1 Januari 2020 malam, air naik dengan sangat cepat di Cipinang, Melayu, Jakarta Timur. Nenek Siti Hawa (70 th) yang tengah berada di rumah kaget air masuk di kediamannya. Kondisi gelap gulita dan kacau membuat suasana mencekam malam itu. Gemuruh air menjadi suara yang meneror warga sekitar.
Tidak butuh waktu lama, gemuruh air itu terus naik mencapai 3 – 4 meter. Tubuhnya yang renta tak mampu melakukan penyelamatan diri. Suara nenek itupun hilang, hening dalam gelap malam. Jenazah Siti Hawa ditemukan anaknya di dalam rumah yang penuh lumpur. Perjuangan keluarga mengevakuasi jenazah menjadi pmandangan yang memilukan.
Sementara Kawasan elit di Perumahan Green Ville, Kebun Jeruk Jakarta Barat, mengalami banjir parah. Nenek Hanny (71 th) juga ditemukan tak bernyawa di rumahnya. Sang nenek beberapa hari terjebak banjir sendirian. Saat banjir mengepung kompleks, akses komunikasi dan listrik terputus, membuat posisi beliau sulit terpantau.
Diduga beliau meninggal karena hipotermia (kedinginan) atau kelelahan saat berusaha bertahan hidup sendirian di dalam rumah yang gelap dan terendam air selama berhari-hari tanpa bantuan. Keduanya adalah lansia yang tidak memiliki kekuatan fisik untuk menerjang arus air atau memanjat ke tempat yang lebih tinggi.
Dua kisah yang menyentuh, mencerminkan kerentanan ekstrim lansia yang tinggl di daerah rawan, tanpa sistem evakuasi yang memadai. Menyelamatkan lansia saat banjir membutuhkan pendekatan khusus karena keterbatasan fisik, kondisi kesehatan, serta risiko trauma psikologis yang lebih tinggi pada mereka.
Lansia menjadi prioritas utama saat evakuasi dini (pre-emptive). Jangan menunggu air masuk ke dalam rumah, karena mobilitas lansia itu lambat. Apalagi jika menggunakan kursi roda atau alat bantu, segera bertindak. Dan tentu saja jangan ketinggalan perlengkapan alat bantu nya. Segera pindahkan lansia terlebih dulu ke lokasi-lokasi yang aman.
Amankan “Tas Siaga” khusus lansia, biasanya benda spesifik seperti obat rutin. Sediakan tas yang anti air agar obat tidak rusak. Juga sejumlah alat bantu seperti kacamata, alat bantu dengar dan benda lan yang setiap hari menjadi supporting lansia.
Lantas kalau banjir sudah terlanjur datang, bagaimana ? Monitor ini yang harus kita lakukan. Segera gendong lansia atau menuntun sebagai penyelamatan awal. Cegah hipotermia dengan segera mengganti baju basah dengan baju kering. Ingat tubuh lansia lebih rentan terhadap suhu dingin.
Cegah Infeksi, hindari luka terbuka terkena air banjir untuk mencegah leptospirosis atau infeksi kulit, karena pemulihan luka pada lansia lebih lambat. Jika memungkinkan pastikan lansia ini memakai sepatu boot, agar tidak terpeleset dan terkena benda tajam dalam air.
Tak kalah penting, jelaskan apa yang terjadi ke lansia agar tidak panik. Saat menjelaskan juga jangan panik, tenang, pelan pelan, sambil segera lakukan evakuasi. Setelah tiba di lokasi pengungsian, jangan tinggalkan lansia sendirian di tempat pengungsian yang ramai dan bising, karena hal ini dapat memicu disorientasi.