensia, seperti yang sempat disampaikan seorang dosen keperawatan dalam sebuah paparan publik di Surabaya.

Yang Bisa Kita Lakukan

Untungnya, ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan untuk menjaga orang-orang tersayang yang sudah lanjut usia:

  • Cek indeks kualitas udara harian lewat aplikasi pemantau, lalu sesuaikan jam aktivitas luar ruangan lansia, hindari jam-jam sibuk lalu lintas.
  • Pakai masker yang bisa menyaring partikel halus, seperti KF94 atau KN95, terutama saat udara sedang buruk (ini juga rekomendasi Kementerian Kesehatan RI).
  • Di dalam rumah, pasang penyaring udara HEPA atau AC dengan filter yang layak, dan jauhkan dari sumber polusi tambahan seperti asap rokok atau bakar sampah di sekitar rumah.
  • Tetap ajak lansia beraktivitas fisik ringan. Manfaat olahraga terhadap suasana hati dan daya pikir tetap ada, asal dilakukan di waktu dan tempat dengan udara yang lebih bersih.
  • Jangan anggap remeh keluhan kecil, sesak ringan, gampang lelah, atau perubahan suasana hati bisa jadi tanda awal yang perlu diperhatikan lebih serius pada lansia.

Penutup

Polusi udara memang tidak pernah terasa mendesak. Tidak ada suara, tidak ada rasa sakit yang muncul tiba-tiba. Tapi dari semua yang sudah dibahas, ada satu hal yang cukup jelas: bagi tubuh yang sudah berumur, udara yang kita anggap biasa saja itu bisa berarti jauh lebih besar. Menjaga kualitas udara di sekitar orang tua atau kakek-nenek kita, sekecil apa pun caranya, mungkin adalah bentuk sayang yang paling sederhana, tapi justru paling sering terlewat.

***

Sumber Bacaan
1. Adverse Effects of Outdoor Pollution in the Elderly — PMID 25694816  https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/25694816/
2. Adverse Respiratory Effects of Outdoor Air Pollution in the Elderly — PMID 22871325  https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22871325/
3. Effects of Air Pollution on Health of Older Adults during Physical Activities — PMID 36834200  https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36834200/
4. PM2.5 Air Pollution and Cause-Specific Cardiovascular Disease Mortality — PMID 31289812  https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31289812/
5. Particulate Air Pollution on Cardiovascular Mortality in the Tropics — PMC 6471752  https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6471752/
6. Air Pollution and Cardiovascular Disease: Vulnerable Populations Worldwide — PMID 30931239  https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30931239/
7. Air Pollution and Cognitive Function/Decline/Dementia: Systematic Review — PMID 27328897  https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27328897/
8. Air Pollution Associated with Faster Cognitive Decline in Alzheimer's Disease — PMID 37106569  https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37106569/
9. Association of Low-Level Ozone with Cognitive Decline in Older Adults — PMID 29103040  https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29103040/
10. The Long-Term Effects of Air Pollution on Elderly Health: China — PMC 11689740  https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC11689740/
11. The Hidden Toll of Air Pollution: Mental Health Effects — PMC 12271093  https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC12271093/
12. The Alarming Impact of Air Pollution on the Health of Aging Adults — USC Ostrow  https://ostrowonline.usc.edu/the-alarming-impact-of-air-pollution-on-the-health-of-aging-adults/
13. Psychological Repercussions of PM Air Pollution in Human Aging — Frontiers in Pharmacology  https://www.frontiersin.org/journals/pharmacology/articles/10.3389/fphar.2025.1517090/full
14. Paparan Polusi Udara Membahayakan Kesehatan Otak Lansia — Kompas  https://www.kompas.id/artikel/paparan-polusi-udara-membahayakan-kesehatan-otak-lansia
15. Polusi Udara, Ancaman Genting Tak Kasat Mata — Greenpeace Indonesia  https://www.greenpeace.org/indonesia/cerita/58786/polusi-udara-ancaman-genting-tak-kasat-mata/
16. Polusi Jakarta Peringkat 1 di Dunia — UGM One Health Center of Excellence  https://ohce.wg.ugm.ac.id/polusi-jakarta-peringkat-1-di-dunia-bagaimana-dampaknya-pada-kesehatan/
17. Dosen UM Surabaya Paparkan Dampak Polusi Udara Bagi Lansia  https://www.um-surabaya.ac.id/article/dosen-um-surabaya-paparkan-dampak-polusi-udara-bagi-lansia

***

 

jurnal,polusi udara,karhutla,lansia

ARTIKEL LAINNYA

Meraih Keberkahan Usia Senja Melalui Al-Qur'an

Untuk Pertama Kalinya, Jumlah Lansia Dunia Melampaui Anak Balita

Catatan Senior Pasca Gathering 3 di Solo

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026