Kembali
×
Solusi & Dukungan Emosional yang Minim bagi Caregiver di Indonesia
10 Januari 2026 08:00 WIB

Solusi paling realistis untuk kondisi caregiver di Indonesia—mulai dari yang bisa dilakukan keluarga sendiri sampai solusi tingkat pemerintah.

1. Bagi Peran Secara Jelas

Jangan hanya satu orang memikul beban. Bagilah tugas seperti bagian mandi, obat dan jadwal dokter, belanja dan keuangan, serta telepon atau video call rutin kepada anggota keluarga atau kerabat lain. Caregiver utama tidak boleh bekerja sendirian.

2. Jadwalkan “hari libur caregiver”

Minimal 1–2 jam dalam sehari atau 1 hari dalam seminggu. Gunakan tetangga atau kerabat untuk menemani, jasa pendamping harian (2–3 jam), atau day care lansia (jika ada di kota). Tanpa istirahat, burnout pasti muncul.

3. Sediakan ruang curhat internal

Bisa berupa grup WhatsApp keluarga khusus caregiving, sesi keluarga per 2 minggu untuk evaluasi, atau ruang bagi caregiver untuk menyampaikan stres tanpa dihakimi. Ini sangat menurunkan emosi terpendam.

4. Pelatihan Dasar (Gratis) via YouTube atau Webinar

Karena Indonesia belum punya sistem pelatihan formal untuk keluarga, gunakan sumber terpercaya untuk video teknik angkat dan mobilisasi, cara rawat lansia stroke, cara menghadapi demensia, atau cara cegah luka tekan. Belajar 15 menit per hari sudah sangat membantu.

5. Gunakan alat bantu agar kerja lebih ringan

Penggunaan alat bantu seperti kursi roda ringan, alat bantu jalan, bed rail, matras antidekubitus, toilet safety bar, dan kursi mandi bukan kemewahan—ini menghindari cedera caregiver dan lansia. Teknologi sederhana menjaga energi caregiver.

 

B. Solusi untuk Masyarakat / Komunitas

Solusi ini bisa dilakukan bersama lingkungan rumah:

1. Komunitas Pendamping Lansia di RT/RW

Bisa berupa relawan kunjungan rumah 1–2 jam, antar-jemput lansia, atau menemani aktivitas ringan. Konsep ini sudah berjalan di Jepang dan Singapura.

2. Support Group Caregiver

Minimal 5–10 caregiver berkumpul 1–2 minggu sekali untuk curhat, saling tukar pengalaman, belajar teknik merawat, dan mengurangi rasa “sendirian”. Ini sangat mengurangi stres emosional.

 

C. Solusi untuk Lembaga Kesehatan (Puskesmas/RS)

Sangat realistis dilakukan bila puskesmas/RS setempat terbuka:

1. Pelatihan singkat untuk keluarga

Puskesmas dapat membuat sesi 1 jam perihal demensia, 1 jam teknik memandikan lansia, atau 1 jam manajemen obat. Banyak puskesmas sebenarnya mau, hanya belum ada permintaan.

2. Konsultasi keperawatan home visit

RS atau klinik bisa menyediakan perawat datang 1–2 jam untuk evaluasi posisi tidur, nutrisi, risiko jatuh, dan edukasi keluarga. Ini sangat membantu caregiver baru.

 

D. Solusi Jangka Menengah–Panjang untuk Pemerintah

Kalau bicara sistem nasional, ini yang paling ideal:

1. Program Pelatihan Nasional Caregiver Keluarga

Program ini bisa berupa modul sederhana, pelatihan di puskesmas, sertifikat, dan materi gratis. Model ini sudah ada di Singapura (“Caregiver Training Grant”).

2. Layanan Respite Care

Layanan ini berupa tempat menitipkan lansia 1–7 hari agar caregiver bisa istirahat sementara lansia tetap aman. Saat ini di Indonesia hampir tidak ada, tapi sangat dibutuhkan.

3. Day Care Lansia (Panti Teman Sehari)

Lansia bisa melakukan aktivitas dari pagi ke sore, seperti senam, makan, dan interaksi sosial. Caregiver bisa bekerja atau istirahat.

4. Akses layanan psikolog khusus caregiver

Bisa berupa hotline, sesi konseling murah, atau telekonseling. Karena caregiver burnout itu nyata dan sering berat.

5. Kebijakan tenaga perawat geriatri & caregiver profesional

Perlu adanya standarisasi kompetensi, perlindungan kerja, dan sertifikasi wajib dengan kualitas jelas. Ini memastikan kualitas perawatan merata.

Artikel Lainnya
Artikel
02 Februari 2026 10:09 WIB
Artikel
02 Februari 2026 07:10 WIB
Artikel
31 Januari 2026 08:23 WIB
Tags
Geriatri
Lansia Indonesia
Geriatri Sehat
Menua Bahagia
Caregiver