
Oleh dr. Fatihah Fikriyah
GERIATRI.CO.ID - Jika belakangan ini Anda sering mendengar berita tentang cuaca panas ekstrem, itu bukan kebetulan. Pertengahan 2026 ini, Eropa mengalami gelombang panas yang benar-benar parah, dengan suhu di beberapa tempat menembus 40°C.
WHO mencatat lebih dari 1.300 kematian berlebih sejak akhir Juni, dan sebagian besar korbannya adalah lansia. Yang menarik untuk kita catat: kebanyakan bukan meninggal karena sengatan panas di jalan, melainkan karena penyakit jantung dan stroke yang memburuk di dalam rumah mereka sendiri.
WMO memproyeksikan suhu rata-rata global 2026–2030 akan terus berada di atas normal. Jadi kejadian seperti ini kemungkinan akan terus berulang beberapa tahun ke depan.
Ada juga temuan yang mungkin belum banyak diketahui: gelombang panas berkepanjangan ternyata juga membebani kesehatan mental. Studi terhadap 2,6 juta pasien rumah sakit di empat negara menemukan lonjakan kunjungan darurat akibat kecemasan dan gangguan mental selama periode panas berkepanjangan, dan lagi-lagi, lansia menjadi kelompok yang paling terdampak.
Lalu bagaimana dengan kita di Indonesia? Kita memang tidak mengalami heatwave seperti Eropa, tapi bukan berarti bisa bersantai. BMKG memperkirakan puncak musim kemarau tahun ini berlangsung Juli–September, dengan cakupan terluas pada Agustus. Suhu malam hari yang tetap tinggi membuat tubuh kehilangan waktu untuk pulih dari panas siang hari, dan kelembapan khas iklim tropis membuat keringat sulit menguap. Jadi meski suhu udara "hanya" di kisaran 33–36°C, tubuh sebenarnya bekerja lebih keras dari yang terlihat.
Dari situlah artikel ini disusun — untuk menjawab keresahan yang wajar dirasakan siapa pun yang punya orang tua atau merawat pasien lansia: apa yang terjadi pada tubuh mereka saat cuaca panas, tanda bahaya yang perlu diwaspadai, dan langkah pencegahan yang bisa diterapkan di rumah agar musim kemarau ini dapat dilalui dengan aman.
Mengapa Lansia Lebih Rentan?
Tubuh manusia sebenarnya punya mekanisme pendinginan yang cukup canggih — salah satunya rasa haus, yang mendorong kita minum sebelum tubuh benar-benar kekurangan cairan. Namun seiring bertambahnya usia, sinyal haus ini melemah. Akibatnya, banyak lansia sudah mengalami dehidrasi tanpa merasa haus sama sekali, sehingga tanda bahaya sering terlewat begitu saja.
Kelenjar keringat pun ikut menua. Proses pendinginan alami tubuh — berkeringat lalu menguap — menjadi kurang efisien, sehingga panas lebih mudah "tertahan" di dalam tubuh. Kondisi ini semakin berat bila lansia juga memiliki penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, gangguan jantung, atau gangguan ginjal, karena organ-organ tersebut sudah bekerja dengan cadangan yang lebih tipis, dan dehidrasi ringan saja bisa memicu komplikasi yang serius.
Ada satu hal lagi yang sering luput dari perhatian keluarga: obat-obatan rutin yang dikonsumsi lansia. Diuretik, beta-blocker, hingga sejumlah obat antidepresan atau antipsikotik, dapat memengaruhi kemampuan tubuh mengatur suhu atau justru mempercepat kehilangan cairan. Karena itu, penting bagi keluarga untuk tidak menghentikan obat sendiri, melainkan mendiskusikan penyesuaian dosis bersama dokter yang merawat, terutama saat memasuki puncak musim kemarau.
Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai
Dampak cuaca panas pada lansia biasanya tidak muncul sekaligus, melainkan bertahap, dan justru di situlah letak bahayanya — sering kali baru disadari ketika sudah cukup berat. Tahap paling awal biasanya berupa dehidrasi ringan yang menurunkan tekanan darah, membuat lansia mudah pusing, lemas, bahkan terjatuh saat berdiri tiba-tiba. Bila dibiarkan, kondisi ini bisa berkembang menjadi kelelahan akibat panas (heat exhaustion), yang ditandai dengan keringat berlebih, denyut nadi cepat, sakit kepala, mual, dan kram otot.
Jika tahap ini juga tidak segera ditangani, tubuh bisa jatuh ke kondisi yang jauh lebih serius: sengatan panas atau heat stroke. Ini adalah kegawatdaruratan medis sesungguhnya — suhu tubuh melonjak di atas 40°C, kulit terasa panas dan kemerahan, kesadaran menurun, bahkan bisa disertai kejang. Tanpa pertolongan cepat, kerusakan dapat terjadi pada otak, jantung, hati, dan ginjal sekaligus.
Yang perlu dipahami juga, panas tidak hanya menyerang lewat suhu tubuh, tapi juga lewat jantung. Saat cuaca panas, jantung harus bekerja lebih keras memompa darah ke permukaan kulit agar panas bisa dibuang. Bila ditambah dehidrasi yang mengentalkan darah, risiko serangan jantung dan stroke pun ikut meningkat — inilah sebabnya banyak kematian akibat gelombang panas sebenarnya tercatat sebagai serangan jantung atau stroke, bukan sengatan panas itu sendiri.
Dan terakhir, ada dampak yang sering terlupakan karena tidak terlihat: kesehatan mental. Cuaca panas berkepanjangan dapat memicu kecemasan dan disorientasi, terutama pada lansia yang tinggal sendiri atau jauh dari akses layanan kesehatan. Dukungan sosial dan kunjungan rutin dari keluarga menjadi jauh lebih berarti di masa-masa seperti ini.
Tanda Bahaya: Kapan Harus ke IGD
Segera bawa ke fasilitas medis bila lansia menunjukkan:
Bila muncul tanda kelelahan panas (lemas berat, pusing, mulut kering, kram, jarang berkemih): segera pindahkan ke tempat sejuk dan berventilasi, longgarkan pakaian, kompres dengan handuk basah/kipas angin, dan beri sedikit air minum bila masih sadar penuh. Jangan menunggu gejala membaik sendiri.
Langkah Pencegahan Praktis
Penutup
Data global 2026 menunjukkan bahwa ancaman panas terhadap lansia bukan lagi isu masa depan, melainkan realitas yang sedang berlangsung. Meski Indonesia tidak menghadapi gelombang panas seekstrem Eropa, kombinasi suhu tinggi dan kelembapan tropis tetap membawa risiko nyata, khususnya bagi kelompok lansia dengan penyakit penyerta. Kewaspadaan dini, kecukupan cairan, penyesuaian activitis, serta peran aktif keluarga dan tenaga kesehatan menjadi kunci agar musim kemarau dapat dilalui dengan aman.
***
* Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis langsung. Bagi lansia dengan kondisi kesehatan tertentu, disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk penyesuaian perawatan selama musim kemarau.
Daftar Pustaka
1. World Health Organization (WHO). (2026). Heat and Health [Fact Sheet]. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/climate-change-heat-and-health
2. World Health Organization (WHO)/Europe. (2026). Climate Change and Health [Fact Sheet]. https://www.who.int/europe/news-room/fact-sheets/item/climate-change
3. World Meteorological Organization (WMO). (28 Mei 2026). New Report Suggests More Global Temperature Records Ahead [Siaran Pers]. https://wmo.int/news/media-centre/new-report-suggests-more-global-temperature-records-ahead
4. World Meteorological Organization (WMO). (2026). Global Annual to Decadal Climate Update 2026–2035. https://wmo.int/resources/publication-series/wmo-global-annual-decadal-climate-update/global-annual-decadal-climate-update-2026-2035
5. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). (30 Juli 2026). BMKG: Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Puncak Terjadi Agustus Mendatang [Siaran Pers]. https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/bmkg-musim-kemarau-2026-datang-lebih-awal-puncak-terjadi-agustus-mendatang
6. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). (2026). Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026 di Indonesia (Pemutakhiran Juni 2026). https://www.bmkg.go.id/iklim/prediksi-musim/prediksi-musim-kemarau-tahun-2026-di-indonesia-pemutakhiran-juni-2026
7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dampak Kesehatan Akibat Perubahan Iklim dan Cuaca Ekstrem. Sekretariat Jenderal Kemenkes RI.
Catatan: studi mengenai lonjakan 2,6 juta pasien rumah sakit dan gangguan kesehatan mental selama gelombang panas dikutip dari laporan Kompas.com (28 Juli 2026).
***
Foto: Ilustrasi (chatgpt.com)
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri