Waspada Kehilangan Massa Otot pada Lansia


Berita Lansia - Sarkopenia merupakan sindrom yang ditandai dengan berkurangnya massa otot rangka serta kekuatan otot secara progresif dan menyeluruh.

2020-02-25 08:09:27

Oleh: Prof. Dr. dr. Siti Setiati SpPD, KGer, M. Epid, FINASIM*

Geriatri.id - Sarkopenia berasal dari bahasa Yunani sarx (otot) dan penia (kehilangan, NULL); yang berarti kehilangan massa otot. Istilah itu pertama kali diperkenalkan oleh Irwin Rosenberg pada tahun 1988.

Sarkopenia merupakan sindrom yang ditandai dengan berkurangnya massa otot rangka serta kekuatan otot secara progresif dan menyeluruh.

Sarkopenia umumnya diiringi inaktivitas fisik, penurunan mobilitas, cara berjalan yang lambat, dan enduransi fisik yang rendah.

Sarkopenia merupakan kondisi yang dapat terjadi pada usia lanjut yang sehat.

Walaupun sarkopenia terutama terjadi pada usia lanjut, terdapat kondisi lain yang dapat menyebabkan sarkopenia pada dewasa muda, seperti malnutrisi, gaya hidup sedenter, keganasan, dan cachexia.

Sarkopenia dimulai saat usia 40-50 tahun dan melaju sekitar 0,6% setiap tahun berikutnya.

Penurunan massa otot dengan laju tersebut biasanya belum memiliki dampak buruk, namun ketika otot tidak digunakan seperti pada kondisi sakit penurunan massa otot memberikan dampak buruk.

Sarkopenia merupakan fenomena kompleks dengan etiologi multifaktorial.

Proses terjadinya sarkopenia melibatkan interaksi sistem saraf tepi dan sentral, hormonal, status nutrisi, imunologis, dan aktifitas fisik yang kurang.

Pada tingkat molekular, sarkopenia disebabkan penurunan kecepatan sintesis protein otot dan/atau peningkatan pemecahan protein otot yang tidak proporsional.

Proses neuropati paling berpengaruh karena bertanggungjawab pada degenerasi saraf motor alfa yang mensarafi serabut otot dan menyebabkan kehilangan motor unit.


Menurut The European Working Group on Sarcopenia in Older People (EWGSOP), diagnosis sarkopenia dapat ditegakkan bila didapatkan setidaknya dua dari tiga kriteria berikut: massa otot rendah, kekuatan otot buruk, dan performa fisik yang kurang.

Penurunan massa otot adalah massa otot kurang dari 2 kali standar deviasi referensi populasi laki-laki atau perempuan dewasa muda yang sehat di daerah tersebut.

Kriteria diagnosis tersebut sulit diterapkan di Indonesia karena belum ada data normatif besaran massa otot pada populasi dewasa muda serta data referensi kekuatan otot pada berbagai kelompok usia dan jenis kelamin.

Selain itu, hingga kini belum ada standar teknik pengukuran besaran massa otot untuk usia lanjut.

Teknik yang dianggap sebagai baku emas adalah pemeriksaan dual-energy X-ray absorptiometry (DEXA).

Teknik lainnya adalah bioelectric impedans, computed tomography, magnetic resonance imaging, serta pengukuran ekskresi kreatinin urin, pengukuran antropometri dan aktivasi netron.

Pengukuran kekuatan otot yang direkomendasikan oleh EWGSOP adalah mengukur kekuatan genggam tangan sedangkan performa fisik dapat diukur dengan skoring short physical performance battery (SPPB) yang merupakan penjumlahan skor dari 3 tes: kecepatan berjalan biasa 4 menit, keseimbangan, dan tes duduk berdiri.

Alternatif pengukuran lainnya adalah tes berjalan 6 menit, tes timed go-up and go, dan tes kekuatan menaiki tangga.

Salah satu cara deteksi dini sarkopenia adalah penurunan kecepatan berjalan yakni kurang dari 0,8 meter/ detik pada tes jalan 4 menit.

Pencegahan


Sarkopenia memiliki peran penting pada patogenesis dan etiologi sindrom frailty.

Frailty merupakan sindrom klinis yang disebabkan akumulasi proses menua, inaktivitas fisik akibat tirah baring lama dan turunnya berat badan, nutrisi yang buruk, gaya hidup serta lingkungan yang tidak sehat, penyakit penyerta, polifarmasi serta genetik dan jenis kelamin perempuan.

Faktor tersebut saling berkaitan membentuk siklus dan menyebabkan malnutrisi kronis disertai disregulasi hormonal, inflamasi dan faktor koagulasi. Kondisi sarkopenia menyebabkan penurunan kapasitas fisik sehingga usia lanjut membutuhkan usaha yang jauh lebih besar untuk melakukan aktivitas

Pencegahan dan tatalaksana yang tepat terhadap sarkopenia dan frailty merupakan salah satu upaya untuk memertahankan dan memerbaiki kualitas hidup usia lanjut.

Mekanisme sarkopenia yang multifaktorial menyebabkan tatalaksana sarkopenia juga harus dilakukan secara holistik.

Upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah asupan diet protein, vitamin & mineral yang cukup, serta olah raga teratur.

Perlu pemantauan rutin kemampuan dasar seperti berjalan, keseimbangan, fungsi kognitif, pencegahan infeksi dengan vaksin, serta antisipasi kejadian yang dapat menimbulkan stres misalnya pembedahan elektif dan reconditioning cepat setelah mengalami stres dengan renutrisi dan fisioterapi individual.

Nutrisi yang berperan pada sarkopenia adalah protein, vitamin D, antioksidan, selenium, vitamin E, dan C.

Protein merupakan nutrisi utama yang berperan pada sarkopenia. Asupan protein yang dianjurkan untuk orang dewasa adalah 0,8 g/ kg berat badan/hari. Orang usia lanjut umumnya mengonsumsi protein kurang dari angka kecukupan gizi (AKG).

Penelitian multisenter di 15 propinsi di Indonesia mendapatkan bahwa 47% usia lanjut mengonsumsi protein kurang dari 80% AKG.

Proporsi protein yang adekuat merupakan faktor penting; bukan dalam jumlah besar pada sekali makan.

Hal penting lainnya adalah kualitas protein yang baik, yaitu protein sebaiknya mengandung asam amino esensial.

Leusin adalah asam amino esensial dengan kemampuan anabolisme protein tertinggi sehingga dapat mencegah sarkopenia. Leusin dikonversi menjadi hydroxy-methyl-butyrate (HMB).

Suplementasi HMB meningkatkan sintesis protein dan mencegah proteolisis.

Nutrisi kedua yang berperan penting pada sarkopenia dan kekuatan massa otot adalah vitamin D.

Orang usia lanjut berisiko mengalami defisiensi vitamin D. Setiati et al,27 mendapatkan prevalensi defisiensi vitamin D pada usia lanjut sebesar 35,1%.

Rendahnya kadar vitamin D memiliki risiko 4 kali lipat untuk menjadi frailty.

Suplementasi vitamin D pada usia lanjut dengan defisiensi vitamin D bermanfaat untuk mencegah sarkopenia, penurunan status fungsional, dan risiko jatuh.

Sumber vitamin D banyak didapatkan pada ikan salmon, tuna, dan makarel.


Pajanan sinar matahari juga merupakan salah satu sumber vitamin D, namun letak geografis, waktu berjemur, kandungan melanin dalam kulit, dan penggunaan tabir surya dapat memengaruhi kandungan vitamin D.

Salah satu bentuk vitamin D adalah alfacalcidol yang merupakan analog vitamin D non-endogen.

Alfacalcidol bermanfaat untuk mencegah jatuh, meningkatkan keseimbangan, fungsi dan kekuatan otot.

Faktor lain yang berperan penting pada sarkopenia adalah aktivitas fisik.

Aktivitas fisik dapat menghambat penurunan massa dan fungsi otot dengan memicu peningkatan massa dan kapasitas metabolik otot sehingga memengaruhi energy expenditure, metabolise glukosa, dan cadangan protein tubuh.

Resistance training merupakan bentuk latihan yang paling efektif untuk mencegah sarkopenia dan dapat ditoleransi dengan baik pada orang tua.

Program resistance training dilakukan selama 30 menit setiap sesi, 2 kali seminggu.

 Untuk mencegah sarkopenia juga diperlukan asupan protein yang adekuat.

Kedua intervensi tersebut harus berjalan beriringan, karena pemberian nutrisi tanpa aktivitas fisik dapat menyebabkan overfeeding, yang akan dikonversi menjadi lemak, sehingga justru membahayakan.

Aktivitas fisik tanpa asupan nutrisi yang adekuat menyebabkan keseimbangan protein negatif dan menyebabkan degradasi otot.

 Kombinasi resistance training dengan intervensi nutrisi berupa asupan protein yang cukup dengan kandungan leusin, khususnya HMB yang adekuat, merupakan intervensi terbaik untuk memelihara kesehatan otot orang usia lanjut.

Hal terpenting yang perlu digarisbawahi adalah sarkopenia merupakan faktor kunci dalam patogenesis frailty pada usia lanjut serta merupakan kondisi yang dapat dimodifikasi.

Oleh karena itu peran nutrisi dan aktivitas fisik menjadi modalitas utama dalam pencegahan serta tatalaksana sarkopenia dan frailty.

*Disampaikan pada Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta 7 September 2013

Foto ilustrasi Pixabay

Baca artikel sebelumnya:
Kekerasan terhadap Lansia, Etik, dan Isu Hukum Medis
Karakteristik Pasien Geriatri dan Sindrom Geriatri
Geriatric Medicine, Sejarah Terbentuknya Ilmu Geriatri, dan Gerontologi
Mengenal Konsep Baru Proses Menua

prof ati,lansia,geriatri

ARTIKEL LAINNYA

Cara Memilih Tensimeter yang Cocok di Rumah

Layanan Konsultasi bagi Jamaah Haji Lansia dan Keluarga

Libur 4 Hari Tanpa Ribet, Naik TransJakarta Aja!

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026