Memahami Hipertensi (4): Proses Terjadinya Hipertensi pada Lansia


Akibat perubahan tersebut, tubuh lansia membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan tekanan darah, misalnya saat berdiri dari posisi duduk atau tidur.

2026-05-11T09:27

oleh dr. Fatihah Fikriyah

Geriatri - Tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah salah satu masalah kesehatan yang paling sering dialami oleh orang lanjut usia. Semakin bertambah umur, risiko hipertensi juga makin meningkat.

Tapi, yang penting untuk dipahami adalah ini bukan sekadar karena “sudah tua”, melainkan akibat perubahan tubuh yang terjadi perlahan selama bertahun-tahun.

Perubahan pada Pembuluh Darah

Seiring usia bertambah, pembuluh darah—terutama arteri—tidak lagi selentur dulu. Hal ini terjadi karena:
•    Berkurangnya “karet alami” pada pembuluh darah, 
•    Ada penumpukan kalsium dan plak, yang membuat saluran darah semakin sempit.
•    Serta tekanan darah yang terus bekerja selama bertahun-tahun. 

Saat masih muda, pembuluh darah bisa melebar dengan mudah saat darah mengalir. Namun pada lansia, pembuluh darah jadi lebih kaku dan sempit, sehingga tubuh membutuhkan tekanan lebih tinggi untuk mempertahankan aliran darah yang optimal.

Konsekuensinya, semakin kaku dan sempit pembuluh darah, semakin tinggi tekanan yang diperlukan untuk menggerakkan darah.

Adaptasi Jantung Akibat Beban Kerja Berkepanjangan

Bagian jantung yang paling terasa dampaknya adalah bilik kiri (ventrikel kiri)—“mesin utama” yang memompa darah ke seluruh tubuh. Penebalan ini menyebabkan:

•    Jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah,
•    Kebutuhan oksigen dan energi meningkat,
•    Kapasitas relaksasi atau saat jantung menerima darah menurun,
•    Tekanan darah cenderung meningkat sebagai mekanisme penyeimbang.

Inilah mengapa hipertensi pada lansia sering bersifat menetap dan memerlukan penanganan yang konsisten.

Penurunan Fungsi Ginjal

Ginjal punya peran penting dalam mengatur tekanan darah, melalui mekanisme penyaringan, pengeluaran garam, serta keseimbangan cairan tubuh. Namun pada lansia jumlah “saringan kecil” ginjal (nefron) berkurang; atau melambatnya kemampuan ginjal dalam menyaring darah: atau diarenakan kemampuan pengeluaran kelebihan garam atau natrium menurun.

Akibatnya garam dan cairan lebih lama dan banyak tertahan dalam tubuh, sehingga volume darah semakin meningkat dan tekanan darah semakin naik.

Perubahan Sistem Saraf dan Hormon Pengatur Tekanan Darah

Tekanan darah dikendalikan oleh sistem saraf otonom dan berbagai hormon yang bertugas mengatur pelebaran dan penyempitan pembuluh darah. Sistem ini bekerja otomatis untuk menjaga tekanan darah tetap stabil sesuai kebutuhan tubuh.

Pada proses penuaan, terjadi beberapa perubahan penting, antara lain:

•    Baroreseptor, yaitu sensor alami yang mendeteksi perubahan tekanan darah menjadi kurang sensitif sehingga lebih lambat memberikan sinyal koreksi.
•    Respon sistem saraf simpatis dan parasimpatis yang berperan menyeimbangkan tekanan darah mulai melemah.
•    Produksi hormon pengatur tekanan darah seperti noradrenalin, renin, dan hormon antidiuretik, mengalami perubahan sehingga mekanisme pengaturan tekanan tidak seefektif saat masih muda.

Akibat perubahan tersebut, tubuh lansia membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan tekanan darah, misalnya saat berdiri dari posisi duduk atau tidur. Kondisi ini membuat lansia lebih rentan mengalami tekanan darah yang naik turun secara mendadak.

Faktor Gaya Hidup yang Berperan Mempercepat Proses Terjadinya Hipertensi

Selain perubahan alami tubuh, faktor perilaku dan lingkungan turut memperkuat risiko hipertensi pada lansia. Beberapa faktor yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari adalah:

•    konsumsi garam berlebih,
•    pola makan tinggi lemak jenuh,
•    obesitas,
•    kurang aktivitas fisik,
•    kebiasaan merokok
•    stres 
•    kurang tidur atau pola tidur terganggu.

Faktor-faktor tersebut mempercepat terjadinya perubahan pada pembuluh darah, jantung, dan ginjal, serta memperberat mekanisme pengaturan tekanan darah.

Mengapa Hipertensi pada Lansia Perlu Diwaspadai?

Hipertensi pada lansia bersifat lebih kompleks karena sering tanpa gejala, sering ditemukan bersamaan dengan penyakit lain (komorbid), atau menimbulkan risiko komplikasi yang tinggi.

Komplikasi dapat meliputi  stroke, serangan jantung, gagal jantung, gangguan ginjal kronis, atau penurunan fungsi kognitif.

Oleh karena itu, pemantauan tekanan darah secara berkala sangat penting, terutama karena hipertensi sering ditemukan ketika sudah menimbulkan dampak pada organ lain.

Kesimpulan

Peningkatan tekanan darah pada lansia bukanlah proses yang muncul mendadak, tetapi merupakan hasil perubahan fisiologis bertahap yang terjadi sepanjang kehidupan.

Penuaan menyebabkan: (1) pengerasan pembuluh darah, (2) beban kerja jantung meningkat, (3) penurunan fungsi ginjal, (4) melemahnya regulasi saraf dan hormon, serta (5) diperberat oleh faktor gaya hidup dan lingkungan.

Meskipun penuaan merupakan proses yang alamiah, hipertensi pada lansia dapat dikendalikan dengan gaya hidup sehat, pemeriksaan tekanan darah rutin, penatalaksanaan medis yang tepat, serta edukasi yang berkesinambungan. (drk)

=====

Daftar Pustaka

1.    Aronow, W. S., & Fleg, J. L. (2011). Blood Pressure in the Elderly. American Journal of Geriatric Cardiology.
2.    Pinto, E. (2007). Blood Pressure and Ageing. Postgraduate Medical Journal, 83(976), 109–114.
3.    Whelton, P. K. et al. (2018). 2017 ACC/AHA Guideline for the Prevention, Detection, Evaluation, and Management of High Blood Pressure in Adults. Journal of the American College of Cardiology.
4.    Hall, J. E. (2020). Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. Philadelphia: Elsevier.
5.    Safar, M. E., & London, G. M. (2000). Arterial and Cardiac Aging: Major Shareholders in Cardiovascular Disease Enterprises. Circulation, 102(13), 1385–1387.
6.    Franklin, S. S. (1999). Ageing and Hypertension: The Assessment of Blood Pressure Indices in Older Adults. The American Journal of Geriatric Cardiology.
7.    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Profil Kesehatan Indonesia dan Prevalensi Hipertensi.
8.    Weber, M. A. et al. (2014). Clinical Practice Guidelines for the Management of Hypertension in the Elderly. The American Journal of Medicine.
9.    Lakatta, E. G., & Levy, D. (2003). Arterial and Cardiac Aging: Major Shareholders in Cardiovascular Disease. Circulation

hipertensi,tekanan darah tinggi,darah tinggi,hipertensi lansia,merawat lansia

ARTIKEL LAINNYA

Layanan Konsultasi bagi Jamaah Haji Lansia dan Keluarga

Libur 4 Hari Tanpa Ribet, Naik TransJakarta Aja!

Tips Meracik Daging Merah Tanpa Mengabaikan Jantung

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026