Geriatri.id - Komplotan pencuri bermodus menyamar menjadi petugas PLN dan PAM di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu, biasa mengincar rumah yang dihuni lansia. Peristiwa itu kian menguatkan bahwa lansia hidup sendiri sangat berisiko menjadi korban kejahatan.
Polisi menangkap empat tersangka pencuri rumah yang dihuni lansia berusia 92 tahun di daerah Kampung Bali pada Selasa (4/2/2020) lalu. Menurut polisi, para pencuri telah beroperasi selama empat tahun dan berkeliling ke berbagai wilayah di Jakarta dan sekitarnya untuk mencari target pencurian. Target mereka adalah rumah yang dihuni lansia sendiri sehingga tidak bisa melakukan perlawanan.
Lansia hidup sendiri memang bisa menjadi sasaran empuk kejahatan, meski pelaku kriminalitas bisa menyasar siapa saja. Berdasarkan Statistik Penduduk Lanjut Usia 2019 BPS, 1,1 persen lansia pernah menjadi korban kejahatan dalam setahun terakhir.
Laporan BPS menyebutkan, “Meskipun persentase tersebut terbilang kecil, namun seharusnya lansia perlu waspada terhadap kondisi lingkungan sekitarnya. Hal ini dikarenakan masih adanya kemungkinan bahwa lansia menjadi korban dalam suatu tindak kejahatan.”
Persentase lansia yang menjadi korban kejahatan di perkotaan lebih tinggi daripada lansia di perdesaan (1,25 persen berbanding 0,93 persen). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat keamanan di perkotaan maupun di perdesaan tidak jauh berbeda bagi lansia. Jika dilihat dari jenis kelamin, persentase lansia laki-laki yang mengalami tindak kejahatan selama setahun terakhir lebih tinggi dibandingkan lansia perempuan (1,40 persen berbanding 0,83 persen).
Jenis kejahatan yang paling sering dialami oleh lansia adalah pencurian sebesar 89,52 persen. Selain pencurian, jenis kejahatan lainnya yang pernah dialami yaitu penganiayaan, pencurian dengan kekerasan, pelecehan seksual, serta kejahatan lainnya.
Risiko lansia menjadi korban kejahatan kian tinggi ketika tinggal sendiri. Di Indonesia, lansia lebih banyak hidup bersama keluarga, bahkan sampai tiga generasi. Berdasarkan Statistik Penduduk Lanjut Usia 2019 BPS, kebanyakan lansia tinggal serumah bersama tiga generasi (40,64 persen), bersama keluarga (27,3 persen), dan bersama pasangan (20,03 persen).
Lansia hidup sendiri hanya 9,38 persen, di mana persentase lansia perempuan yang tinggal sendiri hampir tiga kali lipat dari lansia laki-laki (13,39 persen berbanding 4,98 persen). Jika dilihat berdasarkan tipe daerah, persentase lansia di perdesaan yang tinggal sendiri lebih tinggi dibandingkan lansia di perkotaan (10,10 persen berbanding 8,74 persen).
Menurut WHO (1977) lansia yang tinggal sendiri digambarkan sebagai kelompok yang berisiko dan membutuhkan perhatian khusus.
“Dibutuhkan perhatian yang cukup tinggi dari seluruh elemen masyarakat terkait hal ini, karena lansia yang tinggal sendiri membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitar mereka mengingat hidup mereka lebih berisiko, terlebih pada lansia perempuan yang cenderung termarginalkan,” demikian laporan BPS.***(ymr)