
GERIATRI.CO.ID - Banyak orang percaya bahwa mengisi teka-teki silang, bermain sudoku, atau membaca buku dapat membantu menjaga daya ingat di usia lanjut. Namun, benarkah salah satunya lebih baik untuk kesehatan otak?
Menurut para ahli, tidak ada satu aktivitas yang terbukti paling ampuh mencegah demensia. Sebaliknya, menjaga otak tetap aktif melalui berbagai kegiatan yang menantang secara mental merupakan salah satu kebiasaan yang dapat mendukung kesehatan kognitif seiring bertambahnya usia.
Saat membaca, otak bekerja untuk memahami informasi, mengingat alur cerita, mengenali kosakata, dan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman sebelumnya. Aktivitas ini melibatkan berbagai bagian otak sekaligus.
National Institute on Aging (NIA) menjelaskan bahwa terus belajar dan melakukan aktivitas yang merangsang otak dapat membantu menjaga fungsi kognitif pada usia lanjut. Membaca buku, koran, atau majalah juga dapat menjadi cara sederhana untuk mempertahankan kebiasaan berpikir aktif.
Selain itu, membaca sering kali membantu mengurangi stres dan meningkatkan konsentrasi, dua hal yang juga berperan dalam menjaga kesehatan otak.
Di sisi lain, permainan seperti teka-teki silang, sudoku, catur, atau permainan strategi menuntut otak untuk memecahkan masalah, mengenali pola, serta menggunakan logika dan daya ingat.
Menurut Alzheimer's Association, aktivitas yang menantang kemampuan berpikir dapat membantu menjaga fungsi kognitif. Namun, manfaatnya akan lebih besar jika seseorang terus mencoba tantangan baru, bukan hanya mengulang permainan yang sudah sangat dikuasai.
Jadi, mana yang lebih baik? Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa membaca buku lebih baik daripada bermain teka-teki, atau sebaliknya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa berbagai aktivitas yang merangsang otak merupakan bagian dari gaya hidup sehat, tetapi belum ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa latihan otak saja dapat mencegah demensia.
Artinya, baik membaca maupun bermain teka-teki sama-sama bermanfaat sebagai cara untuk menjaga otak tetap aktif. Yang terpenting adalah memilih aktivitas yang disukai sehingga dapat dilakukan secara rutin.
Menjaga kesehatan otak tidak cukup hanya dengan melatih pikiran. WHO menekankan bahwa pencegahan penurunan fungsi kognitif juga perlu didukung oleh:
Kombinasi berbagai kebiasaan sehat tersebut dinilai lebih penting daripada hanya mengandalkan satu jenis aktivitas. (lia)
***
Foto: Dua lelaki tua duduk dan menikmati pemandangan jalanan yang ramai di Jakarta, Indonesia. (Febri Visual/pexel.com)
*****
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri