Oma Maretta Mengenang Suatu Angkot di Pecangaan


Oya, tahu gak, saya waktu itu terpilih sebagai kades tercantik. Karena saya paling ayu? Bukan. Saya pas pelantikan jadi satu-satunya perempuan, hehehe. 

2026-02-27T08:26

Maretta Dwi Riyani. Begitulah nama lengkap saya. Orang-orang di kampung halaman saya, Purwokerto, kerap memanggil saya dengan “Reta”. Umur saya saat ini 71 tahun.

Pada suatu masa saya pernah tinggal di Jakarta dan mengajar pada sebuah TK asing di Jalan Kapten Tendean, Mampang. Di sanalah saya bertemu dengan laki-laki dengan kemudian menjadi suami saya. Ketika dia dipindahkan dinasnya ke desa Pecanggaan, kecamatan Batangan, kabupaten Pati, saya mengikuti beliau pindah ke salah kota di Jawa Tengah itu.

Singkat kata, ada pencalonan kepala desa pada beberapa tahun berselang, dan saya memenuhi persyaratan itu. Atas dukungan suami dan keluarga besar untuk mencalonkan diri sebagai kades. Alhamdulillah saya terpilih. Dengan alih profesi saya harus banyak belajar, ternyata menjadi kades sesuai dengan panggilan hati saya. Saya senang bekerja keras, senang memimpin, senang mengkoordinasi, mengarahkan, dan saya jalani dengan enjoy. 

Oya, tahu gak, saya waktu itu terpilih sebagai kades tercantik. Karena saya paling ayu? Bukan. Saya pas pelantikan jadi satu-satunya perempuan, hehehe. 

Selama menjadi kades, banyak pencapaian yang saya lakukan yang semua mempunyai cerita yang menggelitik, menggelikan, menyenangkan, aneh tapi nyata. Misalnya saya menyukseskan pemilu selama 2 kali, yakni di tahun 1982 dan 1987. Saya juga berhasil mendirikan TK Dharma Wanita dan memasukkan listrik dari kabupaten Rembang ke desa saya di kabupaten Pati.

Masih banyak cerita lain yang saya alami selama 10 tahun menjadi kades. Semua kejadian mempunyai cerita sendiri, termasuk cerita satu angkot dengan preman (bentho) yang sempat bikin kades “deg-degan”.

Kisah ini nyata, di siang hari tahun 1982. Pada suatu hari saya ada rapat di desa lain dan saya pulang naik angkot, yang jaraknya sekitar 12 km. Suatu ketika saya akhirnya hanya bertiga dengan penumpang lain – usianya kira-kira paruh baya-- plus sopir.

Yang saya tangkap, mereka saling bercerita, mendapatkan hasil yang didapat. Saya langsung berpikir, “ini bapak-bapak preman.” Meski demikian saya mencoba tetap tenang dan bahkan ingin kenal dan akhirnya saya menyapa duluan. 

“Bapak turun mana?” tanya saya. Si Bapak yang satu menjawab Batangan. Saya pun menjawab sama-sama turun Batangan. Si Bapak yang satu lagi bahkan matanya berbinar-binar dan agak tersenyum, waktu saya menegaskan di desa Pecangaan.

Seketika itu kami seperti sudah kenal. Apalagi saya mengeluarkan rokok Sukun yang biasanya dihisap laki-laki di daerah nelayan, termasuk di daerah Juana yang habis saya singgahi. Rokok pun diterima dan waktu ke Batangan sekitar 30-40 menit, karena naik-turun penumpang, kami pun semakin akrab. 

“Mbak saya dengar dengar kamituwo (kepala dusun) desa Pecangaan itu orangnya sakti dan bisa santet orang ya?” tanyanya lagi.

Spontan saya jawab, “ Iya, Pak, benar sekali.” 

Di sini, saya mulai pegang kendali, menguasai bapa-bapak ini. Saya langsung cerita, pada waktu saya masih kecil pernah ada maling masuk desa Pecangaan. Ada istilah, kaki yang sudah menginjak desa Pecangaan akan susah mencari jalan keluar dari desa. Jadi, preman/ maling itu larinya ke utara. Padahal kalau lari ke utara, makin banyak penduduk nelayan dan jika tertangkap akan ditenggelam ke laut oleh warga. 

Mata bapak-bapak itu serius melihat dan mendengarkan cerita saya. Karena waktu itu saya masih kecil, yang hanya saya dengar, si gentho atau preman/maling diserahkan ke polsek. 

Ketika saya mengakhiri cerita, tiba-tiba si bapak “preman” berkata, “SEREM ya, Mbak.” Angkot pun sudah sampai pos terakhir Batangan, kami sama-sama turun dan saling senyum.

Sembari naik vespa dijemput suami, di perjalanan Batangan sampai rumah, dalam hati saya tertawa geli, takut, campur aduk. Mereka tidak tahu bahwa yang diajak bicara di angkot adalah kepala desa Pecangaan yang notabene adalah saya sendiri :-D 

Segitu dulu ya, nanti saya bercerita lagi ?

 

cerita lansia,ceritadari lanisa

ARTIKEL LAINNYA

Gula Aren Baik kok, Asalkan Dikonsumsi Dalam Batas Wajar

Hm, Teh Bunga Telang Sudah Dicoba Belum?

Ini yang Mungkin Cocok buat Ide Bisnis Lansia

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026