
Geriatri - Fenomena ini memang nyata dan terjadi di banyak negara: mayoritas caregiver (perawat lansia atau orang sakit) adalah anggota keluarga sendiri—anak, pasangan, atau kerabat—dan seringkali tanpa pelatihan formal.
Ini bisa dijelaskan dari beberapa sisi:
1. Faktor budaya & nilai keluarga
Di banyak budaya (termasuk Indonesia), merawat orang tua dianggap tanggung jawab moral. Ada nilai “balas budi” atau kewajiban anak terhadap orang tua, sehingga keluarga merasa tidak perlu orang luar.
2. Akses & biaya layanan profesional
Layanan caregiver profesional atau panti sering:
• Mahal
• Tidak tersedia merata
Akibatnya, keluarga menjadi pilihan paling realistis.
3. Kepercayaan & kenyamanan
Keluarga cenderung lebih dipercaya:
• Lebih memahami kebiasaan lansia
• Lansia merasa lebih aman dengan orang yang dikenal
4. Kurangnya edukasi tentang caregiving
Banyak orang tidak sadar bahwa caregiving itu butuh skill, seperti:
• Mengangkat pasien dengan aman
• Mengelola obat
• Menangani demensia atau perubahan perilaku
Karena kurangnya edukasi, mereka merasa: “Ini cuma bantu orang tua, bisa dipelajari sambil jalan.”
5. Sistem kesehatan belum terintegrasi
Di banyak tempat, belum ada sistem yang:
• Memberikan pelatihan caregiver keluarga
• Memberikan pendampingan rutin
• Mengakui caregiver sebagai bagian dari sistem kesehatan
6. Dampak dari kondisi ini
Karena tanpa pelatihan, sering muncul:
• Burnout caregiver (lelah fisik & mental)
• Kesalahan perawatan (misalnya obat, nutrisi, mobilisasi)
• Stres emosional dan konflik keluarga
Caregiver keluarga itu tulang punggung perawatan lansia, tapi mereka “dipaksa kompeten” tanpa pernah benar-benar dipersiapkan.
=====
Sudah daftar pelatihan caregiver? Silakan klik di sini
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri