Memahami Hipertensi (13): Pengaruh Kopi, Matcha, dan Teh


Meskipun ketiganya mengandung kafein, dampak terhadap tekanan darah berbeda karena adanya senyawa pendamping yang unik pada masing-masing tanaman.

2026-06-01T13:00

Oleh dr. Fatihah Fikriyah

Geriatri - Salah satu zat yang paling sering dikonsumsi secara global adalah kafein, yang ditemukan dalam berbagai konsentrasi pada kopi, matcha, dan teh. Memahami bagaimana ketiga minuman ini berinteraksi dengan sistem kardiovaskular sangat penting untuk menjaga stabilitas tekanan darah.

Mekanisme Kafein terhadap Tekanan Darah

Secara umum, kafein bekerja dengan cara memblokir reseptor adenosin, yaitu senyawa kimia di otak dan tubuh yang berfungsi memberikan sinyal relaksasi dan memperlebar pembuluh darah. Ketika adenosin terhambat, terjadi dua reaksi utama:

  • Penyempitan Pembuluh Darah (Vasokonstriksi): Dinding pembuluh darah menjadi sedikit lebih kaku, yang secara otomatis meningkatkan tekanan aliran darah.
  • Pelepasan Adrenalin: Kafein memicu kelenjar adrenal untuk memproduksi lebih banyak hormon adrenalin, yang mempercepat detak jantung dan meningkatkan volume darah yang dipompa.

Efek ini biasanya bersifat akut atau sementara, terjadi dalam waktu 30–60 menit setelah konsumsi dan bertahan selama beberapa jam.

Perbandingan Efek: Kopi, Matcha, dan Teh

Meskipun ketiganya mengandung kafein, dampak terhadap tekanan darah berbeda karena adanya senyawa pendamping yang unik pada masing-masing tanaman.

1. Kopi (Efek Stimulasi Dominan)

Kopi memiliki konsentrasi kafein paling tinggi. Pada individu yang tidak terbiasa, kopi dapat menyebabkan lonjakan tekanan darah sistolik sebesar 5–10 mmHg. Namun, kopi juga mengandung asam klorogenat, antioksidan yang dalam jangka panjang justru membantu memperbaiki elastisitas pembuluh darah.

2. Matcha (Efek Sinergi Relaksasi)

Matcha mengandung kafein yang hampir setara dengan kopi, namun memiliki senyawa L-theanine. Asam amino ini berfungsi memberikan efek rileks pada sistem saraf tanpa menyebabkan kantuk. L-theanine bertindak sebagai "penyeimbang" yang mencegah lonjakan detak jantung dan tekanan darah drastis yang sering ditemukan pada kopi.

3. Teh (Efek Proteksi Vaskular)

Teh (khususnya teh hijau dan hitam) memiliki kadar kafein yang lebih rendah. Teh kaya akan katekin dan flavonoid yang dapat menghambat enzim ACE (penyebab penyempitan pembuluh darah). Konsumsi teh rutin lebih sering dikaitkan dengan penurunan tekanan darah dalam jangka panjang dibandingkan peningkatan.

Berdasarkan pedoman kesehatan internasional, berikut adalah batasan konsumsi kafein harian yang disarankan:

Bagi Umum (Kondisi Sehat):

  • Batas maksimal kafein adalah 400 mg per hari.
  • Ini setara dengan sekitar 3–4 cangkir kopi hitam, atau 2–3 cangkir matcha, atau 5–6 cangkir teh.

Bagi Penderita Hipertensi:

  • Batas maksimal kafein disarankan tidak melebihi 200 mg per hari.
  • Sangat disarankan untuk membatasi kopi hanya 1–2 cangkir kecil dan lebih mengutamakan konsumsi teh atau matcha karena efeknya yang lebih lembut terhadap pembuluh darah.

Waktu Terbaik untuk Mengonsumsi

Pengaturan waktu konsumsi sangat penting untuk menyelaraskan dengan ritme sirkadian (jam biologis) tubuh:

a. Antara Pukul 09.30 – 11.30 Pagi:

Pada saat ini, kadar hormon kortisol (hormon stres alami) dalam tubuh mulai menurun setelah mencapai puncaknya di pagi buta. Mengonsumsi kafein di jam ini memberikan dorongan energi paling efektif tanpa memicu kecemasan berlebih.

b. Setelah Makan Siang (Pukul 13.30 – 15.00):

Membantu mengatasi kantuk pasca makan. Namun, bagi penderita hipertensi, hindari konsumsi kafein tepat sebelum melakukan aktivitas fisik berat.

c. Batas Waktu Sore (Cut-off Time):

Konsumsi kafein sebaiknya dihentikan 6–8 jam sebelum tidur. Jika waktu tidur adalah pukul 22.00, maka konsumsi terakhir adalah pukul 14.00 atau 16.00. Gangguan tidur akibat kafein dapat memicu hipertensi kronis di kemudian hari.

Kesimpulan

Bagi individu dengan tekanan darah normal, kopi, matcha, dan teh merupakan bagian dari gaya hidup sehat jika dikonsumsi dalam batas wajar. Bagi penderita hipertensi, pemilihan jenis minuman sangat krusial; matcha dan teh lebih disarankan karena kandungan L-theanine dan antioksidannya yang mampu memitigasi efek negatif kafein terhadap pembuluh darah.

========

Daftar Pustaka

1. Bakker, A., et al. (2020). Coffee and Arterial Hypertension: A Long-standing Controversy. Journal of Clinical Medicine.
2. Cappelletti, S., et al. (2015). Caffeine: Cognitive and Physical Performance Enhancer or Psychoactive Drug?. Current Neuropharmacology.
3. Kochman, J., et al. (2020). Health Benefits and Chemical Composition of Matcha Green Tea: A Review. Molecules.
4. aaOnakpoya, I. J., et al. (2014). The effect of green tea on blood pressure and lipid profile: A systematic review and meta-analysis. Nutrition, Metabolism and Cardiovascular Diseases.
5. Whelton, P. K., et al. (2018). Guidelines for the Prevention, Detection, Evaluation, and Management of High Blood Pressure in Adults. American College of Cardiology.
 

hipertensi,tekanan darah tinggi,lansia sehat

ARTIKEL LAINNYA

Bahaya Duduk Terlalu Lama bagi Lansia

Cara Mengukur Kebutuhan Porsi Makan Lansia

Memahami Hipertensi (12): Relaksasi Nafas dan Otot serta Pikiran untuk Turunkan Tensi

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026