WHO Tambahkan Polusi Udara sebagai Faktor Risiko Demensia


Bagi Indonesia, temuan ini menjadi perhatian karena beberapa kota masih menghadapi masalah kualitas udara.

2026-07-23T12:07

GERIATRI.CO.ID - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis pembaruan pedoman pencegahan penurunan fungsi kognitif dan demensia untuk pertama kalinya sejak 2019. Salah satu perubahan terpenting adalah polusi udara kini resmi dimasukkan sebagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi untuk demensia.
 
Sebelumnya, WHO telah menyoroti berbagai faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, merokok, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol berlebihan, dan isolasi sosial. Kini, berdasarkan bukti ilmiah terbaru, paparan polusi udara—terutama dalam jangka panjang—juga dinilai berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penurunan fungsi kognitif dan demensia.

WHO menjelaskan bahwa paparan jangka panjang terhadap polusi udara, terutama partikel halus PM2.5, diduga dapat memicu peradangan dan kerusakan pada pembuluh darah serta jaringan otak. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan kognitif dan demensia, meskipun mekanisme pastinya masih terus diteliti. 

Karena itu, WHO kini merekomendasikan agar upaya pencegahan demensia juga mencakup langkah-langkah untuk mengurangi paparan terhadap polusi udara, baik melalui kebijakan lingkungan maupun tindakan individu.

Dalam pedoman terbarunya, WHO menyebutkan bahwa hingga 45% risiko demensia berpotensi dapat dicegah atau ditunda dengan mengendalikan berbagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi sepanjang hidup. Selain mengurangi paparan polusi udara, langkah yang dianjurkan meliputi:

  • Berolahraga secara rutin
  • Berhenti merokok
  • Membatasi konsumsi alcohol)
  • Mengonsumsi pola makan sehat
  • Mengendalikan tekanan darah, diabetes, dan kolesterol
  • Tetap aktif secara sosial
  • Mengatasi gangguan pendengaran dengan alat bantu dengar bila diperlukan

Meskipun tidak semua sumber polusi dapat dihindari, WHO menyarankan masyarakat untuk mengurangi paparan bila memungkinkan. Misalnya, menghindari aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara buruk, menggunakan ventilasi yang baik di rumah, serta mendukung kebijakan yang bertujuan menurunkan emisi dan meningkatkan kualitas udara.

Bagi Indonesia, temuan ini menjadi perhatian karena beberapa kota masih menghadapi masalah kualitas udara. Di tengah meningkatnya jumlah lansia, menjaga kesehatan otak tidak hanya dilakukan melalui pola makan dan olahraga, tetapi juga dengan menciptakan lingkungan yang lebih bersih.

Pembaruan pedoman WHO menunjukkan bahwa pencegahan demensia tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga membutuhkan dukungan kebijakan kesehatan masyarakat dan lingkungan yang sehat. (lia)

polusi udara,demensia,kesehatan lansia,lansia

ARTIKEL LAINNYA

Bersepeda Santai buat Lansia

Menjaga Kesehatan Otak Sejak Dini, Demi Investasi Masa Depan

Teh Daun Kelor yang Kaya Nutrisi

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026