Sudah Siap Berangkat ke Tanah Suci, Opa Oma? (2)


Ingat, menggunakan alat bantu bukanlah kegagalan. Justru itu merupakan ikhtiar agar ibadah tetap dapat dilaksanakan dengan aman dan khusyuk.

2026-07-22T16:14

Oleh King Haji Agus, Founder Sahabat Baitullah 

GERIATRI.CO.ID - Setelah memantapkan niat untuk berangkat ke Baitullah, pertanyaan berikutnya yang sering muncul adalah, "Apakah saya sudah siap?" Atau bagi anak-anak, "Apakah Ayah atau Ibu sudah cukup kuat untuk menjalankan umroh?"

Pertanyaan ini penting, karena keputusan berangkat umroh sebaiknya tidak hanya didasarkan pada keinginan, tetapi juga pada kesiapan.

Yang perlu dipahami, kesiapan umrah lansia tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh kondisi kesehatan, kemampuan beraktivitas, dan kesiapan menjalani rangkaian ibadah.

Ada jamaah berusia 75 tahun yang masih berjalan kaki setiap pagi, aktif mengikuti pengajian, dan mampu beraktivitas secara mandiri. Sebaliknya, ada yang usianya lebih muda namun memerlukan pendampingan penuh karena kondisi kesehatannya.

Lalu, bagaimana cara menilai kesiapan tersebut?

Apakah kondisi kesehatan relatif stabil?

Memiliki penyakit bukan berarti tidak boleh berangkat umrah. Banyak jamaah dengan hipertensi, diabetes, penyakit jantung, atau gangguan persendian tetap dapat menjalankan ibadah dengan baik. Yang terpenting, penyakit tersebut berada dalam kondisi terkontrol, rutin diperiksa oleh dokter, dan obat-obatan dikonsumsi secara teratur.

Apakah masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari?

Coba perhatikan beberapa aktivitas sederhana berikut: mandi dan berpakaian sendiri; makan dan minum tanpa bantuan; menggunakan toilet secara mandiri; berjalan di dalam rumah atau lingkungan sekitar; atau naik dan turun kendaraan dengan aman. Semakin mandiri seseorang, biasanya semakin mudah ia beradaptasi selama perjalanan umroh.

Apakah masih mampu berjalan?

Tidak harus mampu berjalan jauh tanpa henti. Yang lebih penting adalah masih dapat berjalan sesuai kemampuan, atau bila memerlukan tongkat maupun kursi roda, dapat menggunakannya dengan nyaman.

Ingat, menggunakan alat bantu bukanlah kegagalan. Justru itu merupakan ikhtiar agar ibadah tetap dapat dilaksanakan dengan aman dan khusyuk.

Apakah daya ingat dan kemampuan berkomunikasi masih baik?

Selama di Tanah Suci, jamaah akan mengikuti jadwal yang cukup padat, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, serta menerima berbagai arahan dari pembimbing. Kemampuan memahami instruksi dan berkomunikasi dengan baik akan sangat membantu kelancaran perjalanan.

Apakah kondisi mental dan emosional siap?

Sebagian lansia merasa cemas menjelang keberangkatan. Ada yang takut naik pesawat, ada yang takut tersesat, ada pula yang khawatir akan merepotkan keluarga. Semua perasaan tersebut sangat wajar. Justru di sinilah peran keluarga untuk memberikan ketenangan, mendampingi manasik, dan meyakinkan bahwa mereka tidak berjuang sendirian.

Apakah keluarga sudah siap mendampingi?

Keberhasilan umroh lansia sering kali bukan hanya ditentukan oleh kesiapan jamaah, tetapi juga kesiapan keluarganya. Bila orang tua memiliki penyakit tertentu, keluarga sebaiknya mengetahui obat apa saja yang harus diminum, kapan jadwal minumnya, dan sebagainya. Pendamping yang memahami kondisi orang tua akan membuat perjalanan menjadi jauh lebih tenang.

Jangan Menilai Berdasarkan Penampilan

Ada satu kesalahan yang cukup sering terjadi. Melihat orang tua tampak sehat, lalu menganggap semuanya baik-baik saja. Sebaliknya, melihat orang tua berjalan pelan, lalu langsung menyimpulkan bahwa beliau tidak mampu berangkat.

Keduanya belum tentu benar. Karena itu, jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan perkiraan. Lakukan penilaian secara menyeluruh, kemudian konsultasikan dengan dokter yang memahami kondisi kesehatannya.

Keputusan yang diambil berdasarkan informasi yang lengkap akan jauh lebih bijaksana dibandingkan keputusan yang hanya didasarkan pada rasa khawatir.

Pada akhirnya, kesiapan umroh bukanlah tentang siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang paling mengenali batas kemampuannya dan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

***

*Pada Panduan Umrah Lansia #3, kita akan membahas mengapa medical check-up dan persiapan fisik merupakan bagian penting dari ikhtiar sebelum berangkat ke Tanah Suci, termasuk pemeriksaan kesehatan yang perlu dilakukan, latihan fisik yang dianjurkan, serta kebiasaan sederhana yang dapat membantu jamaah lansia menjalani ibadah dengan lebih nyaman.

**Catatan Sahabat Baitullah. "Keputusan terbaik bukanlah berangkat secepat-cepatnya, tetapi berangkat pada saat kita telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Kesiapan bukan untuk menunda ibadah, melainkan agar setiap langkah menuju Baitullah dapat dijalani dengan lebih aman, lebih nyaman, dan lebih khusyuk."

haji lansia,umroh lansia,haji umroh lansia

ARTIKEL LAINNYA

Bersepeda Santai buat Lansia

Menjaga Kesehatan Otak Sejak Dini, Demi Investasi Masa Depan

WHO Tambahkan Polusi Udara sebagai Faktor Risiko Demensia

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026