
GERIATRI.CO.ID – Banyak orang membayangkan pernikahan di usia senja adalah masa-masa yang tenang, di mana sepasang suami-istri duduk berdua di teras rumah sambil menikmati teh hangat dengan damai. Namun realitanya, tidak sedikit pasangan lansia (Oma dan Opa) yang justru makin sering terlibat keributan kecil hingga adu mulut yang sengit di kehidupan sehari-hari.
Urusan sepele seperti salah menaruh kacamata, lupa mematikan lampu, atau perbedaan selera makan bisa memicu ketegangan. Mengapa pasangan yang sudah hidup bersama puluhan tahun ini justru terlihat lebih sensitif dan mudah bertengkar?
Bagaimana anak, cucu, atau pasangan lansia itu sendiri menyikapinya?
Mengapa Lansia Justru Lebih Mudah "Ribut"?
Sebelum buru-buru menghakimi, pihak keluarga atau anak perlu memahami bahwa perubahan perilaku ini jarang sekali didasari oleh rasa benci. Sering kali, ada pemicu medis dan psikologis di bawah permukaan:
1. Sindrom Empty Nest (Sarang Kosong): Setelah anak-anak menikah dan keluar dari rumah, atau setelah memasuki masa pensiun, lansia tiba-tiba kehilangan rutinitas. Mereka terjebak berdua saja dalam rumah selama 24 jam penuh. Kejenuhan dan hilangnya peran sosial ini membuat mereka lebih mudah stres dan melampiaskannya ke pasangan.
2. Penurunan Fungsi Kognitif (Gejala Demensia): Ini yang paling sering terabaikan. Keributan yang dipicu oleh sifat pasangan yang tiba-tiba menjadi sangat pelupa, mudah curiga (misal: menuduh pasangan menyembunyikan barang), atau sangat keras kepala, bisa jadi merupakan gejala awal Demensia Alzheimer.
3. Rasa Nyeri Kronis yang Tidak Terucapkan: Lansia yang menahan nyeri sendi, sakit kepala menahun, atau gangguan pendengaran cenderung memiliki sumbu emosi yang lebih pendek. Mereka menjadi mudah tersinggung karena menahan ketidaknyamanan fisik.
Bagaimana Sebaiknya Menyikapi Kondisi Ini?
Jika Anda adalah pasangan lansia yang sedang merasakannya, atau anak yang sering melihat orang tua adu mulut, berikut panduan langkah yang bisa diambil:
1. Periksa Kemungkinan Masalah Pendengaran
Banyak keributan terjadi hanya karena salah paham akibat penurunan pendengaran. Karena tidak mendengar dengan jelas, salah satu pasangan menganggap pasangannya sedang membentak atau berbicara dengan nada tinggi. Melakukan pemeriksaan ke dokter THT dan menggunakan alat bantu dengar bisa menjadi solusi instan meredakan "ketegangan suara" di rumah.
2. Berikan Ruang untuk Waktu Sendiri
Meskipun sudah menikah puluhan tahun, setiap individu tetap butuh ruang. Izinkan Opa memiliki waktu untuk menyalurkan hobinya (misal: berkebun atau merawat burung), dan berikan waktu bagi Oma untuk menikmati aktivitasnya sendiri (misal: memasak atau ikut pengajian). Jarak yang sehat ini akan membuat pertemuan mereka kembali terasa hangat.
3. Fokus pada Solusi, Bukan Memori Masa Lalu
Saat terjadi perdebatan, batasi hanya pada masalah yang terjadi saat itu juga. Hindari mengungkit kesalahan masa lalu yang terjadi belasan atau puluhan tahun silam. Di usia senja, energi tubuh sangat berharga untuk dihabiskan pada dendam lama.
4. Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?
Jika keributan sudah mengarah pada perubahan kepribadian yang drastis—misalnya dari yang tadinya penyabar menjadi sangat agresif, atau muncul kecurigaan yang tidak masuk akal (paranoid)—segera ajak Oma atau Opa berkonsultasi ke dokter spesialis geriatri atau psikolog/psikiater geriatri. Deteksi dini terhadap gangguan otak atau mental lansia akan sangat membantu meningkatkan kualitas hidup pernikahan mereka.
Keributan di usia senja bukanlah tanda akhir dari cinta, melainkan sebuah sinyal bahwa ada kebutuhan fisik atau emosional yang belum terpenuhi. Dengan saling menurunkan ego dan memahami keterbatasan fisik masing-masing, masa tua tetap bisa dilewati dengan penuh kehangatan.
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri