
GERIATRI.CO.ID - Bagi lansia, pindah ke panti bukan hanya soal berganti tempat tinggal. Ada proses penyesuaian yang perlu dilalui, mulai dari menerima lingkungan baru hingga membangun kembali hubungan sosial.
Keputusan untuk membawa orang tua atau anggota keluarga lanjut usia ke panti sering kali tidak mudah. Di satu sisi, keluarga mungkin melihat panti sebagai tempat yang dapat memberikan perawatan dan pendampingan yang lebih sesuai dengan kebutuhan lansia. Di sisi lain, lansia perlu meninggalkan lingkungan yang selama ini sudah dikenalnya.
Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan lansia menyesuaikan diri dengan kehidupan di panti dipengaruhi oleh berbagai faktor. Sebuah systematic review yang menganalisis 20 penelitian mengelompokkan faktor tersebut ke dalam aspek demografis, fisiologis, psikologis, sosial, proses relokasi, dan karakteristik fasilitas.
Lantas, apa saja tantangan yang mungkin dihadapi lansia ketika harus pindah ke panti?
Kehilangan kendali atas keputusan
Salah satu faktor yang berkaitan dengan kemampuan lansia beradaptasi adalah decision-making control, atau sejauh mana mereka memiliki kendali dalam pengambilan keputusan.
Artinya, proses pindah ke panti sebaiknya tidak semata-mata menjadi keputusan keluarga. Jika kondisi memungkinkan, lansia perlu dilibatkan dalam pembicaraan mengenai tempat tinggal dan perawatan yang akan dijalaninya.
Harus beradaptasi dengan lingkungan baru
Pindah ke panti berarti lansia harus berhadapan dengan lingkungan yang berbeda dari rumah sebelumnya. Kamar, jadwal kegiatan, orang-orang di sekitar, hingga cara menjalani aktivitas sehari-hari bisa berubah. Karena itu, proses adaptasi tidak selalu berlangsung dalam waktu singkat.
Penelitian yang sama menunjukkan bahwa faktor yang berkaitan dengan proses relokasi dan karakteristik fasilitas merupakan bagian dari berbagai faktor yang berhubungan dengan penyesuaian lansia di panti.
Penelitian lain juga menemukan bahwa kondisi kesehatan, persepsi lansia terhadap panti, dukungan emosional dari staf dan penghuni lain, kepuasan keluarga, serta kepuasan terhadap fasilitas berkaitan dengan kemampuan lansia beradaptasi.
Hubungan sosial bisa berubah
Ketika pindah ke panti, lansia juga memasuki lingkungan sosial yang baru. Mereka mungkin bertemu dengan penghuni lain dan staf yang sebelumnya tidak dikenal. Bagi sebagian orang, membangun hubungan baru bisa menjadi bagian dari proses adaptasi.
Hal ini penting karena dukungan sosial merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan penyesuaian lansia di panti. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan emosional dari staf dan penghuni lain merupakan salah satu prediktor adaptasi terhadap kehidupan di panti.
Di luar lingkungan panti, hubungan dengan keluarga juga tetap penting.
Kemandirian juga perlu diperhatikan
Kemampuan lansia melakukan aktivitas sehari-hari menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan penyesuaian di panti.
Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan setiap lansia berbeda. Ada lansia yang masih mampu melakukan banyak aktivitas sendiri, sementara lainnya membutuhkan bantuan lebih banyak.
Keluarga dan pengelola panti perlu melihat kemampuan tersebut secara individual. Bantuan diberikan sesuai kebutuhan, sementara kemampuan yang masih dimiliki lansia tetap didukung.
Pendekatan seperti ini penting agar perawatan tidak hanya berfokus pada kondisi kesehatan, tetapi juga membantu mempertahankan kemampuan lansia dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Lama tinggal juga berpengaruh
Adaptasi tidak selalu terjadi begitu saja sejak hari pertama. Systematic review menemukan bahwa lama tinggal di panti termasuk salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam proses penyesuaian.
Dengan demikian, keluarga sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa lansia "tidak cocok" hanya karena pada awalnya terlihat kesulitan mengikuti kehidupan di panti.
Sebaliknya, kondisi lansia perlu terus diperhatikan selama masa transisi. Apakah mereka mulai mengenal lingkungan? Apakah memiliki hubungan dengan penghuni lain? Apakah merasa nyaman dengan staf? Apakah masih dapat melakukan aktivitas yang disukai?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu keluarga dan pengelola memahami proses adaptasi secara lebih menyeluruh.
Jangan abaikan rasa kesepian
Kesepian menjadi hal lain yang perlu diperhatikan ketika lansia mengalami perubahan lingkungan sosial.
WHO menyebutkan bahwa kesepian dan isolasi sosial merupakan faktor risiko penting bagi masalah kesehatan mental pada usia lanjut. WHO juga menekankan bahwa kegiatan sosial yang bermakna dapat membantu meningkatkan kesehatan mental, kepuasan hidup, dan kualitas hidup lansia.
Karena itu, kehidupan di panti idealnya tidak hanya berisi jadwal makan, minum obat, dan pemeriksaan kesehatan. Kesempatan untuk berbincang, mengikuti kegiatan bersama, melakukan hobi, berinteraksi dengan keluarga, maupun membangun pertemanan juga merupakan bagian penting dari kesejahteraan lansia.
Keluarga juga perlu beradaptasi
Bukan hanya lansia yang mengalami perubahan. Keluarga juga dapat menghadapi proses penyesuaian ketika orang tua mulai tinggal di panti.
Penelitian mengenai keluarga yang menghadapi keputusan memasukkan anggota keluarga lansia ke panti menemukan adanya berbagai pengalaman emosional, seperti stres, kecemasan, ketakutan, penolakan, dan rasa bersalah.
Karena itu, keputusan tersebut tidak perlu dilihat secara sederhana sebagai pilihan antara "keluarga yang peduli" dan "keluarga yang tidak peduli".
Dalam kondisi tertentu, panti dapat menjadi bagian dari kebutuhan perawatan lansia. Yang penting adalah memastikan bahwa keputusan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi lansia.
Proses adaptasi dapat dibantu dengan beberapa langkah sederhana.
Pertama, libatkan lansia dalam keputusan. Selama kondisi memungkinkan, dengarkan pendapat dan kekhawatiran mereka.
Kedua, pilih fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan. Perhatikan bukan hanya layanan kesehatan, tetapi juga lingkungan, aktivitas, dukungan staf, serta kesempatan lansia untuk bersosialisasi.
Ketiga, tetap jaga hubungan dengan keluarga. Kunjungan, telepon, atau komunikasi melalui video dapat membantu mempertahankan hubungan sosial.
Keempat, dukung kemampuan lansia. Jangan mengambil alih seluruh aktivitas jika lansia masih mampu melakukannya sendiri.
Kelima, berikan waktu untuk beradaptasi. Setiap lansia memiliki kondisi dan pengalaman yang berbeda. Proses penyesuaian perlu dilihat secara individual.
Panti dapat menjadi salah satu pilihan ketika lansia membutuhkan dukungan dan perawatan yang lebih besar. Namun, pindah ke panti tidak seharusnya berarti hubungan lansia dengan keluarga ikut berakhir.
Justru, dukungan keluarga, hubungan sosial, kesempatan untuk tetap melakukan aktivitas, serta lingkungan fasilitas yang mendukung menjadi bagian penting dalam proses adaptasi.
Pada akhirnya, yang dibutuhkan lansia bukan hanya tempat tinggal yang aman, tetapi juga rasa dihargai, memiliki kendali, tetap terhubung dengan orang lain, dan tetap dapat menjalani kehidupan yang bermakna. (lia)
***
Foto: Suasana di Panti Sosial Tresna Werdha 3, Cilandak. (dedeawe/Geriatri-ID)
***
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri