
Oleh King Haji Agus, Founder Sahabat Baitullah
GERIATRI.CO.ID - "Apakah saya masih mampu berangkat umrah di usia seperti ini?"
Pertanyaan tersebut sering saya dengar dari para calon jamaah lansia. Di sisi lain, anak-anak mereka juga kerap bertanya, "Apakah Ayah atau Ibu masih cukup kuat untuk berangkat ke Tanah Suci?"
Kedua pertanyaan itu sangat wajar. Namun, sesungguhnya ada satu pertanyaan yang lebih penting untuk dijawab. Bukan, "Berapa usia beliau?" tetapi, "Seberapa siap beliau untuk berangkat?"
Selama ini, banyak orang menganggap usia sebagai ukuran utama. Padahal, usia hanyalah angka. Yang jauh lebih menentukan adalah kondisi kesehatan, kesiapan fisik, kesiapan mental, kesiapan ibadah, serta dukungan dari keluarga.
Tidak sedikit jamaah berusia lebih dari 70 tahun yang mampu menjalankan umrah dengan tenang karena telah mempersiapkan diri dengan baik. Sebaliknya, ada pula yang usianya lebih muda, tetapi mengalami banyak kendala karena kurang melakukan persiapan.
Perlu dipahami bahwa umrah bukanlah perjalanan wisata biasa. Selama berada di Tanah Suci, jamaah akan menghadapi perjalanan udara yang cukup panjang, perubahan cuaca, kepadatan jamaah dari berbagai negara, serta aktivitas berjalan yang lebih banyak dibandingkan kehidupan sehari-hari.
Karena itulah, persiapan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ibadah. Persiapan bukan berarti harus menjadi atlet atau memiliki fisik yang sempurna. Persiapan berarti mengenali kondisi diri, mengendalikan penyakit bila ada, mulai membiasakan aktivitas fisik, mempelajari manasik, serta menyiapkan hati untuk menjadi tamu Allah.
Bagi keluarga, khususnya anak-anak, ada satu hal yang juga perlu dipahami. Mendampingi orang tua menuju Baitullah bukan sekadar membantu mengurus paspor, koper, atau tiket pesawat. Yang lebih penting adalah menemani mereka menjalani proses persiapan.
- Menemani berjalan kaki setiap pagi.
- Mengantar kontrol kesehatan.
- Mengingatkan jadwal minum obat.
- Mendengarkan kegelisahan mereka.
- Menenangkan rasa takut yang mungkin muncul menjelang keberangkatan.
Semua itu adalah bentuk bakti yang sangat bernilai.
Tidak sedikit orang tua yang sebenarnya tidak takut berjalan jauh. Mereka justru takut merepotkan anak-anaknya. Padahal, bagi banyak anak, menggandeng tangan orang tua mengelilingi Ka'bah adalah nikmat yang tidak ternilai.
Islam sendiri adalah agama yang penuh kasih sayang. Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Karena itu, tidak perlu memaksakan diri untuk berjalan cepat, mengejar semua ibadah sunnah, atau merasa malu jika harus menggunakan tongkat maupun kursi roda. Yang Allah nilai bukanlah seberapa cepat langkah kita, melainkan keikhlasan hati dalam memenuhi panggilan-Nya.
Jika Allah telah memberikan kesehatan, kesempatan, dan rezeki, maka persiapkanlah perjalanan itu dengan sebaik-baiknya. Karena umrah yang nyaman bukanlah umrah tanpa tantangan, melainkan umrah yang dipersiapkan dengan penuh kesungguhan.
Semoga setiap langkah menuju Baitullah menjadi langkah yang diberkahi dan setiap ikhtiar yang dilakukan sejak di tanah air dicatat sebagai bagian dari amal ibadah.
***
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri