Lansia Jualan di TikTok dan Instagram: Baik atau Buruk?


Bagi lansia, merasa "masih berguna" dan mandiri secara finansial itu memicu hormon kebahagiaan.

2026-06-27T12:16

GERIATRI.CO.ID - Live Streaming seorang lansia bisa memicu perdebatan di kolom komentar. Ada yang memuji, "Keren banget, Nek! Inspiratif!" Namun, tak jarang ada yang merasa iba, "Ya ampun, kasihan... Anak-cucunya ke mana, ya, kok menelantarkan orang tua?"

Lantas, sebenarnya baik atau tidak sih lansia berjualan via TikTok atau Instagram? Mari kita bedah dari kacamata medis, psikologis, dan sosial secara berimbang.

Sisi Baiknya: Mengapa Ini Langkah baik?

Menghabiskan masa tua dengan tetap aktif secara digital ternyata punya banyak dampak positif, asalkan dilakukan atas kemauan sendiri.

Menjaga Ketajaman Otak (Mencegah Pikun). Belajar algoritma baru, membaca komentar, menghitung stok, dan berinteraksi di media sosial adalah bentuk "senam otak" yang luar biasa. Aktivitas kognitif ini sangat efektif untuk menstimulasi sel-sel otak dan memperlambat risiko demensia atau pikun.

Mengusir Kesepian (Anti-Kesepian). Sindrom sarang kosong (ketika anak-anak sudah mandiri dan rumah terasa sepi) adalah musuh utama lansia. Dengan berjualan online, lansia merasa memiliki "teman" baru. Interaksi dengan pembeli bisa menjadi hiburan yang mengobati rasa sepi.

Meningkatkan Rasa Percaya Diri. Bagi lansia, merasa "masih berguna" dan mandiri secara finansial itu memicu hormon kebahagiaan. Ketika dagangannya laku dan dipuji banyak orang, ada kepuasan batin yang tidak bisa dinilai dengan uang.

Melestarikan Keterampilan Masa Lalu. Banyak lansia yang punya keahlian luar biasa, seperti menjahit, memasak resep kuno, atau membuat kerajinan tangan. Media sosial menjadi panggung terbaik agar warisan ilmu mereka tidak hilang ditelan zaman.

Sisi Negatifnya: Apa yang Harus Diwaspadai?

Meski terlihat seru, dunia digital juga punya sisi gelap yang bisa berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental lansia jika tidak didampingi.

Risiko Kelelahan Fisik. Sesi Live Streaming yang terlalu lama (bisa berjam-jam) sangat menguras energi. Lansia rentan mengalami nyeri sendi, kelelahan mata akibat layar gawai, hingga gangguan pola tidur jika terlalu asyik membalas pesan pelanggan.

Dampak Buruk Cyberbullying (Komentar Jahat). Mental lansia sering kali lebih sensitif. Ketika mereka mendapatkan komentar negatif, kritik pedas, atau bahkan scam (penipuan) dari netizen yang tidak bertanggung jawab, hal ini bisa memicu stres berat, kecemasan, hingga depresi.

Eksploitasi Lansia. Ini yang paling miris. Kadang, lansia "dipasang" di depan kamera oleh oknum keluarga hanya untuk memancing rasa iba agar netizen membeli atau memberikan hadiah (gifts). Jika lansia berjualan dalam kondisi terpaksa atau sakit, ini sudah masuk kategori eksploitasi.

Solusi Bijak: Peran Penting Pendampingan Keluarga

Jadi, kesimpulannya: Berjualan di media sosial itu baik untuk lansia, dengan syarat utama: "Bukan untuk menyambung hidup secara terpaksa, melainkan sebagai aktualisasi diri dan hiburan."

Agar aktivitas ini tetap aman dan sehat, berikut panduan untuk keluarga/anak-cucu:

Gunakan Sistem Hybrid (Bagi Tugas): Lansia bertugas sebagai "ikon" atau pembuat produk, sedangkan urusan teknis seperti membalas chat, mengemas barang, hingga urusan logistik biar dipegang oleh anak atau cucu.

Batasi Durasi: Batasi waktu Live atau bermain gawai maksimal 1–2 jam per hari agar waktu istirahat tetap terjaga.

Filter Komentar: Anak atau admin harus menyaring komentar jahat sebelum dibaca oleh lansia untuk menjaga kesehatan mental mereka.

Catatan Hangat untuk Kita Semua:

Saat melihat lansia berjualan di media sosial, jangan langsung menghujat keluarganya. Selama sang lansia tampak bahagia, bugar, dan menjalaninya dengan senyuman, dukunglah mereka! Membeli dagangan mereka adalah cara terbaik untuk menghargai semangat masa tua mereka yang luar biasa. (a2s)
 

jualan online,lansia jualan online,lansia tiktok,lansia instagtam,lansia bahagia

ARTIKEL LAINNYA

Ini Destinasi Wisata yang Nyaman untuk Semua Generasi

"Tim Transportasi" Darah yang Wajib Kita Jaga Keseimbangannya

Pentingnya Dukungan Emosional bagi Lansia yang Sakit Berat

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026