Mengenal Perubahan Tubuh di Usia Emas Saat Berpuasa


Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami penurunan yang dalam dunia medis disebut sebagai penurunan cadangan fisiologis.

2026-03-25T08:57

Puasa Ramadhan adalah ibadah yang membawa banyak manfaat kesehatan. Namun bagi lansia, pengalaman berpuasa bisa terasa berbeda dibandingkan saat usia muda. Perubahan ini bukan hanya soal stamina yang menurun, tetapi berkaitan dengan perubahan fisiologis pada berbagai sistem tubuh.

Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami penurunan yang dalam dunia medis disebut sebagai penurunan cadangan fisiologis. Artinya, kemampuan organ untuk merespons stres—termasuk saat menahan lapar dan haus selama puasa—tidak lagi sekuat saat muda.

Jika tubuh orang muda diibaratkan seperti mobil baru dengan tangki bahan bakar penuh, maka tubuh lansia bekerja dengan cadangan energi yang lebih terbatas. Saat kondisi normal mungkin tidak terasa perbedaannya. Namun saat berpuasa, keterbatasan ini mulai terlihat melalui perubahan energi, metabolisme, dan keseimbangan cairan tubuh.

Mengapa Puasa Terasa Berbeda bagi Lansia?

Salah satu alasan utama mengapa puasa terasa berbeda di usia lanjut adalah menurunnya kemampuan tubuh mempertahankan homeostasis, yaitu keseimbangan sistem metabolisme tubuh.

Penurunan Cadangan Energi di Hati

Hati berfungsi sebagai gudang energi tubuh dalam bentuk glikogen. Ketika seseorang berpuasa, tubuh menggunakan cadangan ini untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil.

Pada lansia, ukuran dan fungsi hati secara alami mengalami penurunan. Akibatnya cadangan glikogen menjadi lebih sedikit dibandingkan orang dewasa muda.

Dampaknya, lansia bisa lebih cepat mengalami penurunan gula darah selama puasa. Jika orang muda masih stabil setelah berpuasa 12 jam, sebagian lansia dapat mulai merasakan gejala hipoglikemia pada jam ke-8 hingga ke-10. Gejala ini biasanya berupa pusing, gemetar, keringat dingin, dan tubuh terasa lemas.

Respons Hormon yang Melambat

Tubuh memiliki dua hormon penting dalam mengatur gula darah, yaitu insulin yang menurunkan gula darah dan glukagon yang menaikkannya.

Pada lansia, sensitivitas tubuh terhadap hormon-hormon ini menurun. Respons tubuh menjadi lebih lambat. Saat sahur, gula darah bisa meningkat terlalu tinggi karena insulin bekerja lebih lambat. Sebaliknya, ketika gula darah mulai turun di sore hari, tubuh juga lambat memproduksi glukagon untuk menaikkannya kembali.

Akibatnya, energi tubuh lansia selama puasa cenderung naik turun lebih tajam dibandingkan orang muda.

===

* Disarikan dari Ebook Panduan Ramadhan bagi Lansia oleh Dr. dr. Edy Rizal Wahyudi, Sp.PD-K.Ger, FINASIM. dan kawan-kawan.

lansia sehat,lansia bahagia

ARTIKEL LAINNYA

Peran Keluarga dalam Mendampingi Lansia

Habis Lebaran, Yuk Gerak Lagi

Catatan Akhir Puasa Ramadan 2026

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026