'Apakah Boleh Kita Meminta dan Memilih Pulang?'


Penderitaan itu adalah indignities dan humiliation yang timbul ketika seseorang kehilangan otoritas atas tubuhnya sendiri, dan sepenuhnya bergantung pada orang lain.

2026-04-17T12:48

Oleh Dra. Hj. Elisa Mojowarni.

Renungan ini adalah renungan seorang lansia yang sedang berkemas untuk “pulang”. Bukan putus asa tetapi masih mencari cari jawaban: sudahkah kita punya banyak tabungan untuk meminta pulang?

Tabungan amal ibadah dan lain-lain, yang sudah ditentukan Allah untuk bisa ke kampung akhirat, rasanya kok belum pantas kalau kita sudah mengatakan sudah cukup. Beberapa waktu yang lalu, ada teman mengingatkan bahwa kami sudah lebih 63 tahun, usia Nabi Muhammad ketika wafat. Pesannya singkat: siap-siaplah.

Saat itu saya mengartikannya sebagai ajakan untuk bersiap, termasuk berharap bisa meminta memilih bagaimana saya pulang. Saya memikirkan cara menenangkan jiwa agar kelak kembali dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya, sebagaimana disebut dalam Surat Al-Fajar ayat 27–28. Saya juga mulai berharap agar perjalanan pulang dilancarkan, kalau bisa singkat, tanpa sakit dan penderitaan.

Saya sudah melihat kematian sahabat yang meninggal tanpa sakit. Ia “berpamitan” dengan keluarga untuk gowes – dan pulang tinggal nama. Atau ada cerita seorang teman yang ayahnya hanya sakit satu hari sebelum wafat, diantar dengan penuh perhatian oleh anak yang menyayanginya. Besok nya sudah meninggal ?.

Ada juga sahabat selesai menjadi imam sholat maghrib di masjid, tersungkur dan langsung dibawa ke RS. Esok harinya sudah ada berita duka. Allah sudah punya cara untuk memanggil hamba-Nya, sehingga kita tidak pantas untuk meminta atau memilih jalan pulang.

Saya sudah diberi bonus hidup melewati usia 63 tahun. Dari situ saya mulai menyadari bahwa saya tidak berhak memilih atau meminta jalan pulang. Itu sepenuhnya kewenangan Allah. Kesadaran ini mengubah pandangan saya. Saya tidak lagi berharap melainkan menerima. Bukan hanya memohon jalan yang singkat dan lancar, tetapi juga memohon kekuatan jika perjalanan pulang harus dijalani dengan berat.

Namun saya pernah sakit karena jatuh di rumah sehingga tangan kanan saya patah dan cukup parah. Di dalam sakit itulah saya menyadari, ini ujian hidup. Saya yang harus bersabar dan ikhlas, terutama .anak-anak saya sudah merawat sampai saya sembuh.      

Ada penderitaan nonfisik yang dialami oleh orang yang menderita sakit parah, melalui film Goodbye June di Netflix, dan artikel yang ditulis oleh Tatiana Schlossberg di majalah The New Yorker sebulan sebelum ia meninggal. Penderitaan itu adalah indignities (kehilangan martabat) dan humiliation (penghinaan atau rasa malu) yang timbul ketika seseorang kehilangan otoritas atas tubuhnya sendiri, dan sepenuhnya bergantung pada orang lain, termasuk untuk makan, mandi, dan buang air.

Kita sepenuhnya tidak berdaya. Kita menjadi seonggok tubuh yang berbaring dengan wajah kesakitan. Dan ini sangat menyakitkan karena tidak hanya terkait dengan tubuh tapi identitas yang selama ini kita bangun.

Sebelumnya kita merasa sangat berkuasa, bahkan tidak hanya terhadap diri sendiri tapi juga terhadap banyak orang. Kita juga begitu bangga dengan berbagai pencapaian dan keberhasilan. Juga kehebatan dan penampilan. Mendadak kita menjadi bukan apa-apa. Kita sering mendengar bahwa kita tidak membawa apa-apa ketika mati. Bahkan dalam perjalanan pulang pun, apa yang kita upayakan dan kumpulkan selama hidup dipreteli satu per satu. Yang tinggal hanya seonggok tubuh yang tidak berdaya...

Jadi, apa yang harus kita persiapkan untuk perjalanan pulang?

Menjaga kesehatan adalah penting. Bagi saya itu adalah bagian dari bersyukur karena dikaruniai kesehatan. Namun penyakit datang bagaikan lotere. Tatiana Schlossberg, cucu dari presiden JF Kennedy, sebelumnya merasa ia adalah orang yang paling sehat, lahir dan batin. Ia rutin berlari 10-15 km.  Ia sering berkumpul dengan keluarga dan kerabat, serta terlibat di berbagai kegiatan bersama anaknya yang berumur dua tahun. Dan semuanya berakhir ketika ia mengalami pendarahan pada saat ia melahirkan anaknya yang kedua dan didiagnosis menderita leukimia yang langka. Setelah itu prosesnya berjalan cepat. Ia meninggal sekitar satu setengah tahun, baru berusia 35 tahun.

Saya pikir, selain menjaga kesehatan agar kita fit dalam perjalanan, kita perlu mulai secara sukarela menanggalkan berbagai atribut yang membuat kita merasa hebat dan perkasa. Paling tidak, hal ini meringankan  kita ketika dipaksa untuk tidak berdaya. Kita tidak jatuh dari ketinggian yang dapat meremukkan kita. Menyadari bahwa kita tidak ada apa-apanya, dibanding kekuasaan Tuhan, merupakan salah satu cara untuk menenteramkan jiwa. Seluruh kebanggaan dan kesombongan atas apa yang kita capai sebetulnya hanyalah keberuntungan yang dikaruniai-Nya, yang semuanya akan dicabut-Nya sehingga kita pulang tidak membawa apa-apa.

Tulisan ini terinspirasi dari teman SMA saya; Prof Emil Bachtiar. Mungkin ada pendapat lain dari Oma/Opa yg berangan-angan untuk bisa "PULANG" dengan persiapan lahir batin, Indahnya berbagi selagi kita masih diberi nafas?

===    

* Sebuah renungan dari perjalananku yang genap berusia 66 tahun pada 18 April 2026.

renungan,renungan lansia,lansia bahagia

ARTIKEL LAINNYA

Ini Tips Saat Merawat Hipertensi di Rumah

Ajaklah Orangtua ‘Keliling Dunia'

Berkebun Yuk, Guna Usir Kejenuhan

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026