Ketika Gerakan Ekstrem Menjadi Latihan Keseimbangan Lansia


Yang menarik, manfaat latihan semacam ini tidak berhenti pada peningkatan kekuatan. Lansia yang semakin percaya diri bergerak juga cenderung lebih berani melakukan aktivitas sehari-hari.

2026-08-14T15:04

GERIATRI.CO.ID - Parkour mungkin identik dengan aksi anak muda yang penuh energi: melompat, memanjat, berlari, atau melewati berbagai rintangan. Namun, di Singapura, konsep gerak yang terinspirasi dari parkour justru digunakan untuk membantu lansia melatih keseimbangan, kekuatan, kelenturan, dan keberanian dalam bergerak.

Pendekatan yang tidak biasa ini bahkan menarik perhatian luas setelah kelasnya ramai diperbincangkan di media sosial. Salah satu pesertanya adalah Betty Boon, pensiunan berusia 69 tahun. Setelah mengikuti latihan selama sekitar tiga tahun, ia merasakan manfaat yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Saat berada di Jepang, misalnya, Betty mampu membawa kopernya sendiri menaiki tangga curam di sebuah stasiun kereta. Bagi orang lain mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi seorang lansia, kemampuan melakukan aktivitas seperti itu tanpa bergantung pada suami atau anak merupakan bentuk penting dari kemandirian.

Kelas tersebut dijalankan Movement Singapore yang didirikan pelatih Tan Shie Boon pada 2017. Gerakannya tentu tidak sama dengan parkour ekstrem yang sering terlihat di perkotaan. Latihan disesuaikan dengan kemampuan peserta, dengan penekanan pada cara tubuh bergerak, menjaga keseimbangan, melewati rintangan, menggunakan kekuatan, dan merespons ketika kehilangan keseimbangan.

Ide tersebut bermula ketika seorang perempuan berusia 64 tahun ingin mempelajari parkour untuk mengatasi persoalan keseimbangan. Setelah berlatih, ia dilaporkan mampu mengurangi ketergantungannya pada troli sebagai alat bantu berjalan. Bagi Tan, pengalaman itu menjadi bukti bahwa seseorang yang sudah memasuki usia lanjut masih dapat mengembangkan kemampuan fisiknya apabila mendapatkan latihan yang tepat.

Yang menarik, manfaat latihan semacam ini tidak berhenti pada peningkatan kekuatan. Lansia yang semakin percaya diri bergerak juga cenderung lebih berani melakukan aktivitas sehari-hari. Naik tangga, membawa barang, berjalan di tempat yang tidak rata, atau bangkit dari posisi duduk merupakan kemampuan yang sangat menentukan tingkat kemandirian seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, kisah tersebut bukan berarti semua lansia harus mencoba parkour. Justru sebaliknya, latihan fisik pada usia lanjut harus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing. Gerakan perlu dimulai dari tingkat yang sederhana, dilakukan secara bertahap, dan idealnya mendapatkan pendampingan tenaga atau pelatih yang memahami kebutuhan lansia. Gerakan yang terlalu sulit atau dipaksakan dapat meningkatkan risiko jatuh dan cedera.

Ada satu hal penting yang bisa dipetik dari fenomena ini: lansia tidak selalu harus dipandang sebagai kelompok yang hanya perlu dilindungi dari aktivitas fisik. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk bergerak dan menemukan kembali kemampuan tubuhnya. Rasa percaya diri dalam bergerak sangat penting, terutama bagi lansia yang pernah jatuh dan kemudian menjadi takut melakukan aktivitas karena khawatir terjatuh kembali. (a2s)

***

Foto: Ilustrasi parkour (Mary Taylor/pexels)

parkour,berita lansia,olahraga lansia,lansia sehat

ARTIKEL LAINNYA

Geriatri-ID Gelar Pelatihan Caregiver lagi, Kali ini di Panti Jompo

Buah dengan Gula Tinggi untuk Lansia: Konsumsi yang Bijak

Pelatihan Singkat Geriatri untuk Tenaga Medis Non-Spesialis

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026