Sarkopenia, dari Jatuh sampai Hilangnya Kemandirian


Karena otot adalah penyerap glukosa terbesar, menyusutnya otot membuat tubuh lebih sulit mengendalikan gula darah dan lebih mudah resisten terhadap insulin.

2026-07-21T12:04

Oleh dr. Fatihah Fikriyah

Selama ini sarkopenia dianggap sebatas tubuh yang mengecil dan lemah. Penelitian dua dekade terakhir menunjukkan gambaran yang jauh lebih luas. Otot ternyata organ aktif yang ikut mengatur metabolisme, kekebalan, kesehatan otak, sampai ketahanan jantung. Ketika ia melemah, dampaknya merembet ke banyak sistem tubuh.

Berikut ini beberapa catatan penting dari sarkopenia: 

Jatuh dan patah tulang

Inilah konsekuensi yang paling konsisten muncul di berbagai penelitian. Otot tungkai dan inti yang lemah membuat seseorang sulit menahan keseimbangan. Pada lansia, akibat jatuh jauh lebih berat: patah tulang pinggul, misalnya, berkaitan dengan angka kematian yang tinggi pada tahun pertama, dan banyak yang tak pernah pulih sepenuhnya.

Keadaan kian rumit karena sarkopenia kerap hadir bersama osteoporosis — tulang keropos dan otot lemah adalah kombinasi yang berbahaya. Konsensus Global Leadership Initiative in Sarcopenia (GLIS) menegaskan kaitan ini dengan bukti yang kuat.

Gangguan metabolik dan gula darah

Karena otot adalah penyerap glukosa terbesar, menyusutnya otot membuat tubuh lebih sulit mengendalikan gula darah dan lebih mudah resisten terhadap insulin. Hubungan dengan diabetes berjalan dua arah dan saling memperburuk: diabetes mempercepat kerusakan otot, sementara berkurangnya otot memperburuk kendali gula. Sarkopenia juga dikaitkan dengan sindrom metabolik, perlemakan hati, dan hipertensi.

Penyakit jantung dan pembuluh darah

Studi besar dari UK Biobank yang mengikuti hampir 12.000 peserta selama rata-rata sepuluh tahun menemukan, pada penderita diabetes tipe 2, mereka yang juga mengalami sarkopenia memiliki risiko penyakit kardiovaskular hampir dua kali lipat, dan risiko gagal jantung sampai 2,6 kali lipat. Otot yang sehat menghasilkan molekul pelindung bernama myokines; ketika otot berkurang, produksinya menurun dan pembuluh darah pun lebih rentan. Menjaga otot, dengan kata lain, adalah bagian dari menjaga jantung.

Penurunan fungsi otak

Terdengar mengejutkan, tetapi bukti kaitan sarkopenia dengan penurunan fungsi kognitif makin kuat: risiko gangguan kognitif kurang lebih dua kali lipat, dan lebih tinggi lagi pada kasus berat. Salah satu penghubungnya adalah aktivitas fisik. Otot yang aktif menghasilkan brain-derived neurotrophic factor (BDNF), protein yang menyokong sel saraf. Ketika otot menyusut dan gerak berkurang, produksi BDNF ikut turun. Melatih otot, pada akhirnya, juga melatih otak.

Hilangnya kemandirian

Inilah dampak yang paling terasa sehari-hari. Hal-hal yang dulu mudah — membawa belanjaan, naik tangga, bangun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi di malam hari — perlahan menjadi berat dan berisiko. Ketergantungan pada orang lain kerap memunculkan rasa tak berdaya, depresi, dan isolasi sosial, yang justru memperburuk kondisi otot. Lingkaran inilah yang sulit diputus bila tidak ditangani sejak dini.

Risiko kematian yang meningkat

Studi-studi besar secara konsisten menunjukkan bahwa sarkopenia yang dibiarkan lebih dari menggandakan risiko kematian. Penyebabnya beragam: komplikasi jatuh, perburukan penyakit kronis, komplikasi setelah operasi, dan lemahnya cadangan tubuh menghadapi infeksi atau penyakit akut. Mempertahankan massa otot, dengan demikian, benar-benar sebuah investasi kesehatan jangka panjang.

Pada serial berikutnya akan dibahas dua pilar penanganan dan apa yang mesti dilakukan tatkala "tidak pernah ada kata terlambat'.
 

sarkopenia,sarcopenia,jurnal

ARTIKEL LAINNYA

China Siapkan Asuransi Khusus Perawatan Lansia, Bisakah Jadi Contoh bagi Indonesia?

Kecewa Saat Tim Idola Kalah di Final, Jangan Lama-Lama ya

Tips Memilih Caregiver

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026