Rahasia Tetap Seperti Usia 25 Tahun, Meski Usia Lanjut


Berita Lansia - Olahraga teratur di usia dewasa dapat melindungi kerusakan otot di masa tua. Pria lanjut usia (lansia) yang aktif berolahraga, pada kategori sel otot-otot ternyata masih bisa seperti usia 25 tahunan.

2020-03-02 15:46:43

Geriatri.id - Olahraga teratur di usia dewasa dapat melindungi kerusakan otot di masa tua. Pria lanjut usia (lansia) yang aktif berolahraga, pada kategori sel otot-otot ternyata masih bisa seperti usia 25 tahunan. Demikian hasil studi terbaru.

Penelitian ini juga mengingatkan, apakah harus menunggu sampai usia paruh baya atau lansia untuk mulai berolahraga?  Ini tentu menjadi tantangan bagi kesehatan dan kekuatan otot setiap individu seumur hidupnya.

Penuaan fisik adalah proses yang rumit dan penuh teka-teki. Pada setiap individu, terjadi perubahan dalam kerja sel dan sistem fisiologis yang bisa terjadi lebih awal atau lebih dini.

Otot adalah bagian tubuh yang paling rentan seiring waktu atau usia seseorang. Hampir semua dari kita mulai kehilangan massa otot dan kekuatan pada usia paruh baya awal, dengan proses yang semakin cepat seiring berjalannya waktu.

Sementara penyebab dari penurunan ini masih belum diketahui.

Namun, sebagian besar peneliti setuju bahwa ada pengaruh dari faktor usia dan terjadinya peningkatan peradangan yang halus pada otot.

"Banyak penelitian menunjukkan bahwa faktor inflamasi sirkulasi yang lebih tinggi pada orang berhubungan dengan kehilangan massa otot yang lebih besar," kata Todd Trappe, seorang profesor ilmu olahraga di Ball State University di Muncie, Ind, seperti dikutip nytimes.com.

Dr. Trappe dan rekan-rekannya, yang telah lama mempelajari fisiologi atlet yang sudah senior, juga tahu bahwa orang yang sehat secara fisik cenderung memiliki tingkat peradangan yang lebih rendah di tubuh mereka daripada orang yang tidak aktif.

Jadi, para peneliti bertanya-tanya, apakah orang-orang tua yang aktif juga memiliki massa otot yang lebih banyak dan lebih sehat daripada orang-orang tua lainnya?

Untuk mengetahuinya, para ilmuwan Ball State ini mencoba melakukan penelitian. Riset ini melibatkan laki-laki dan perempuan berusia 70-an atau 80-an yang telah berlatih terus menerus sejak tahun 1970-an.  

Mereka sudah terlibat untuk beberapa studi yang saling terkait di Ball State.


Para peneliti ingin melihat lebih jauh mengenai darah dan otot-otot atlet yang lebih senior.

Jadi, mereka mengumpulkan 21 pria atletik lansia), bersama dengan 10 pelari dan pengendara sepeda berusia 20-an, dan 10 pria lanjut usia yang sehat tetapi tidak aktif.

Mereka mengukur semua paha pria, sebagai penanda massa otot, dan mengambil sampel darah serta jaringan otot.

Mereka mencatat bahwa lingkar paha pria mencerminkan usia dan gaya hidup mereka.

Lingkar paha atlet-atlet senior sedikit lebih kecil, dan para lansia yang tidak aktif menjadi yang paling kurus.

Para peneliti selanjutnya meminta para pria menyelesaikan satu sesi latihan singkat, namun berat.

Karena tidak ada yang mengangkat beban, upaya ini diharapkan dapat melatih otot mereka.

Beberapa jam kemudian, para peneliti kembali mengambil darah dan melakukan biopsi pada otot-otot pria.

Kemudian mereka memeriksa jaringan untuk melihat sel-sel inflamasi dan penanda gen yang luas.

Peradangan yang rumit melibatkan banyak gen dan sel secara dinamis meningkatkan atau merusak proses peradangan.

Segera setelah terjadi cedera atau ketegangan tubuh, yang meliputi olahraga berat, peradangan membantu jaringan untuk pulih dan menguat.

Tetapi jika peradangan menetap, itu bisa menjadi berbahaya dan pada otot, menghalangi untuk tumbuh lebih besar dan lebih kuat setelah latihan.

Para peneliti menemukan bahwa respons inflamasi berbeda pada pria. Para atlet muda menunjukkan paling sedikit peradangan dalam darah dan otot mereka pada awal penelitia.

Sementara otot-otot mereka membesar sebentar setelah berolahraga dengan sel-sel inflamasi dan aktivitas gen terkait, pemeriksaan mikroskopis menemukan bahwa sinyal anti-inflamasi yang berlawanan juga meningkat dan harus segera mendinginkan peradangan.

Respons serupa terjadi di dalam otot-otot atlet senior, meskipun penanda inflamasi mereka sedikit lebih tinggi dan reaksi anti-inflamasi mereka sedikit lebih rendah.

Tetapi pada pria lanjut usia yang tidak terlatih, peradangan jauh lebih banyak, melonjak lebih tinggi daripada di antara pria-pria lain dan menunjukkan lebih sedikit tanda-tanda untuk sembuh dalam waktu dekat.

Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa olahraga jangka panjang dapat membantu otot-otot yang menua tetap sehat, juga menghindari terjadinya peradangan.

Lebih penting lagi, temuan ini tak boleh membuat orang paruh  baya atau yang lebih tua yang tak aktif untuk mulai rutin berolahraga.***(hil)

Ilustrasi: freepik.com

 

 

                                                                                                                                                                              

geriatri,gerontologi,lansia,lanjutusia,usialanjut,lansiasehat

ARTIKEL LAINNYA

Asia Menua Cepat, Alarm bagi Krisis Tenaga Kerja dan Kesehatan Lansia

Cegah Ompong? Gampang Kok Asal Rajin

Pengalaman Saya di Tanah Suci

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026