
GERIATRI.CO.ID - Kelompok lanjut usia (lansia) sering kali terlihat menjadi lebih mudah tersinggung, sedih, atau terbawa perasaan dibandingkan ketika masih muda. Perubahan emosi pada lansia ini merupakan proses yang kompleks.
Faktor usia, pengalaman hidup, kondisi kesehatan, perubahan kemampuan kognitif, hingga lingkungan sosial dapat memengaruhi bagaimana seseorang merasakan dan mengelola emosinya.
Anggapan bahwa lansia menjadi lebih sensitif hanya karena faktor usia sebenarnya terlalu sederhana. Penelitian mengenai penuaan dan emosi menunjukkan bahwa hubungan antara usia dan pengelolaan emosi cukup beragam.
Sebuah tinjauan penelitian yang diterbitkan dalam Perspectives on Psychological Science menemukan bahwa lansia justru rata-rata melaporkan pengalaman emosi yang cukup positif. Namun, kemampuan mengatur emosi tidak selalu meningkat seiring bertambahnya usia. Hasil penelitian yang ada masih menunjukkan perbedaan tergantung situasi, strategi yang digunakan, kondisi fisik, kemampuan kognitif, dan karakter setiap individu.
Artinya, perubahan emosi pada lansia tidak bisa disimpulkan hanya dengan mengatakan bahwa mereka “lebih sensitif”.
Ketika lansia mudah tersinggung, menangis, atau marah, respons pertama keluarga sebaiknya bukan langsung mengatakan, “Maklum sudah tua.” Perasaan mereka tetap perlu didengarkan.
Beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
Menjadi lebih emosional pada usia lanjut bukan berarti seseorang menjadi lemah atau kekanak-kanakan. Emosi pada lansia dipengaruhi oleh kombinasi pengalaman hidup, kondisi kesehatan, kemampuan kognitif, hubungan sosial, serta perubahan yang mereka alami.
Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa penuaan tidak selalu berkaitan dengan memburuknya kemampuan mengelola emosi. Beberapa lansia justru mampu memilih strategi yang lebih sesuai dengan situasi yang dihadapi. Studi tahun 2026 menemukan bahwa lansia dapat menunjukkan kemampuan yang berbeda dalam menyesuaikan strategi pengelolaan emosi berdasarkan apakah suatu situasi dianggap dapat dikendalikan atau tidak.
Karena itu, ketika orang tua terlihat lebih mudah tersinggung atau terbawa perasaan, pendekatan yang paling tepat bukan sekadar menyalahkan usia. Cobalah memahami apa yang sedang mereka rasakan, perubahan apa yang sedang mereka hadapi, dan apakah ada kebutuhan yang belum tersampaikan.
Dengan memahami perubahan emosi pada lansia, keluarga dapat memberikan dukungan yang lebih tepat sekaligus membantu mereka tetap merasa dihargai, didengar, dan memiliki kendali atas kehidupannya. (lia)
*****
Foto: (Efsanjoi Siringoringo/pexels.com)
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri