
GERIATRI.CO.ID — Membangun kota global tidak semata-mata soal megahnya pencakar langit atau canggihnya infrastruktur. Sebuah kota sejati diukur dari sejauh mana ia mampu merangkul dan melindungi warganya—mulai dari usia belia yang sedang bertumbuh hingga generasi senior yang memasuki usia senja. Komitmen inilah yang kini terus diperkuat oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam menghadirkan ruang hidup yang inklusif dan ramah antargenerasi.
Menjelang usianya yang hampir menginjak lima abad, Jakarta memfokuskan kebijakannya pada dua pilar penting: pemenuhan hak anak dan pemberdayaan warga lanjut usia (lansia). Melalui pembenahan akses pendidikan, ruang publik yang aman, perlindungan sosial, hingga kemudahan mobilitas, ibu kota berkomitmen memastikan tidak ada satu pun generasi yang tertinggal dalam proses pembangunan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa status kota ramah anak harus dijaga secara konsisten. Pada Peringatan Hari Anak Nasional ke-42 tingkat Provinsi DKI Jakarta di Balai Kota, beliau menyampaikan bahwa ruang aman dan akses pelayanan mendasar adalah hak mutlak setiap anak agar mereka dapat berkembang optimal sesuai potensinya.
Langkah nyata tersebut diwujudkan melalui pemerataan akses pendidikan, seperti keberlanjutan Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus, Program Pemutihan Ijazah, Wajib Belajar 13 Tahun, hingga skema Sekolah Swasta Gratis. Pada tahun ajaran 2026/2027, program sekolah swasta gratis ini menjangkau 103 sekolah berbagai jenjang (SD hingga SLB) dengan kapasitas lebih dari 10 ribu siswa baru.
Perhatian yang tak kalah besar ditujukan kepada kelompok warga senior. Dengan jumlah mencapai sekitar 1,16 juta jiwa atau sekitar 10,6 persen dari total penduduk Jakarta, kebutuhan para lansia menjadi bagian krusial dalam perencanaan fasilitas umum dan jaminan sosial kota. Pemprov DKI memastikan kebutuhan medis dan kesejahteraan mereka terfasilitasi dengan baik.
Dari sisi jaminan sosial, penyaluran Kartu Lansia Jakarta (KLJ) terus diprioritaskan bagi warga senior yang membutuhkan. Sementara di pilar kesehatan, selain ketersediaan Poli Lansia Terpadu dan Posyandu Lansia, hadir pula layanan "Pasukan Putih". Layanan jemput bola ini siap mengunjungi rumah warga lansia atau penderita penyakit kronis yang memiliki keterbatasan mobilitas untuk memberikan perawatan langsung secara gratis.
Selain kesehatan fisik, kesehatan mental dan aktivitas sosial warga senior turut menjadi perhatian. Kehadiran Sekolah Lansia menjadi wadah populer tempat para lansia belajar, berinteraksi, dan bersosialisasi. Hingga saat ini, puluhan Sekolah Lansia telah aktif membina ribuan peserta, membantu mereka tetap berdaya, ceria, dan terhindar dari rasa kesepian di usia senja.
Dukungan mobilitas harian juga diberikan guna memudahkan lansia tetap aktif. Warga ber-KTP Jakarta yang telah berusia 60 tahun ke atas diberikan akses Kartu Layanan Gratis untuk mengintegrasikan perjalanan mereka menggunakan moda transportasi publik seperti Transjakarta, MRT, dan LRT tanpa dikenakan biaya.
Berbagai kemudahan ini mendapat apresiasi hangat dari warga maupun pegiat kemasyarakatan. Pendampingan ramah lansia di fasilitas publik, kemudahan akses medis, hingga ruang interaksi di Sekolah Lansia dinilai berhasil mengembalikan rasa percaya diri dan memberi warna baru bagi kehidupan warga senior di Jakarta. (a2s)
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri