Kabut Asap Karhutla: Dampak Kesehatan Secara Umum dan Risiko Khusus bagi Lansia


Pada paparan yang cukup tinggi, EPA mencatat bisa muncul peradangan yang berdampak lebih luas ke tubuh.

2026-09-02T07:30

Oleh dr. Fatihah Fikriyah

GERIATRI.CO.ID - Bulan-bulan ini, banyak dari kita mungkin sudah merasakannya langsung. Udara yang tiba-tiba pekat, jarak pandang yang memendek, anak sekolah yang tiba-tiba diliburkan karena kabut asap. 

Ini bukan cerita satu daerah saja. Menurut data Kementerian Kesehatan RI, kabut asap karhutla 2026 sudah berdampak pada lebih dari 10 juta warga di tujuh provinsi: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan. Di Banjarbaru, konsentrasi PM2.5 bahkan sempat menembus 389 mikrogram per meter kubik. Angka ini jauh di atas ambang batas yang dianggap berbahaya bagi kesehatan.

Dampaknya sudah mulai terasa di layanan kesehatan. Kasus ISPA meningkat tajam di berbagai wilayah terdampak, dan Kemenkes sampai harus mengerahkan ratusan tenaga kesehatan untuk membantu penanganan di lapangan.

Satu hal yang penting dipahami: dampak asap karhutla tidak sama bagi setiap orang. Ada yang hanya merasa mata perih atau tenggorokan gatal beberapa hari lalu membaik sendiri. Tapi bagi sebagian lain, terutama lansia, paparan yang sama bisa jauh lebih berat. Tulisan ini membahas dampak kabut asap secara umum terlebih dahulu, lalu masuk lebih dalam ke alasan mengapa lansia perlu perhatian ekstra, ditutup dengan langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk melindungi diri selama musim karhutla ini berlangsung.

Apa yang Membuat Asap Karhutla Berbahaya?

Asap kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar kabut biasa. CDC (Centers for Disease Control and Prevention) menjelaskannya sebagai campuran gas dan partikel halus hasil pembakaran pohon, tumbuhan, dan material lain. Di dalam campuran itu terkandung PM2.5, partikel udara yang ukurannya sangat kecil, kurang dari 2,5 mikron, sehingga mampu terhirup jauh ke dalam saluran napas dan bahkan masuk ke aliran darah. Ukurannya yang begitu kecil membuat tubuh kesulitan menyaringnya sebelum mencapai bagian dalam paru-paru, dan inilah yang membedakannya dari debu biasa.

Paparan PM2.5 dalam jangka pendek bisa menimbulkan efek yang bervariasi. Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), efeknya bisa ringan seperti iritasi mata dan saluran napas, tapi bisa juga lebih serius seperti perburukan asma dan gagal jantung. Yang mungkin belum banyak disadari, paparan ini juga dapat mengganggu kemampuan tubuh membersihkan virus dan bakteri dari paru-paru, sehingga saluran napas jadi lebih mudah terinfeksi.

Dampak Kesehatan Secara Umum

Bagi kebanyakan orang dewasa yang sehat, paparan asap dalam waktu singkat, dari beberapa jam sampai beberapa hari, biasanya hanya menimbulkan gejala ringan yang membaik dengan sendirinya begitu menjauh dari sumber asap: mata perih dan berair, iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, atau sesak ringan. Tapi efeknya tidak selalu berhenti di saluran napas. Pada paparan yang cukup tinggi, EPA mencatat bisa muncul peradangan yang berdampak lebih luas ke tubuh.

Gambaran ini cukup jelas terlihat di lapangan selama karhutla 2026 berlangsung. Di Kalimantan Barat saja, jumlah kasus ISPA sudah tercatat lebih dari 151.000 sejak awal tahun. Di beberapa wilayah Kalimantan Tengah, kasus ISPA yang dilaporkan meningkat drastis hanya dalam satu pekan. Dari salah satu titik pemantauan, sekitar separuh pasien yang datang berobat terkait kabut asap adalah anak-anak dan balita, sekitar 40 persen warga usia produktif, dan sekitar 10 persen kelompok lanjut usia. Angka-angka ini menggambarkan bahwa dampaknya memang menyentuh semua kelompok umur, hanya saja tingkat keparahannya berbeda-beda.

Mengapa Lansia Perlu Perhatian Khusus?

Orang berusia 65 tahun ke atas berisiko lebih tinggi mengalami dampak serius dari asap karhutla. EPA menyebut dua alasan utamanya: mereka lebih mungkin sudah memiliki penyakit jantung atau paru kronis, dan secara umum kemampuan tubuh merespons tantangan kesehatan memang menurun seiring usia. Anak-anak, lansia, dan ibu hamil pun sama-sama masuk dalam kelompok yang menurut CDC berisiko mengalami dampak paling berat akibat paparan asap ini.

Pada lansia dengan penyakit jantung, PM2.5 yang masuk ke aliran darah bisa memicu peradangan pembuluh darah, yang pada gilirannya meningkatkan risiko serangan jantung maupun gagal jantung akut. Sementara pada lansia dengan PPOK atau asma, paparan asap dapat memicu perburukan gejala yang cukup berat sampai memerlukan perawatan di IGD. Sebuah studi di Amerika Serikat bahkan mencatat pola serupa: lonjakan kunjungan gawat darurat akibat perburukan PPOK dan asma pada lansia selama periode kabut asap kebakaran hutan.

Dampaknya ternyata tidak berhenti di jantung dan paru saja. AARP, organisasi lansia di Amerika Serikat, merangkum riset yang menunjukkan bahwa paparan asap kebakaran hutan juga bisa memicu peradangan yang memperberat kondisi kulit seperti eksim atau psoriasis, bahkan berpotensi memengaruhi kepadatan tulang. Keduanya kebetulan sudah menjadi perhatian umum pada lansia terlepas dari faktor asap, sehingga paparan asap bisa memperberat kondisi yang memang sudah rentan. Bagi lansia dengan diabetes, EPA turut mencatat bahwa kondisi metabolik ini membuat tubuh lebih rentan terhadap dampak polusi udara secara keseluruhan.

Ada satu hal lagi yang layak diingat: kelompok lansia yang berisiko tinggi terhadap dampak asap sering kali adalah kelompok yang sama yang juga berisiko tinggi terhadap dampak cuaca panas. EPA menekankan bahwa dua ancaman ini bisa datang bersamaan selama musim kemarau, sehingga penanganannya sebaiknya dipikirkan sekaligus, bukan seolah dua masalah yang terpisah.

Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai

Segera cari pertolongan medis bila lansia menunjukkan sesak napas yang memberat, nyeri dada, jantung berdebar tidak seperti biasanya, pusing hebat, atau kebingungan mendadak. Yang perlu diingat, lonjakan kunjungan gawat darurat akibat gangguan pernapasan dan jantung, menurut CDC, justru sering terjadi pada hari-hari setelah paparan asap berlangsung, bukan hanya saat asap sedang pekat-pekatnya. Jadi gejala yang muncul beberapa hari kemudian tetap perlu diwaspadai, bukan dianggap sudah lewat masanya.

Langkah Melindungi Diri Selama Musim Karhutla

  • Pantau kualitas udara secara rutin lewat aplikasi atau situs resmi seperti yang disediakan KLHK/BMKG, lalu sesuaikan aktivitas harian dengan tingkat polusi yang tercatat.
  • Kurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara buruk, terutama bagi lansia dengan penyakit jantung atau paru.
  • Gunakan masker N95 atau setara bila terpaksa keluar rumah saat kabut asap pekat. Masker kain biasa, menurut CDC, tidak cukup efektif menyaring PM2.5.
  • Tutup jendela dan pintu, dan bila tersedia, gunakan pembersih udara (air purifier) di ruangan untuk mengurangi partikel asap yang masuk ke dalam rumah.
  • Siapkan stok obat rutin untuk 7–10 hari ke depan, terutama bagi lansia dengan penyakit jantung, asma, atau PPOK. Ahli kesehatan lingkungan dari UCHealth menyarankan ini supaya lansia tidak perlu keluar rumah saat kualitas udara sedang buruk.
  • Segera hubungi layanan kesehatan bila gejala pernapasan atau jantung memburuk. Jangan menunggu sampai kondisinya benar-benar darurat.

Penutup

Krisis kabut asap karhutla bukan cuma persoalan lingkungan. Ini juga persoalan kesehatan masyarakat yang nyata, dan lansia termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih. Memahami risiko yang dihadapi, mengenali tanda bahaya sejak dini, dan mengambil langkah perlindungan sederhana di rumah, semuanya bisa membantu mengurangi dampak kesehatan yang mungkin timbul selama musim karhutla ini berlangsung.

***

Daftar Pustaka

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (27 Agustus 2026). Situation Report Dampak Kesehatan Karhutla dan Kabut Asap 2026, dikutip dalam Suara Kalbar/Suara Sintang. https://sintang.suarakalbar.co.id/2026/08/kabut-asap-karhutla-ancam-10-juta-warga_01665452827.html

2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Health Alert Network: Wildfire Smoke Exposure. https://www.cdc.gov/han/2023/han00495.html

3. U.S. Environmental Protection Agency (EPA). Who is at Increased Risk of Health Effects from Wildfire Smoke Exposure? https://www.epa.gov/wildfire-smoke-course/who-increased-risk-health-effects-wildfire-smoke-exposure

4. U.S. Environmental Protection Agency (EPA). Health Effects Attributed to Wildfire Smoke. https://www.epa.gov/wildfire-smoke-course/health-effects-attributed-wildfire-smoke-0

5. U.S. Environmental Protection Agency (EPA). Co-exposure to Wildfire Smoke and Heat. https://www.epa.gov/wildfire-smoke-course/co-exposure-wildfire-smoke-and-heat

6. AARP. (17 Juli 2026). Wildfire Smoke Health Risks for Older Adults. https://www.aarp.org/health/conditions-treatments/wildfire-smoke-health-risks-older-adults/

7. UCHealth Today. (2026). How to Stay Safe When Wildfires Impact Air Quality. https://www.uchealth.org/today/how-to-stay-safe-when-wildfires-impact-air-quality/

8. Lin, Z.X., Sharon, T., & Szerszen, A. (2024). Asthma and COPD Exacerbations: ED Visits and Hospitalizations After Wildfire Smoke Exposure Among Older Adults. Innovation in Aging, 8(Suppl 1). https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC11691118/
9. Kompas.com. (21 Agustus 2026). Karhutla Datang: Kemarau, Bakar Lahan, hingga Soal Paru-paru Warga. https://nasional.kompas.com/read/2026/08/21/20550671/karhutla-datang-kemarau-bakar-lahan-hingga-soal-paru-paru-warga

***

* Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis langsung. Bagi lansia dengan penyakit jantung, paru, atau kondisi kronis lain, disarankan berkonsultasi dengan dokter mengenai langkah perlindungan yang sesuai selama kualitas udara memburuk.


Foto: Ilustrasi (pixabay.com)


 

jurnal,karhutla,kebakaran hutan,ispa,lansia

ARTIKEL LAINNYA

Cookies Oat Pisang ala Lansia

Menjembatani Lansia dan Teknologi Agar Tak Terpinggirkan

Berdiri dari Kursi Tanpa Pegangan, Benarkah Bisa Menunjukkan Seberapa Sehat Lansia?

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026