
Oleh dr. Fatihah Fikriyah
Kalau otot adalah tabungan yang langsung terasa saat kita lemah mengangkat sesuatu, tulang adalah tabungan yang bekerja diam-diam di dalam. Ia jarang mengeluh dan jarang memberi sinyal, sampai suatu hari sebuah benturan ringan — terpeleset di kamar mandi, terduduk agak keras — berakhir dengan patah tulang yang sulit pulih.
Padahal, sama seperti dana pensiun, kepadatan tulang adalah sesuatu yang kita kumpulkan sejak muda lalu kita “tarik” perlahan di usia tua. Kabar baiknya, seberapa cepat tabungan ini terkuras sangat bergantung pada hal-hal sederhana yang kita lakukan setiap hari: cara kita bergerak, berjemur, dan makan. Mari kita bahas satu per satu.
Apa Itu Osteoporosis?
Osteoporosis berarti tulang yang keropos. Secara medis, ini adalah kondisi ketika kepadatan dan kualitas tulang menurun sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Namanya berasal dari bahasa Yunani osteon (tulang) dan poros (berlubang) — secara harfiah “tulang yang berpori-pori.” Di bawah mikroskop, tulang yang sehat tampak rapat seperti sarang lebah yang padat, sedangkan tulang osteoporosis berlubang-lubang besar dan tipis dindingnya.
Yang membuatnya berbahaya, osteoporosis hampir tidak menimbulkan gejala. Banyak yang menyebutnya “penyakit diam-diam” (silent disease): tidak terasa nyeri, tidak tampak dari luar, dan baru ketahuan setelah tulang benar-benar patah. Inilah sebabnya banyak orang tidak menyadari tulangnya sudah rapuh sampai terlambat.
Sebelum sampai ke osteoporosis, biasanya ada tahap antara yang disebut osteopenia, yaitu kepadatan tulang yang mulai menurun tetapi belum separah osteoporosis. Tahap ini penting karena justru di sinilah peluang terbaik untuk bertindak.
Gambaran di Indonesia
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 23 persen perempuan berusia 50–70 tahun mengalami osteoporosis, dan angkanya melonjak menjadi 53 persen pada perempuan di atas 70 tahun. Secara umum, sekitar dua dari lima penduduk Indonesia berisiko, dan sekitar 80 persen penderitanya adalah perempuan. Dengan jumlah lansia yang terus bertambah, kesehatan tulang menjadi persoalan yang makin mendesak.
Mengapa Tulang Mengeropos Seiring Usia?
Tulang sering dikira benda mati yang diam saja. Padahal tulang adalah jaringan hidup yang terus dibongkar dan dibangun ulang sepanjang hidup. Ada sel yang bertugas membongkar tulang lama dan ada sel yang membangun tulang baru. Selama keduanya seimbang, kepadatan tulang terjaga.
Kita menabung paling banyak di masa muda. Kepadatan tulang mencapai puncaknya sekitar usia 25–30 tahun. Setelah itu, neraca mulai berbalik: pembongkaran sedikit demi sedikit mengalahkan pembangunan, dan tulang menyusut perlahan setiap tahun. Beberapa hal mempercepat prosesnya:
Menopause pada perempuan. Hormon estrogen sangat melindungi tulang. Ketika kadarnya turun drastis setelah menopause, perempuan bisa kehilangan kepadatan tulang dengan cepat dalam beberapa tahun pertama. Inilah alasan osteoporosis jauh lebih sering menimpa perempuan.
Penuaan pada laki-laki. Laki-laki juga kehilangan tulang, hanya lebih lambat dan lebih lambat pula disadari, sehingga sering terlambat ditangani.
Kurang kalsium dan vitamin D. Tanpa bahan baku dan “kunci penyerapan” yang cukup, tubuh terpaksa mengambil kalsium dari simpanan di tulang.
Kurang gerak. Tulang menguat ketika “ditantang” oleh beban. Hidup yang terlalu banyak duduk membuatnya menganggap kepadatan tinggi tidak diperlukan.
Jadi pengeroposan tulang bukan satu sebab tunggal, melainkan banyak faktor yang bekerja bersamaan. Justru karena itu, ada banyak pula cara untuk memperlambatnya.
Siapa yang Paling Berisiko?
Sebagian faktor risiko memang di luar kendali kita:
Tetapi banyak faktor lain justru bisa kita ubah:
*Pada serial berikutnya akan dibahas mengenai kenapa osteroporosis harus diwaspadai oleh orang-orang yang khususnya yang berusia di atas 50.
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri