
Oleh dr. Fathihah Fikriyah
GERIATRI.CO.ID - Memasuki usia senja, salah satu hasil laboratorium yang paling sering bikin ketar-ketir adalah lembar profil lipid alias kadar lemak darah. Kita sering mendengar istilah kolesterol "jahat", kolesterol "baik", hingga trigliserida.
Agar tidak bingung membaca hasil lab dan bisa menjaga kesehatan jantung dengan lebih optimal, yuk kita bedah peran masing-masing komponen lemak ini dengan cara yang paling sederhana.
1. Kolesterol LDL: Si Kurir yang Suka "Menimbun Barang"
LDL (Low-Density Lipoprotein) sering kali dicap sebagai kolesterol jahat. Sebenarnya, tugas asli LDL adalah tugas yang mulia: ia bertindak seperti kurir yang mengantarkan lemak dari hati ke seluruh sel tubuh yang membutuhkannya sebagai energi dan bahan baku hormon.
Namun, masalah besar muncul ketika jumlah kurir LDL ini terlalu banyak.
Analogi Pipa Air: Bayangkan pembuluh darah kita seperti pipa air bersih di rumah. Jika air yang mengalir terlalu banyak mengandung endapan kotoran (LDL berlebih), lama-kelamaan kotoran itu akan menempel di dinding pipa. Endapan keras ini disebut aterosklerosis.
Semakin hari, lubang pipa semakin menyempit. Jika pipa yang menuju jantung tersumbat total, terjadilah serangan jantung. Jika pipa yang mengarah ke otak yang buntu, terjadilah stroke.
2. Kolesterol HDL: Pasukan "Hijau" Pembersih Jalan
Berbeda 180 derajat dengan LDL, HDL (High-Density Lipoprotein) adalah pahlawan kita. Ia dijuluki kolesterol baik karena fungsinya yang berlawanan dengan LDL.
HDL bekerja seperti "pasukan HIJAU" atau petugas kebersihan di dalam tubuh kita. Ia menyisir dinding-dinding pembuluh darah, memungut kelebihan kolesterol yang tercecer atau menumpuk, lalu mengangkutnya kembali ke hati. Di dalam hati, kolesterol sisa tersebut akan didaur ulang atau dikeluarkan dari tubuh secara aman.
Oleh karena itu, bagi lansia, memiliki angka HDL yang tinggi adalah sebuah keuntungan besar demi menjaga pembuluh darah tetap "blong" dan bersih.
3. Trigliserida: Cadangan Energi yang Suka "Lupa Dibakar"
Selain LDL dan HDL, ada satu angka lagi di lembar laboratorium yang sering terlewat: Trigliserida. Penting untuk dicatat bahwa trigliserida ini sebenarnya bukan kolesterol, melainkan jenis lemak murni yang digunakan tubuh sebagai sumber energi utama.
Dari mana datangnya? Trigliserida terbentuk ketika kita mengonsumsi kalori melebihi apa yang dibakar oleh tubuh. Biang kerok utamanya biasanya adalah makanan yang tinggi gula, karbohidrat olahan (seperti nasi putih berlebih, tepung-tepungan), serta alkohol.
Jika kadar trigliserida ini melonjak tinggi—terutama jika dikombinasikan dengan LDL yang tinggi dan HDL yang rendah—maka risiko terbentuknya plak di dinding pembuluh darah akan meningkat berkali-kali lipat.
*Sumber: American Heart Association (AHA), National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), Kemenkes RI
Tes kolesterol dilakukan melalui pemeriksaan darah yang dikenal sebagai panel lipid atau profil lipid. Sebelum tes, Anda biasanya diminta berpuasa 9–12 jam.
Angka-angka ini adalah panduan umum. Dokter Anda mungkin menetapkan target yang berbeda tergantung pada kondisi kesehatan spesifik Anda.
Kesimpulan: Menjaga Keseimbangan di Usia Emas
Kunci utama dari kesehatan jantung dan pembuluh darah bukan sekadar memusuhi lemak, melainkan menjaga keseimbangannya. Kita perlu menekan si kurir LDL agar tidak pamer kemewahan di pembuluh darah, memanjakan pasukan pembasmi HDL agar tetap rajin bekerja, dan membatasi asupan makanan manis agar trigliserida tidak menumpuk jadi beban.
Mulai hari ini, yuk lebih bijak memilih makanan, rajin bergerak sesuai kemampuan fisik lansia, dan rutin memeriksakan profil lipid ke dokter.
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri