
GERIATRI.CO.ID - “Namanya juga sudah tua.”
Kalimat ini sering terdengar ketika lansia mulai mudah lelah, jarang bergerak, atau mengalami perubahan kondisi tubuh. Padahal, tidak semua perubahan tersebut semata-mata karena usia.
Ada pula kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari dapat meningkatkan risiko masalah jantung dan pembuluh darah.
Memang, bertambahnya usia sendiri merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung. Namun, banyak faktor lain yang masih dapat diubah melalui kebiasaan sehari-hari. Centers for Disease Control (CDC) menyebut pola makan, aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol, tekanan darah, kolesterol, dan diabetes sebagai sejumlah faktor yang berkaitan dengan risiko penyakit jantung.
Lantas, kebiasaan apa saja yang perlu diperhatikan?
1. Terlalu banyak duduk dan jarang bergerak
Setelah pensiun atau ketika aktivitas mulai berkurang, lansia mungkin menghabiskan lebih banyak waktu dengan duduk di depan televisi, bermain ponsel, atau berbaring.
Padahal, tubuh tetap membutuhkan aktivitas.
Kurang aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko penyakit jantung sekaligus berkontribusi terhadap berbagai faktor risiko lain, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan berat badan berlebih.
Tidak harus olahraga berat. Berjalan santai, berkebun, melakukan pekerjaan rumah, atau aktivitas fisik lain yang sesuai kemampuan bisa menjadi awal.
2. Terlalu sering makan asin
Konsumsi natrium yang terlalu tinggi dapat meningkatkan tekanan darah, yang pada akhirnya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. WHO merekomendasikan orang dewasa membatasi konsumsi garam hingga kurang dari 5 gram per hari atau sekitar satu sendok teh.
Yang perlu diperhatikan, garam tidak hanya berasal dari garam dapur. Makanan olahan, makanan ringan asin, makanan siap saji, kecap, kaldu, dan berbagai saus juga dapat menyumbang natrium.
Karena itu, mengurangi rasa asin sedikit demi sedikit bisa menjadi kebiasaan sederhana yang baik untuk jantung.
3. Terlalu sering memilih makanan ultra-proses
Makanan kemasan memang praktis, terutama ketika lansia tinggal sendiri atau keluarga tidak sempat memasak.
Namun, sebagian makanan yang sangat diproses dapat mengandung banyak sodium, lemak jenuh, gula tambahan, atau kalori.
WHO merekomendasikan pola makan yang lebih banyak mengandalkan makanan yang minim proses, seperti sayuran, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan sumber protein yang sehat.
Bukan berarti lansia tidak boleh menikmati makanan kemasan sama sekali. Kuncinya adalah jangan sampai makanan praktis menjadi menu utama setiap hari.
4. Masih merokok atau sering terpapar asap rokok
Bagi sebagian lansia, rokok mungkin sudah menjadi kebiasaan puluhan tahun.
Namun, berhenti merokok tetap memberikan manfaat. CDC menyebut penggunaan tembakau meningkatkan risiko penyakit jantung dan serangan jantung. Asap rokok juga dapat merusak jantung dan pembuluh darah, sementara nikotin dapat meningkatkan tekanan darah. Paparan asap rokok dari orang lain juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
Karena itu, rumah sebaiknya menjadi zona bebas asap rokok, terutama jika ada lansia dengan penyakit kronis.
5. Sering tidur terlalu sedikit atau tidak teratur
Tidur terkadang menjadi hal pertama yang dikorbankan ketika rutinitas berubah.
Padahal, tidur merupakan salah satu dari delapan komponen yang digunakan American Heart Association untuk menilai kesehatan kardiovaskular.
CDC juga menyebut kurang tidur berkaitan dengan perkembangan dan pengelolaan penyakit jantung serta beberapa penyakit kronis lainnya. Orang dewasa umumnya dianjurkan mendapatkan setidaknya tujuh jam tidur setiap hari, meski kebutuhan setiap orang dapat berbeda.
Jadi, tidur cukup bukan sekadar agar lansia tidak mengantuk keesokan harinya. Tidur juga bagian dari menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.
6. Mengabaikan tekanan darah karena merasa baik-baik saja
Ini bukan kebiasaan makan atau aktivitas, tetapi sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari: tidak memeriksa tekanan darah karena merasa tidak memiliki keluhan.
Padahal, tekanan darah tinggi sering tidak menimbulkan gejala yang jelas. CDC menyebut hipertensi sebagai salah satu faktor risiko utama penyakit jantung dan menekankan bahwa satu-satunya cara untuk mengetahui apakah tekanan darah tinggi adalah dengan mengukurnya.
Bagi lansia, pemeriksaan berkala dapat membantu keluarga dan tenaga kesehatan mengetahui apakah ada perubahan yang perlu diperhatikan.
7. Menganggap semua keluhan sebagai “wajar karena tua”
Ini mungkin kebiasaan yang paling sering tidak disadari. Lansia mulai mudah lelah, aktivitasnya berkurang, atau tidak lagi kuat berjalan sejauh dulu. Kemudian keluarga mengatakan, “Maklum, sudah tua.”
Padahal, perubahan kemampuan fisik yang baru muncul atau semakin berat sebaiknya tidak otomatis dianggap sebagai bagian normal dari penuaan.
Apalagi jika disertai keluhan seperti sesak, nyeri atau rasa tidak nyaman di dada, pusing, atau penurunan kemampuan beraktivitas yang cukup jelas. (lia)
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri