
GERIATRI.CO.ID - Di tengah derasnya arus digitalisasi, ruang siber kini tidak lagi hanya didominasi oleh generasi muda. Oma, opa, dan para senior kita kini semakin aktif berselancar di media sosial maupun aplikasi percakapan. Namun, di balik kemudahan teknologi tersebut, ada ancaman nyata yang mengintai kesehatan mental dan ketenangan sosial mereka: tsunami informasi palsu alias hoaks.
Lansia sering kali menjadi kelompok yang paling rentan terhadap gangguan informasi. Faktor penurunan fungsi kognitif yang alamiah secara biologis, ditambah keterbatasan adaptasi teknologi, membuat ombak informasi viral—yang belum tentu benar—sering kali ditelan mentah-mentah. Oleh karena itu, membangun literasi media yang inklusif bagi warga senior adalah kunci penting demi mewujudkan masa tua yang sehat, aktif, mandiri, dan produktif.
Komitmen Membakar Nalar Kritis dari Denpasar
Langkah nyata penguatan kapasitas lansia baru-baru ini diinisiasi lewat sebuah program edukasi yang segar dan interaktif di Denpasar, Bali. Melalui wadah pendidikan informal di Sekolah Lansia Wredha Harum Mahottama, Kantor Perbekel Desa Tegal Harum, puluhan warga senior berusia rentang 60 hingga 75 tahun berkumpul untuk kembali mengasah ketajaman berpikir kritis mereka.
Program yang digawangi oleh praktisi media peraih beasiswa Australia Awards 2026 dari the University of Queensland ini membekali para lansia dengan pemahaman mendalam mengenai anatomi gangguan informasi. Lansia diajak mengenal tiga pilar kekacauan digital yang kerap menjebak, yaitu:
Pendekatan Edukasi yang Menyenangkan
Mengajar generasi senior tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan mengajar remaja. Pendekatan pendidikan orang dewasa yang diterapkan di lokasi dibuat sehangat mungkin. Materi seputar penyaringan berita digital dikemas melalui visualisasi foto dan video menarik, kuis interaktif, gerakan peregangan fisik untuk menjaga fokus, hingga sesi menyanyi bersama.
Tidak hanya teori konvensional, para lansia juga diperkenalkan dengan pemanfaatan praktis teknologi kecerdasan buatan (AI) secara sederhana untuk memverifikasi kebenaran sebuah berita. Hal ini membuktikan bahwa usia senja sama sekali bukan hambatan untuk tetap melek teknologi.
Tips Praktis Lansia Tangkal Hoaks:
1. Saring Sebelum Sharing: Jangan terburu-buru meneruskan pesan yang memicu emosi berlebihan, baik yang terlalu menakutkan maupun terlalu muluk.
2, Periksa Sumber Resmi: Biasakan mencari referensi pembanding dari media berita nasional yang kredibel atau situs resmi pemerintah.
3. Tanyakan pada Anak atau Cucu: Jadikan ruang diskusi keluarga sebagai benteng pertama dalam memvalidasi informasi digital yang meragukan.
Efek Domino: Metode "Ketuk Tular" untuk Keluarga
Edukasi literasi digital bagi oma dan opa bukan sekadar pelindung diri mereka sendiri, melainkan memiliki efek domino yang positif bagi lingkungan sekitar. Banyak peserta lansia, salah satunya Ibu Widowati Sugandi, menyatakan bahwa bekal ilmu ini akan mereka "ketuk tular"-kan atau wariskan kembali kepada anak cucu di rumah agar tidak mudah tertipu kabar burung yang menjadi momok di masyarakat.
Bagi Bapak Pramono (74), aktivitas seperti ini menjadi asupan gizi mental yang sangat berharga dalam mengisi masa tua dengan hal-hal yang bermanfaat. Ketika lansia memiliki imunitas terhadap hoaks, kualitas hidup mereka akan meningkat secara signifikan karena terhindar dari kecemasan berlebih (anxiety) akibat berita-berita provokatif. Demikian dilansir ANTARA Bali, Sabtu (4/7).
Kesimpulan: Kunci Ketahanan Kognitif Lansia
Menjaga kesehatan lansia tidak boleh hanya fokus pada aspek fisik semata, seperti pemenuhan nutrisi dan olahraga. Kesehatan kognitif dan ketahanan mental dari serangan informasi menyesatkan adalah komponen krusial yang tidak boleh diabaikan. Dengan program literasi media yang inklusif, kita sedang membantu para lansia mempertahankan kemandiriannya, membangun daya tahan sosial, dan memastikan mereka tetap menjadi kompas kebijaksanaan yang jernih bagi keluarga dan generasi penerus. (a2s)
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri