Fenomena lansia yang tidak mau ditinggal sendirian oleh caregiver mereka adalah situasi yang umum terjadi dan seringkali disalahpahami sebagai sikap "manja." Padahal, menurut para ahli perawatan, ini adalah indikasi kuat akan kebutuhan emosional dan rasa aman yang mendalam pada lansia.
Bagi caregiver, kuncinya adalah memahami akar masalah dan mengelola ketergantungan ini dengan cara yang aman dan bertahap, bukan sekadar menuruti atau menolak permintaan tersebut.
Bukan Sekadar "Cengeng," Ini Alarm Rasa Takut
Lansia yang enggan ditinggal biasanya didorong oleh beberapa faktor utama, di antaranya:
Rasa Takut: Kekhawatiran jatuh, pusing mendadak, atau trauma dari kejadian buruk di masa lalu saat sendirian.
Kecemasan Perpisahan (Separation Anxiety): Ketakutan akan ditinggalkan.
Penurunan Kognitif: Gejala demensia awal atau kehilangan rasa aman dan kontrol diri.
Oleh karena itu, perilaku ini harus dilihat sebagai alarm rasa takut, bukan sebagai tindakan yang menyebalkan.
Langkah Kritis: Hindari Pergi Diam-Diam
Kesalahan fatal yang harus dihindari oleh caregiver adalah pergi tanpa pamit. Tindakan ini berpotensi merusak rasa percaya, memicu kepanikan hingga agresi pada lansia, dan justru memperparah tingkat ketergantungan.
Caregiver diwajibkan untuk selalu memberikan informasi yang jelas saat akan meninggalkan ruangan. Contohnya: “Saya ke dapur sebentar, 3 menit ya. Saya akan segera kembali.”
Melatih Kemandirian Secara Bertahap
Proses melatih lansia agar mandiri harus dilakukan secara bertahap, dimulai dari durasi yang sangat singkat. Caregiver dapat memulai dengan:
1–2 menit: Ke kamar mandi.
3–5 menit: Mengambil minum.
10 menit: Melakukan panggilan telepon di luar.
Kunci keberhasilan adalah selalu menepati janji waktu kepulangan. Langkah ini bertujuan membangun rasa aman, kepercayaan, dan kemandirian ringan.
Menciptakan "Zona Aman" dan Pengganti Kehadiran
Sebelum beranjak, caregiver perlu memastikan lingkungan aman dan nyaman. Hal ini termasuk memastikan posisi duduk/tidur nyaman, lantai tidak licin, dan tombol bel atau telepon genggam mudah dijangkau. Ketersediaan minum dan camilan juga dapat membuat lansia merasa lingkungan terasa "hidup" dan lebih tenang.
Jika harus meninggalkan ruangan untuk waktu yang lebih lama, gunakan "pengganti aman" seperti telepon yang aktif, jam bicara dua arah, atau memastikan ada tetangga dekat yang siap dihubungi. Ini berfungsi sebagai jembatan transisi, bukan tindakan memanjakan.
Peran Keluarga dan Batasan Caregiver (Penting)
Komunikasi dengan keluarga menjadi wajib jika lansia menunjukkan tingkat kepanikan hebat—menangis atau marah berlebihan, tidak mau tidur sendirian, atau selalu mengikuti caregiver.
Penting untuk diingat, caregiver tidak diwajibkan untuk selalu melekat 24 jam. Mereka berhak dan perlu menyampaikan batasan secara lembut namun tegas, seperti: “Saya di sini, tapi saya juga perlu ke kamar mandi sebentar. Aman kok.”
Kapan Konsultasi Profesional Diperlukan?
Keluarga disarankan untuk mencari bantuan profesional jika kondisi lansia menunjukkan tanda-tanda:
Kepanikan berlebihan yang sulit ditenangkan.
Ketergantungan yang semakin berat.
Disertai dengan lupa berat, halusinasi, atau kegelisahan di malam hari.
Tujuan utama caregiver adalah membuat lansia merasa aman, bahkan saat mereka sedang sendiri, bukan sekadar hadir secara fisik setiap saat.
Daftarkan diri Anda di Pelatihan Caregiver di sini Bit.ly/DaftarKELASCG2026